
Tak terasa waktu berlalu cepat hingga sudah jam sembilan malam. Lintang merasa senang sekali karena hari itu dia bisa belajar hal-hal baru tentang kopi yang dulu sering dia lihat di drama Korea tentang barista.
"Ternyata bekerja di sini lumayan menyenangkan," ucap Lintang sembari mengganti bajunya dengan seragam sekolah.
Vina yang berdiri di sebelah hanya terdiam lalu membuka lokernya.
"Lintang, sejak kapan kamu jadi seakrab itu sama Kak Guntur?" tegur Vina.
"Eh, memangnya kami kelihatan akrab ya?" Lintang malah balik bertanya. Gadis itu mengembangkan senyuman manis. Syukurlah jika hubungannya dengan sang kakak terlihat harmonis. Sepertinya Guntur memang menjadi lebih ramah sejak kembali pulang setelah kabur dari rumah.
"Yah, yang jelas dia bilang, dia nggak benci aku," kata Lintang.
"Bagus," ucap Vina dengan senyuman yang dibuat-buat. "Kalau begitu kamu bisa kan, bantuin supaya aku juga bisa lebih dekat dengan kakakmu?"
Lintang tertegun dan memandangi Vina. Senyuman gadis itu tampak memudar. "Ng ... aku minta maaf Vina, sepertinya aku nggak bisa."
Mata Vina membelalak. "Kenapa?"
"Kak Guntur, tidak terlalu suka berinteraksi dengan orang, terutama lawan jenis. Kami hubungan kami juga baru saja mulai membaik jadi...."
"Kamu mau memonopolinya sendirian? Kamu suka kan sama Kak Guntur!" potong Vina.
__ADS_1
Lintang terperanjat. "Vina, bagiku Kak Guntur itu Kakak yang berharga. Aku nggak pernah memandang dia seperti itu."
"Omong kosong!" sentak Vina tiba-tiba.
Lintang terkesiap melihat tatapan mata Vina yang menyala penuh amarah. Baru pertama kali dia melihat raut wajah sahabatnya itu jadi seseram itu. Tiga ketukan terdengar dari luar ruang ganti wanita.
"Lintang." Suara Guntur memanggil. "Masih lama?"
"Ah, iya Kak, tunggu sebentar."
Lintang buru-buru mengambil tasnya. Vina melakukan hal yang sama. Ketika mereka membuka pintu, Guntur berdiri sembari bersedekap dan bersadar pada tembok.
"Maaf Kak, aku mau bicara sebentar dengan Vina?" pinta Lintang.
Lintang menatap Vina. Sahabatnya itu hanya diam sembari mengeratkan pegangan pada tas selempangnya.
"Ayo," kata Guntur sembari menarik tangan Lintang dengan paksa.
"Eh, tunggu Vina, kamu pulangnya gimana?" tanya Lintang.
"Pulang aja duluan, nanti aku bisa pesan gojek," ucap Vina sembari tersenyum dan melambaikan tangan.
__ADS_1
Lintang masih merasa tak nyaman, tetapi Guntur menyeretnya dengan paksa. Maka Lintang hanya mengikuti kakaknya itu tanpa bisa berkomentar.
***
"Cara buat kopi karamel itu gampang dan kamu pasti suka karena rasanya manis," terang Guntur.
Malam itu setelah pulang kerja sambilan Lintang dan Guntur bereksperimen di dapur. Guntur menepati janjinya untuk membuatkan Lintang kopi karamel. Langit dan Awan pulang sangat larut selama sepekan ini. Mereka tengah mempersiapkan event fashion week yang biasa diadakan dua kali dalam setahun di Dhanuswara Trade Center. Kakek dan Chan-chan selalu tewas setelah isya. Karena itulah dua bocah SMA itu bisa bebas walaupun pulang malam.
"Rebus gula dan aduk sampai warnanya kecoklatan begini."
Guntur mengaduk-aduk air rebusan gula yang mendidih lalu mematikannya. Dia mengambil secangkir kopi yang sudah diseduh kemudian menuangkan air rebusan gula tadi diatasnya lalu menambahkan whipped cream spray di atasnya.
"Nih, sudah jadi," ucap Guntur.
Lintang menyesap kopi karamel itu. Rasanya manis dan gurih. "Enak! Aku suka kopi ini! Kakak mau?"
Lintang menyodorkan kopi itu pada Guntur, tapi cowok itu menggeleng pelan. "Aku nggak suka makanan manis," tolaknya.
"Ya ampun, padahal hidupmu sudah pahit," olok Lintang.
"Nggak apa, karena wajahku manis."
__ADS_1
Lintang terkekeh. Ternyata Guntur bisa melucu juga.