
Awan menyeka keringat dari dahinya. Lelah sekali seharian menjadi buruh angkut. Sejak ayahnya meninggal tahun lalu kini dialah yang menjadi tulang punggung keluarga. Awan bahkan sudah putus sekolah. Dia butuh uang demi menghidupi adiknya dan dirinya, sementara biaya sekolah sangat mahal.
Pemuda itu melewati sebuah taman. Dia tersenyum melihat adik perempuannya yang berumur lima tahun sedang bermain di sana dengan beberapa anak seusianya.
"Hei, pengemis!"
Awan terbelala mendengar ucapan salah seorang teman Aila, adiknya.
"Aku bukan pengemis!" elak Aila marah.
"Tapi bajumu lusuh dan lubang begitu, berarti kamu pengemis, kan?"
Aila meremas tangannya. Tampak bingung harus menjawab apa. Awan menggeram kesal. Buru-buru dia menghampiri anak-anak kecil itu. Dia menjitak si bocah tambun yang menghina adiknya sampai bocah itu menangis.
__ADS_1
"Hei, tengik! Aku tahu daster ibumu juga bolong! Berarti kamu juga pengemis, kan?" rong-rong Awan langsung ngegas.
"Kakak!" Aila tampak semringah saat melihat kehadiran kakaknya.
Awan tersenyum dan menggendong adiknya. Dia segera kabur sebelum orang tua dari bocah yang dipukulnya itu muncul. Mereka bergegas pulang ke rumah. Pekan lalu konsleting membuat rumah mereka terbakar habis. Baju-baju mereka tak ada yang tersisa. Karena itulah Aila tak pernah mengganti bajunya. Mata Awan berair. Kebakaran itu terjadi karena dia lupa mematikan kompor. Jika bukan karena dia Aila tak akan diejek seperti ini.
"Aila maafkan Kakak, besok ayo kita beli baju baru buat kamu," kata Awan.
Aila menggeleng. "Nggak usah, Kak, kita kan nggak punya uang," tolak Aila.
Maka esoknya Awan melihat-lihat baju bekas dipasar. Barangkali saja ada yang masih bagus kondisinya. Namun ternyata baju-baju itu kebanyakan untuk orang dewasa. Nggak ada yang seukuran dengan tubuh Aila.
"Seandainya aku bisa menjahit ya," keluh Awan.
__ADS_1
Awan mengambil sebuah baju dan melihat jahitannya. Hanya menyatukan kain menjadi beberapa bagian, kan? Sepertinya ini nggak terlalu sulit. Mungkin dia bisa belajar menjahit. Awan pergi ke toko buku bekas. Setelah mencari ditumpukan buku dia akhirnya mendapatkan buku tentang belajar menjahit. Hari itu dia rela tidak makan demi membeli buku itu.
Malam setelah bekerja seharian, dia membaca buku itu dan mempelajarinya. Dia membeli alat-alat jahit dan juga membeli baju bekas. Setelah satu bulan berlalu akhirnya dia berhasil juga menyelesaikan baju itu. Aila begitu senang mengenakan baju itu. Dia menari dan berlenggak-lenggok bak peragawati. Awan tersenyum kecil, dia ikut bahagia melihat adiknya gembira. Baju itulah awal mula dari kiprahnya di dunia fashion.
***
Lintang menghapus air di sudut matanya. Dia begitu terenyuh mendengarkan cerita Awan tentang sejarah baju yang hampir dia buang. Dia tak tahu bahwa baju itu menyimpan kenangan yang berharga bagi Awan.
Gadis itu melirik Guntur dan Langit. Langit sampai menghabiskan sekotak tisu untuk menghapus ingusnya. Dasar cowok melankolis, sementara Guntur tak berkata apa-apa, tetapi matanya memerah menahan tangis.
"Ini karya pertamaku, cuman dijahit pakai tangan tapi cukup kuat ya," ucap Awan bangga.
"Benda berharga, seperti itu harusnya disimpan baik-baik dong!" tegur Guntur.
__ADS_1
Awan tertawa dan memeluk baju mungil itu dengan penuh kasih. "Ya, terima kasih sudah menemukannya."
***