Fake Family (END)

Fake Family (END)
Episode 79


__ADS_3

"Sejak kapan kalian kerja di sana?" tanya Langit.


Nada suaranya terdengar dingin. Dia tetap memandang lalu lintas di depannya dengan wajah datar. Lintang yang duduk di sampingnya terdiam. Sepertinya Langit marah. Baru pertama kali dia melihat ekspresi Langit seperti ini. Biasanya orang itu selalu tersenyum jenaka, tapi saat ini sama sekali tak ada senyuman di wajahnya.


"Baru saja, dua minggu ini," jawab Lintang.


Langit melirik Guntur yang duduk di jok belakang. Cowok itu berlagak tak acuh sambil memandang ke luar jendela. Karena pemuda itu tak juga menjawab, dia memangil namanya.


"Guntur?"


"Setahun," ucap Guntur akhirnya.


Langit mengigit bibir bawahnya. Pria itu tampak tidak senang. "Kamu bilang kamu sering pulang malam karena kerja sambilan. Jadi selama ini kamu kerja di sana?"


Guntur menaikkan alisnya lalu menjawab dengan singkat. "Ya."


"Berhentilah. Jangan kerja di sana lagi," kata Langit.


Lintang terdiam. Yah, dia kontrak kerja dia memang sudah habis sih. Dia juga sengaja tidak memperpanjang. Besok adalah hari terakhirnya bekerja. Tapi apa yang membuat ekspresi Langit jadi waspada seperti ini? Terlebih dia mengenal Chef Sarah dan Manajer Dennis. Sebenarnya apa hubungan mereka? Lintang ingin menanyakan hal itu, tapi rasanya saat ini sama sekali bukan saat yang tepat. Maka gadis itu pun menahan diri. Dengan lirih dia mengiyakan titah dari ayahnya.

__ADS_1


"Ya, baik."


Langit melirik spion. Lagi-lagi Guntur hanya diam sembari berpangku tangan.


"Guntur!" panggilannya dengan nada yang naik satu oktaf.


"Kenapa?" Pemuda yang dipanggil namanya itu malah balik bertanya.


"Kenapa aku harus berhenti?"


Langit menghela napas. Dia terlihat lelah dan enggan berdebat, tetapi Guntur jelas menantangnya. "Untuk apa kamu kerja sambilan? Kalau uang jajanmu kurang, aku bisa menambahkan. Kamu tidak perlu kerja sambilan lagi."


"Guntur, sudah sewajarnya seorang anak bergantung pada ayahnya," dalih Langit.


Guntur tertawa dengan nada sumbang. "Aku tidak akan berhenti. Tidak ada alasan bagiku untuk berhenti!"


"GUNTUR!"


Lintang terlonjak kaget. Baru kali ini Langit membentak sekeras itu. Mata pria itu melotot dengan tajam. Dia akhirnya membelokkan mobil ke tepi jalan. Menyetir dalam keadaan emosi seperti ini cukup membahayakan. Pria itu menoleh ke jok belakang sudah siap adu mulut lagi dengan putra sulungnya.

__ADS_1


"Katamu kita ini keluarga!" Guntur balas membentak.


"Bukankah seharusnya tidak ada rahasia di antara kita? Kamu menyuruh kami bergantung padamu, tapi kamu sendiri tidak pernah memercayai kami!"


Raut wajah Langit berangsur berubah mendengar protes dari Guntur. Amarahnya mereda. Dia menyandarkan kepalanya pada jok dan mengembuskan napas berat.


"Maaf," lirih Langit. "Aku sudah bertekad mengubur masa laluku dan melupakan semuanya. Aku tidak bermaksud menyembunyikan apa pun dari kalian."


"Chef Sarah dan Manajer Dennis, bagaimana kamu bisa mengenal mereka?" kejar Guntur.


"Dennis adalah sahabatku sejak SMA. Sarah adalah...." Langit berhenti sejenak lalu menyisir rambutnya ke belakang dengan frustrasi.


"Mantan istriku," lanjutnya.


Lintang terperangah. Mantan istri? Ternyata Langit sudah pernah menikah. Wajar saja sih. Cowok itu tampan dan kaya. Justru aneh kalau belum pernah menikah. Tapi kenapa mereka berpisah?


Lintang tercengung mengingat obrolan Langit dengan Chef Sarah dan Manajer Dennis. Tentang pernikahan mereka dan juga bayi. Apakah Chef Sarah dan Manajer Dennis berselingkuh? Apa karena itu mereka bercerai? Langit selalu bilang dia tak ingin menikah karena menganggap ikatan suami-istri itu lemah jika dibandingkan denhan ikatan saudara dan anak. Apakah penyebab dari sikap Langit yang ajaib itu adalah perpisahannya dengan Chef Sarah?


***

__ADS_1


__ADS_2