
Lintang berdiri di depan kelas dengan gugup. Semua mata memandangnya. Lintang tidak senang menjadi pusat perhaatian seperti ini, tapi mau bagaimana lagi karena dirinya adalah anak baru. Akhirnya dengan satu kalimat Lintang memperkenalkan dirinya. "Apa kabar semuanya, namaku Lintang Nurmawati, panggil saja Lintang."
"Mulai hari ini dia akan bergabung dengan kelas kita," terang Bu Susi wali kelas Lintang menerangkan pada seluruh anggota kelas X IPA 5.
"Dia terlambat masuk kelas karena baru pulang dari luar negeri." Bu Susi menjelaskan lagi.
Lintang terbelalak. Dia malah baru dengar kalau dirinya ternyata baru pulang dari luar negeri. Lintang dipersilahkan kembali duduk di tempatnya oleh Bu Susi dan pelajaran bahasa Indonesia di mulai.
"Jadi baru pulang dari luar negeri ya?" tanya Vina yang duduk sebangku dengan Lintang.
"Eh... iya..." Lintang tergagagp. Dia bingung mau menjawab apa, masalahnya Bu Susi yang bilang begitu.
"Luar negeri mana?" tanya Vina.
Mampus! Lintang yang tak pandai berbohong tak tahu harus menjawab apa. Dia berusaha mengalihkan pembicaraan agar tidak ditanyai lagi. Saat istirahat Lintang dikenalkan Vina dengan sahabatnya sejak SMP yang bernama Alif.
Lintang segera merasa cocok dengan kedua orang itu karena mereka punya hobi yang sama, yaitu nonton drama Korea.
"Ngomong-ngomong Lintang baru pulang dari luar negeri ya, luar negeri mana?" tanya Alif.
Lintang melotot, bisa-bisanya muncul pertanyaan seperti itu lagi. Saat Lintang sudah berkeringat dingin karena bingung harus jawab apa, ponselnya berdering.
"Oh maaf ada Line." Lintang beralasan membuka pesan Line pada ponselnya untuk mengalihkan perhatian kedua teman barunya itu. Ternyata pesan itu dari nomer yang dalam kontak ponselnya sudah diberi nama "My Duddy Sky."
__ADS_1
My Duddy Sky : Halo syg, gmn hari prtma di skula br? Cemungud ea... Cdh mkn ciang?
Lintang mengerutkan keningnya. Ini dia biang kladinya! Lintang agak kesulitan menjawab pesan tersebut. Dia masih baru pertama kali pakai HP android canggih yang full touch screen. Seumur hidupnya dia hanya pernah memakai ponsel layar monokrom milik ibunya yang sudah dijualnya dengan harga murah setelah ibunya meninggal
"Line dari pacar ya? Serius amat," goda Vina.
Lintang hanya meringis. Dia serius karena gaptek dengan ponsel barunya. Bisa tengsin kalau dia harus mengakuinya. "Bukan, dari Ayah kok," sahut Lintang.
"Ayah Lintang perhatian banget ya. Ayahku hampir nggak pernah kirim pesan," kata Vina agak iri. Lintang hanya tertawa hambar.
Ketiga kemudian melajutkan perjalan mereka menuju kantin. Sambil berjalan menuju kantin, Lintang berusaha sekuat tenaga menjawab pesan dari Langit itu.
Hei, orang aneh! Ngarang cerita apa si? Pakai bilang dari luar negeri segala?
Tidak sampai semenit pesannya sudah di balas oleh Langit.
My Duddy Sky : Bilang aj Somalia. Xixixi ;-p
"Somalia gundulmu!" geram Lintang. Gara-gara terlalu berkonstrasi pada ponselnya Lintang tak memperhatikan jalan dan menabrak orang yang berjalan di depannya.
Lintang mengangkat kepalanya dan tertegun saat melihat siapa orang ditabraknya, yaitu Guntur. Pemuda itu menatap Lintag dengan garang. Nyali Lintang langsung ciut.
"Ma-maaf, Kak," kata Lintang lirih.
__ADS_1
Guntur tetap melotot padanya. "Minggir!" seru Guntur.
Lintang segera menyingkir dan memberi jalan pada Guntur. Tanpa berkata apa pun Guntur melewati Lintang begitu saja. Lintang mengelus dadanya yang serasa hampir copot.
"Kak Guntur keren banget ya!" puji Vina.
"Iya, dari deket tambah keren!" Alif setuju.
Lintang melongo mendengar komentar dua temennya itu. "Kalian kenal orang itu tadi?" tanya Lintang.
"Kenal dong! Dia itu cowok paling cakep di sekolah ini!" kata Vina menggebu.
"Mirip kan sama Jungkook!" sahut Alif.
Lintang mengangguk-angguk. Bagaimanapun dia mengakui bahwa kakak angkatnya itu memang menawan.
"Kita lagi hunting nomer ponselnya lho! Ada yang mau barter sama dompet Louis Vutton nih," kata Vina.
Linta melotot. Nomer ponsel makhluk astral di sebelah kamarnya itu bisa dituker dengan dompet Louis vutton?
Lintang mengutak-atik ponselnya dan membuka daftar nomer ponsel yang tersimpan di kontaknya. Ada satu nama yang tertera di sana yang dipandanginya dengan seksama yaitu nama "My Brother Thunder" Tak terasa air liur Lintang menetes.
***
__ADS_1