Fake Family (END)

Fake Family (END)
Episode 88


__ADS_3

Langit memarkir mobil di garasi rumah. Dia melirik kondisi rumahnya yang terlihat aneh. Semuanya gelap gulita. Tak ada satu pun lampu yang menyala. Ke mana keluarganya? Langit turun dari mobil. Dia memegangi dadanya sembari berjalan menuju pintu rumah. Perasaannya tidak enak. Dia jadi teringat akan kejadian berapa tahun lalu. Ketika dia hidup sendiri lampu rumah yang mati total seperti ini biasa dia temui.


Tidak! Itu sudah berlalu. Sekarang dia punya keluarga. Mungkin mereka hanya sedang pergi keluar sebentar. Mereka pasti akan kembali. Namun semakin mendekati pintu dadanya terasa semakin sesak. Dia merasa susah sekali bernapas. Langit merogoh sakunya mencari  sesuatu yang bisa digunakan untuk menutup mulutnya.


Sapu tangan yang dia tempelkan pada hidung dan mulutnya membuat Langit membuat napasnya tidak lagi memburu. Namun jantungnya masih berdebar amat kencang. Langit merogoh saku dan menemukan kunci pintu. Dengan benda itu dia berhasil membuka pintu.


"Surprise!" Suara teriakan dan lampu menyala. Langit tertegun ketika melihat keluarganya yang muncul dengan kue tart dan ornamen pesta.


"Selamat ulang tahun!" seru mereka kompak.


Langit tak dapat menjawab. Dia hanya tersenyum lemah. Tenaganya seketika habis dan dia jatuh di muka pintu.


"Langit!" seru Awan. Buru-buru dia menopang saudaranya itu agar tidak terjerembab ke lantai. Guntur dan Surya pun segera membantunya, diikuti Chandra da Lintang yang tampak cemas.


"Ayah kenapa?" tanya Chan-chan kecil khawatir.


"Bawa dia ke ruang tengah dulu!" titah Surya.


Awan dan Guntur bahu-membahu membopong Langit ke ruang tengah. Mereka membaringkan pria itu di sofa. Lintang melepaskan sepatu dan kaos kakinya. Sementara Surya membuka kerah baju Langit.


"Kakinya dingin sekali!" seru Lintang panik.


"Kasih ini."

__ADS_1


Surya menyerahkan botol minyak kayu putih pada Lintang. Cewek itu menerimanya dan segera mengoleskannya pada kaki Langit yang sedingin es. Surya juga mengambil beberapa dan menggosokannya pada tangan dan tubuh Langit. Awan mengambil sapu tangan dan membersihkan keringat yang membanjir di dahi Langit. Guntur memandangi Langit sejenak dengan gamang. Dia mengambil kantong keresek terdekat dan membekap mulut dan hidung Langit dengan benda itu.


"Hei!" Awan membentak melihat perilaku Guntur. Namun melihat kondisi Langit yang justru membaik membuat amarahnya reda. Langit dapat bernapas dengan baik dengan menggunakan kantong plastik itu. Tak beberapa lama, Langit tampaknya sudah sadar. Pria itu menatap sekeliling dengan kebingungan.


"Kamu kenapa, Langit?" tanya Surya.


Langit memegangi dadanya. Napasnya sudah kembali normal begitu pula jantungnya. "Aku nggak apa-apa," senyumnya.


"Jangan bohong! Nggak mungkin kamu pingsan begini kalau nggak ada apa-apa!" sentak Awan.


"Apa itu hiperventilasi?" tanya Guntur sembari mengigit bibirnya. Karena dia juga pernah mengalami hal serupa jadi dia sedikit mengenali tanda dan gejala pada Langit.


Lintang yang mendengar penuturan Guntur tercengung. Hiperventilasi? Dia jadi ingat kejadian  ketika dirinya dan Guntur terkunci di dalam lift. Saat itu menurut dokter Guntur mengalami hiperventilasi karena claustrophobia. Kondisinya memang mirip dengan apa yang baru saja di alami Langit.


"Apanya yang memalukan! Kalau kamu sakit beritahu kami!" amuk Awan.


"Aku punya autophobia, rasa takut saat aku sendirian."


Ucapan Langit itu seketika membuat anggota keluarga terdiam. Langit selama ini terlihat sangat sehat. Tak ada yang menyangka bahwa dia punya penyakit semacam itu.


"Hei, kamu kan bukan anak kecil. Umurmu itu sudah tiga puluh tahun. Masa takut sendirian," komentar Awan.


"Makanya, aku bilang ini memalukan!" erang Langit sembari menyembunyikan wajahnya.

__ADS_1


"Kenapa kamu bisa tiba-tiba kambuh?" tanya Surya.


"Waktu aku datang tadi, aku lihat semua lampu mati."


Keluarga Langit tertegun, terutama Awan. Mematikan lampu agar membuat seolah rumah mereka kosong adalah idenya. Dia tidak mengira Langit ketakutan sampai hiperventilasi karena hal itu. Seberapa parah fobia yang dimiliki lelaki itu sampai dia panik hanya karena melihat kondisi rumah yang gelap?


 Lintang menyentuh tangan Langit yang menutupi wajah lelaki itu. Langit awalnya terkejut tapi dia diam saja. Dadanya terasa hangat ketika jemari Lintang menggenggam tangannya.


"Jangan takut, kamu tidak sendirian lagi. Ada kami di sini," ucap Lintang.


Chan-chan mendekat dan memeluk kaki Langit. "Ayah jangan sakit!" serunya.


"Hei, selamat ulang tahun ya," kata Awan.


"Selamat," ucap Guntur ragu-ragu. Dia tampaknya hendak menambahkan kata-kata lain tapi nggak jadi.


"Happy birthday, Langit!" seru Surya sembari meniup terompet yang sejak tadi dia bawa.


"Selamat ulang tahun, Ayah!" seru Chan-chan ceria.


"Selamat ulang tahun, Langit," senyum Lintang. "Terima kasih karena telah terlahir di hari ini tiga puluh tahun yang lalu."


Langit tercengung. Air matanya tahu-tahu luruh begitu saja. Dia menutupi wajahnya dengan tangan kanannya yang bebas. Kini dia, tidak sendirian lagi.

__ADS_1


***


__ADS_2