Fake Family (END)

Fake Family (END)
Episode 81


__ADS_3

Dennis termenung melihat amplop berwarna putih yang disodorkan oleh Guntur hari itu. Dia memandangi wajah anak buahnya itu yang selalu datar.


"Apa ini?" tanyanya.


"Surat pengunduran diri," jawab Guntur singkat.


Dennis menghela napas. "Kenapa kamu tiba-tiba begini? Karena ayahmu?"


"Aku tidak melakukan hal tidak disukai ayahku," dalih Guntur.


Dennis terdiam sejenak sembari mengetuk-ngetukan pena ke meja. "Lintang tidak memperpanjang kontrak, jika kamu keluar juga, kita akan kekurangan pegawai. Bisakah kamu tunggu sampai ada penggantimu?"


Guntur menggaruk tengkuknya. Bagaimana pun dia punya hutang budi pada tempat ini yang dulu mau mempekerjakannya tanpa kualifikasi. Rasanya dia seperti tidak tahu diri kalau keluar di saat tempat ini sedang kekurangan SDM. "Oke, semoga nggak sampai seminggu."


"Terima kasih atas pengertianmu, Guntur," senyum Dennis.


Guntur menatap Dennis. Dulu orang ini adalah salah orang yang dia hormati. Namun sejak tadi malam, pandangannya terhadapa manajernya itu berubah. "Kalau begitu saya permisi dulu, Manajer," pamitnya.


Begitu Guntur keluar dari ruangan manajer, dia berpapasan dengan Chef Sarah. Wanita itu tampak canggung dan menundukkan kepalanya.


"Guntur," sapanya lirih.


"Sore, Chef," balas Guntur sembari mengangguk.


"Anu ... Guntur, apa kamu itu memang anaknya Langit?"


"Benar," balas cowok itu.

__ADS_1


"Apakah kamu bisa mengundangnya untuk datang ke sini lagi?"


Guntur mengerutkan keningnya pertanda tidak suka. "Ayah cukup sibuk, tapi Chef bisa mengundangnya sendiri kalau mau. Saya permisi ke pantry dulu."


Cowok itu cepat-cepat menyingkir. Sepertinya memang dia lebih baik resign saja. Bertemu orang-orang yang berhubungan dengan ayahnya di sini membuatnya jadi kikuk.


Di ujung lorong di depan pantry, Vina berdiri dengan penasaran. Guntur berusaha mengabaikan cewek itu dan membuka lemari piring. Karena Guntur tidak bicara apa-apa, Vina juga tidak punya bahan pembicaraan. Gadis itu berjinjit untuk mengambil biji kopi yang diletakkan di rak paling atas. Karena kakinya pendek, Vina harus bersusah payah. Tiba-tiba saja dia menyenggol cangkir yang ada di sebelah biji kopi sehingga benda itu jatuh.


Mati!


Vina yang refleksnya lambat menutup mata sembari menunduk. Sudah pasti cangkir itu akan mengenainya. Namun setelah beberapa lama, tidak terjadi apa-apa, gadis itu membuka mata. Di terkejut mendapati cangkir tadi ditangkap oleh Guntur. Cowok itu meletakkan kembali benda itu pada tempatnya lalu mengambilkan biji kopi yang hendak diambil Vina.


Cewek itu tercengang sembari menerima pemberian cowok itu. Dia tidak percaya Guntur membantunya. Seketika jantungnya jadi berdebar.


"Maka--"


Emosi Vina langsung naik. Tapi sebelum dia sempat membantah, cowok itu sudah meninggalkan pantry.


"Brengsek...." Vina mengumpat lirih.


Sembari membawa biji kopi itu, dia menuju dapur. Vina bekerja membuat late art berbentuk hati untuk memenuhi permintaan pelanggan. Setelah hasil karyanya itu selesai, dia segera mengantarkannya ke meja tujuh. Dia menyapa pria yang duduk di sana dengan senyuman ramah. Pria itu adalah pelanggan tetap Kafe yang hampir setiap hari datang.


"Hai, Vina," sapa pria yang sudah cukup berumur itu sembari memandangi papan namanya.


"Apa aku boleh minta nomor hapemu?"


Vina tertegun. Baru kali ini ada pelanggan yang seperti ini. Dia memandangi si pelanggan yang nampaknya seumuran dengan ayahnya itu. Gimana nih? Kalau dia nggak ngasih apa orang ini bakal marah. Tapi kalau dikasih masak dia mau diPDKTin sama om-om kayak gini sih.

__ADS_1


"Vin, kamu dipanggil Pak Erlan!"


Vina terkejut mendengar seruan yang tiba-tiba dari Guntur yang berdiri di meja kasir. Namun dalam hatinya dia bersyukur juga karena jadi punya alasan untuk kabur.


"Maaf, saya permisi dulu."


Vina buru-buru menuju dapur dan menemui sang barista. Namun pria itu tampak bingung ketika Vina menyapanya.


"Pak Erlan manggil saya?"


"Hah? Nggak tuh."


"Tapi katanya Guntur, Pak Erlan manggil saya."


Erlan tertawa. "Mungkin kamu dikerjain sama dia."


Vina tercengung. Dia melirik Guntur yang kembali ke dapur untuk memberikan catatan pesanan. Dengan langkah cepat dia menghampiri cowok itu.


"Heh!" protes Vina pada cowok itu sembari berkacak pinggang.


"Pak Erlan nggak manggil aku! Ngapain kamu bohongin aku!" geramnya.


"Jadi kamu mau ngasih nomormu ke Om-om itu?" Guntur malah balik bertanya.


***


 

__ADS_1


 


__ADS_2