Fake Family (END)

Fake Family (END)
Episode 64


__ADS_3

"Aku merasa kamu tidak nyaman berada di sini. Saat semuanya berkumpul kamu pasti memilih menyendiri. Kamu selalu pulang malam mungkin karena tidak ingin berhubungan dengan kami. Aku ... tidak ingin terus memaksamu untuk berada di tempat yang tidak kamu sukai, karena itu jika kamu ingin pergi, pergilah," ucap Langit.


Guntur mengalihkan tatapannya pada rumput-rumput di halaman belakang rumah.


"Aku sudah terbiasa," ucapnya.


"Aku sudah terbiasa dengan rumah ini. Tingkahmu yang selalu heboh. Chandra yang manja dan berisik. Kakek yang sok bijak, Awan yang cerewet juga Lintang ... aku sudah terbiasa dengan semuanya."


Guntur menarik napas panjang kemudian melanjutkan kalimatnya. "Karena itu aku memutuskan, aku ... tidak akan pergi. Akan kulanjutkan permainan ini sampai selesai."


Guntur menoleh ke arah Langit dan tertegun melihat mata pria itu yang berkaca-kaca. Langit langsung memeluk Guntur dengan erat sebelum Guntur sempat menghindar.


"Apa-apaan kamu, lepaskan! Hei!" Guntur meronta-ronta dengan keras tapi Awan malah memeluknya semakin erat.


"Kamu sudah tambah dewasa Guntur, ayah senang sekali! Ayah hadiahi ciuman yah."


Langit pun memaksa mencium pipi Guntur. Guntur berteriak-teriak dan meronta. Setelah mengerahkan seluruh tenaganya akhirnya Guntur berhasil melepaskan diri dari Langit dia lalu berlari kabur sementara Langit mengejarnya.


"Tunggu Putraku sayang!"


Di dalam rumah, tanpa sepengetahuan Guntur dan Langit rupanya seluruh keluarga Langit yaitu Awan, Surya, Lintang dan Chandra menyaksikan adegan mesra mereka sambil cekikian.


"Dasar Ayah mesum," olok Lintang sambil geleng-geleng kepala.


Awan dan Surya tertawa mendengarnya.


"Guntur sudah berubah," kata Surya.


Lintang dan Awan menoleh ke arah Kakek tua itu. Surya tersenyum dan melanjutkan kalimatnya.


"Selama ini dia mengalami trauma yang mendalam. Jika mendengar kata keluarga dia akan teringat pada ayahnya yang kejam itu, tapi sekarang dia mulai membuka hatinya dan menerima keberadaan kita. Dia sudah menjadi lebih dewasa," lanjut Surya sambil tersenyum.

__ADS_1


"Ya ... dia memang banyak berubah." Awan mengangguk setuju.


"Jadi sebaiknya Tante jangan membencinya lagi," tutur Lintang.


Awan melotot mendengar nasihat Lintang. "Aku tidak pernah bilang membencinya kok! Aku hanya bilang mau menghajarnya saja." Awan membela diri sambil buang muka. Lintang dan Surya tersenyum melihat tingkah malu-malu Awan itu.


"Chan-chan juga sudah dewasa, tadi waktu diukul di sekolah tinggi Chan-chan naik dua sentimeter!" pamer Chandra tak mau kalah sambil mengacungkan tangan kanannya ke udara. Awan, Lintang dan Surya tergelak mendengarnya.


Sementara itu, di halaman belakang Guntur yang masih dikejar-kejar oleh Langit akhirnya masuk ke dalam rumah dan bertabrakan dengan Awan. Langit yang mengejarnya di belakang pun langsung berteriak.


"Pegangi dia, Wan! Jangan sampai lepas!"


Awan mengunci tubuh Guntur dengan sekuat tenaga. Guntur panik berusaha melepaskan diri sementara Langit semakin mendekat dengan bibir yang sudah moyong ke arahnya.


"Tidak! Hentikan! Lepaskan! Jangan!" Guntur berteriak dengan pilu sementara anggota keluarga yang lain tertawa terbahak-bahak. Hanya Chandra satu-satunya anggota keluarga yang tidak tertawa, dia malah cemberut karena cemburu.


"Chan-chan juga mau dicium!"


Lintang diam di kelas sambil memandangi fotokopi kartu keluarga yang ada di dalam tasnya dan terkejut.


"Ya Ampun!" kata Lintang.


Vina teman sebangku Lintang pun menoleh ke arah Lintang dengan bingung karena suara-suara aneh yang dihasilkan Lintang itu.


"Ada apa?" tanya Vina.


"Sebentar lagi ulang tahunnya," kata Lintang.


"Ulang tahun siapa?"


"Ayah angkatku, lihat ini."

__ADS_1


Lintang menunjukan kartu keluarganya pada Vina. Di kartu keluarga itu tertulis tanggal lahir seluruh anggota keluarga dan tentu saja Langit yang lahir tanggal sepuluh Oktober.


"Wah iya, tinggal sepuluh hari lagi ya," kata Vina.


"Waduh, gimana ya? Enaknya aku ngasih kado apa ya?"


Vina mengamati ekspresi kebingungan teman sebangkunya itu dengan penuh tanya.


"Kalau pake uang sakuku sendiri nggak seru ya. Itu kan juga uangnya dia sama saja aku mengembalikan uang pemberiannya."


"Memangnya kamu bisa cari uang sendiri?" tanya Vina.


Lintang menepuk tangannya. Dia lalu sibuk membongkar tasnya lalu menunjukan sebuah kartu nama pada Vina.


"Aku bisa kerja sambilan di sini nih, kemaren kan aku sempat ditawari juga," ucapnya riang.


Vina membaca kartu nama itu dan ikut tertarik.


"Ini Manajer cafe C yang terkenal itu yah, kok kamu bisa kenal?" tanya Vina.


"Kak Guntur kerja di sana, kemaren aku ditraktir makan di sana."


"He? Kamu ditraktir makan Kak Guntur? Memangnya sejak kapan kalian jadi seakrab itu?" tegur Vina terkejut.


Lintang hanya cengar-cengir.


"Ya, sebenarnya aku juga kaget. Aku nggak tahu sejak kapan sih, tapi rasanya memang kami mulai sedikit akrab sekarang."


"Kalau begitu aku ikut yah!" kata Vina langsung antusias.


"Eh? Memangnya kamu boleh kerja sambilan sama orang tuamu?" tegur Lintang.

__ADS_1


"Ah, itu urusan gampang, ayo pulang sekolah kita ke sana ya," ucap Vina dengan mata berbinar-binar.


__ADS_2