
Lintang terbangun di tengah malam karena mendengar suara-suara aneh. Ada suara seperti bunyi decitan kayu, lalu daun jendela yang tebuka perlahan. Lintang menutup telinganya. Apa dia mendengar suara hantu? Pasti hanya halusinasi! Pasti hanya halusinasi! Lintang berteriak pada diri sendiri dan tak berani membuka mata.
Namun suara itu terdengar semakin nyata. Sekarang terdengar suara langkah kaki yang seperti berjalan mengendap-ngendap di dalam kamar Lintang.
"Nenek lampir brengsek! Pintunya sengaja dikunci supaya aku gak bisa masuk, untung saja jendela kamar ini gak terkunci." Setan itu pun berbisik lirih.
Lintang memejamkan matanya makin ketakutan. Setan itu tampak menggerutu tetang musuh bebuyutannya, nenek lampir. Jangan-jangan di rumah ini juga ada nenek lampirnya. Gawat! Padahal Lintang sudah bahagia sekali tinggal di sini tadi.
"Awas saja kamu, Nenek lampir! Besok pagi kutukar blash on mu dengan kuas cat air nya Si Cebol, biar tahu rasa kau!"
Lintang makin merinding. Astaga, sepertinya setan ini sangat mendendam dendam pada Mak Lampir sampai mau mengerjainya dengan menukar blas on-nya dengan kuas cat air Si Cebol. Sungguh kejam! Si Cebol itu pasti Tuyul, kan?
Lintang diam sejenak dan berpikir, ternyata mak lampir gaul juga pakai blash on, dan tuyul lumayan kreatif bisa pakai cat air. Tapi kok setan satu ini rada aneh ya, dia marah-marah karena Mak Lampir mengunci pintu tapi bersyukur karena jendela kamar Lintang gak dikunci.
Lintang memang lupa menguncinya tadi malam tapi bukan itu yang aneh. Kalau dia beneran hantu kok pakai lewat pintu dan jendela segala, makhluk astral mestinya bisa nembus, kan? Jangan-jangan....
__ADS_1
Lintang pun membuka matanya dia melihat seseorang tengah lewat di depan ranjangnya dalam kegelapan. Bukan hantu! Lintang yakin kakinya menapak tanah, Lintang pun bangkit.
Orang berjalan dalam kegelapan itu terkejut karena tiba-tiba melihat sesosok wanita berbaju putih yang bangun dari ranjang di kamar yang seharusnya kosong.
"UAA HANTU!" teriak cowok itu ketakutan.
"MMAALLIING!" jerit Lintang dengan suara yang lebih melengking. Suaranya membangunkan semua orang. Langit dan Awan berlari dengan tergesa-gesa menuju kamar Lintang.
"Lintang ada apa?" tanya Langit cemas.
Langit dan Awan segera bekerja sama mendobrak pintu hingga terbuka.
"Mana malingnya?" tanya Awan.
Di tengah kegelapan mereka melihat dua sosok dengan samar-samar. Sosok pertama seorang gadis berbaju putih yang terduduk di ranjang dan sosok lainnya seorang pemuda yang berjalan mengendap di depannya. Keduanya langsung menyerbu si pemuda dan menghajarnya habis-habisan di tengah kegelapan yang pekat.
__ADS_1
"Hei tunggu, dengar dulu, aku bukan maling!" Pemuda itu mengelak.
"Kalau ada Maling ngaku Maling, penjara bakal penuh!" kata Awan sambil tak berhenti menghajar si pemuda, begitu pula dengan Langit.
Lintang hanya duduk di atas tempat tidurnya tak berani bergerak saking takutnya. Dia hanya melihat siluet tiga orang manusia yang berkelahi dengan hebohnya dan suara-suara gaduh.
Lalu lampu menyala dan menyinari kamar Lintang yang gelap dengan cahaya yang terang membuat silau mata Lintang. Surya berdiri di ambang pintu sambil mengucek-ngucek matanya. Chandra menangis keras di gendongannya.
"Ada apa sih ribut-ribut? Chandra jadi bangun nih!" protes Surya kesal pada empat makhluk yang ada di hadapannya itu.
"Ada Maling!" jawab Awan.
"Hah? Maling? Mana?" Surya langsung pasang kuda-kuda bak pendekar dari Gunung Kidul.
"Ini dia!" Langit mengangkat pemuda bermuka bonyok yang ada tepat di bawahnya. Langit diam sebentar saat melihat wajah pemuda itu, meski muka pemuda itu sudah bonyok namun Langit mengenalinya. "Gu-guntur?" pekik Langit.
__ADS_1