
Vina dan Alif mendengarkan seluruh cerita panjang dan lebar dari Lintang saat jam pelajaran terakhir yang kosong sore hari itu. Lintang memutuskan untuk mempercayai kedua teman sekelasnya itu dan menceritakan semua tentang dirinya dan keluarga palsunya dari awal sampai akhir. Vina dan Alif pun mendengarkan dengan antusias tanpa menyela sedikit pun.
"Jadi begitu ... ternyata," kata Alif.
"Kamu beruntung sekali, Lin, bisa main rumah-rumahan dengan orang-orang keren seperti itu," ucap Vina.
Vina dan Alif sudah bertemu dengan seluruh anggota keluarga Lintang yang keren, unik dan agak aneh.
"Kalau aku jadi kamu, aku akan menggunakan kesempatan untuk merayu Kak Guntur!" kata Vina penuh semangat.
Lintang hanya tersenyum kecut. "Aku nggak bikin dia marah saja sudah syukur banget. Kayaknya dia benci banget sama aku, tapi untungnya akhir-akhir ini hubunganku dengannya lumayan baik. Sejak peristiwa penculikan Chandra itu."
"Jangan hanya lumayan saja dong! Dorong dia sampai jatuh atau aku yang akan melakukannya!" tegas Vina.
Lintang kembali tertawa. "Nggak deh, lagian dia juga bukan tipeku. Aku lebih suka cowok yang ramah dan dewasa," tolak Lintang.
"Jangan-jangan tipemu seperti Ayah Langit ya, Lin," goda Alif.
"Ih, nggak banget! Orang yang hobi bohong seperti dia itu sama sekali bukan tipeku!" Lintang mengelak dengan berlebihan sehingga membuat teman-temannya makin curiga.
"Cowok yang dewasa jangan-jangan kamu naksir sama Kakekmu ya, Lin."
"Atau Tante Awan yang metroseksual."
"Kalian pikir aku cewek apaan!" Lintang membentak kedua sahabatnya itu dengan kesal. Mereka malah terbahak-bahak.
Bel tanda berbunyi membuyarkan perbincangan ketiga gadis itu. Lintang dan Vina sibuk membereskan buku-buku mereka yang berserakan di meja ke dalam tas. Alif kembali ke bangkunya untuk melakukan hal yang sama.
__ADS_1
***
Rian menggerutu dengan kesal, mahasiswa semester tiga fakultas teknik mesin itu menggendarai Avanzanya dengan malas. Hari sudah sore dan sebenarnya dia malas keluar, tapi ibunya menyuruhnya untuk menjemput adiknya tercinta yaitu Vina dari sekolahnya karena kebetulan sopir mereka sedang ambil cuti.
Padahal Rian tadi sedang asyik-asyiknya main game online. Kesenangannya jadi terinterupsi karena harus menjemput adik semata wayangnya yang menyebalkan itu. Rian memarkir mobilnya di depan pintu gerbang SMA A tempat adiknya bersekolah. Dengan menggerutu dia menyandarkan punggung di kursi dan menunggu kemunculan adiknya. Tak beberapa lama kemudian, munculah Vina dari pintu gerbang sekolah bersama dua orang. Cewek yang satu rambutnya di potong cepak seperti laki-laki dan dan yang satunya lagi punya rambut panjang sebahu.
Vina menyadari kehadiran mobil Rian yang terparkir di depan pintu gerbang sekolahnya. Dia menunjuk mobil itu pada dua temannya. Tiga dara itu menghampiri mobil berwarna silver itu.
Rian tertegun, matanya tak berkedip, mulutnya sedikit melongo. Rasa kesal yang tadi ada di dalam hatinya hilang dalam seketika entah ke mana. Ketukan tangan Vina di jendela membuyarkan lamunannya, Rian segera menurunkan kaca mobilnya.
"Tumben Kakak yang jemput?" tanya Vina.
"Eh.. iya, Pak Noh ambil cuti pulang kampung," kata Rian tergagap entah dari mana munculnya rasa canggung tersebut.
"Hm ... gitu."
Rian melirik kedua teman adiknya itu kemudian berkata "Ini temen-temenmu, Vin, Kakak nggak dikenalin nih?" tanya Rian.
Rian mengulurkan tangan dan memberikan senyumannya yang paling menawan kepada dua gadis dibhadapannya itu. Lintang dan Alif pun mau tak mau balas menjabat tangan Rian tersebut secara bergantian.
"Kalian mau pulang ke mana? Sekalian ikut saja nanti kuantar," tawar Rian.
"Makasih, Kak, tapi maaf kami juga lagi nunggu jemputan." Lintang menolak dengan halus.
"Oh gitu."
"Ya udah deh, teman-teman sampai besok ya, aku pulang dulu," pamit Vina pada dua temannya itu. Dia masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Mobil yang dikendarai Vina pun melaju meninggalkan Lintang dan Alif.
"Eh, kakaknya Vina lumayan gantenng juga ya," komentar Alif setelah mobil Vina berlalu.
Lintang hanya tersenyum menanggapi ucapan Alif itu. Tak beberapa lama kemudian mobil jemputan Alif datang. Lintang sendirian di depan gerbang sekolahnya. Lintang pindah duduk di pinggir trotoar karena sudah capek berdiri.
Jam sudah menunjukan hampir pukul tiga sore tapi belum tampak tanda-tanda kehadiran Langit. Tidak biasanya cowok terlambat begini menjemputnya. Ponsel Lintang bergetar dan ada satu whatsapp yang masuk, ternyata dari Langit.
Bintang q yg brsinar trang...
Maaf hari ini Dudy tdk bs menjemput,,
Dudy mendadak hrs rapat di Yogja,,
Km plng naik taxi sj y...
Tolong sampaikan jg ke org rmh
Dudy br plng bsk,,
Masih ada kari di kulkas bs buat mkn malam,
klo bosen, pesen pizza jg gpp
Muach 100x
Dri Ayahanda trcinta...
__ADS_1
Lintang memonyongkan bibir. Dia sudah menunggu hampir tiga puluh menit dan akhirnya malah menerima pesan seperti itu. Tahu begitu tadi dia terima saja ajakan Kakak Vina untuk mengantarkannya pulang.
"Dasar, kok nggak wa dari tadi sih!" umpat Lintang.