
Lintang berjalan menuju dapur, untuk mengambil segelas air putih karena rasa haus di tenggorokannya. Hatinya terasa aneh setelah mendengar cerita dari Surya bahwa semua orang yang tinggal di rumah ini sebenarnya tak punya hubungan darah. Pantas saja semuanya menurut begitu pada Langit. Rupanya dia adalah Raja di rumah ini. Di dapur Lintan melihat Langit yang sedang minum air putih dari dalam kulkas. Pria itu tersenyum padanya.
"Belum tidur? Sudah hampir jam sepuluh," kata Langit sambil menunjuk jam dinding yang menempel di dinding dapur.
"Iya, ini mau minum air putih sebentar," jawab Lintang.
Lintang menuju rak piring dan mengambil gelas yang letaknya agak tinggi, karena badan Lintang yang tinggi semampai, alias semeter tak sampai, dia kesusahan mengambil gelas. Langit yang melihat hal itu mengambilkan gelas untuk Lintang lalu mengisinya dengan air putih dari botol air mineral yang dibawanya dan memberikannya pada Lintang.
"Ah ... Makasih," tutur Lintang, dia menerima segelas air mineral pemberian Langit itu dan meminumnya.
"Sepertinya letak gelas perlu diganti. Biasanya kami meletakkannya agak tinggi supaya nggak bisa dijangkau chan-chan," ucap Langit.
Lintang tak berkomentar. Dia hanya meneguk air minumnya.
"Aku sudah dengar semuanya dari Kakek," kata Lintang tiba-tiba.
"Soal apa?" tanya Langit.
"Kalau sebenarnya semua orang di rumah ini tidak mempunyai hubungan darah."
"Oh...."
Langit hanya ber-oh kemudian menyandarkan dirinya di tembok. Lintang melirik ayah angkatnya itu dan memandanginya dengan bingung.
"Kamu itu aneh!" komentar Lintang.
__ADS_1
"Untuk apa kamu menciptakan keluarga aneh semacam ini?" tanya Lintang.
"Karena aku ingin punya keluarga." Pria itu menarik napas panjang kemudian melanjutkan kalimatnya.
"Orang tuaku meninggal saat aku masih sangat kecil karena kecelakaan. Aku tidak pernah merasakan kehangatan sebuah keluarga," lanjutnya.
Lintang memandang ayah angkatnya itu dengan bingung. "Kalau kamu ingin punya keluarga kenapa kamu nggak menikah saja? Kenapa malah membuat permainan rumah-rumahan yang aneh begini?"
Langit tersenyum tipis. "Karena aku nggak suka hubungan yang rapuh. Suami-istri adalah hubungan yang rapuh. Suatu saat mungkin aku akan kehilangan rasa cintaku pada istriku, atau bahkan membencinya, tapi aku tidak akan pernah bisa membenci ayahku, kakakku dan anak-anaku."
Lintang memandangi wajah Ayah angkatnya itu dengan bingung. Dia sama sekali tak mengerti maksud perkataan pria dewasa itu.
"Kamu memang benar-benar aneh," tunjuk Lintang.
"Terima kasih," ucap Langit.
"Kuanggap saja pujian."
Lintang geleng-geleng kepala. Sudahlah sebaiknya dia tidak usah berdebat dengan makhluk aneh ini, atau Lintang sendiri yang bakal gila jadinya. Gadia itu memutuskan untuk menghabiskan sisa air mineral yang masih ada dalam gelas yang pegangnya dan tidak berkomentar apa-apa lagi.
"Guntur belum pulang juga ya," kata Langit sambil memandangi jam dinding yang sudah menunjukan jam hampir jam setengah sebelas malam. Langit menghela napas.
"Sepertinya dia memang masih belum terbiasa dengan keadaan rumah ini," kata Langit.
"A-apa karena aku?" tanya Lintang.
__ADS_1
Langit menoleh pada Lintang. Wajah gadis itu tampak cemas dan khawatir.
"Apa karena dia nggak menyukai aku ada di sini makanya dia nggak mau pulang? Sepertinya dia nggak menyukaiku," lirih Lintang.
Langit terkejut mendengar pengakuan Lintang itu tapi kemudian tersenyum.
"Nggaklah, mana mungkin dia tidak menyukaimu. Dia hanya merasa agak canggung saja soalnya tiba-tiba punya adik perempuan."
"Beneran? Bukan karena dia benci aku?" tanya Lintang.
"Tentu saja. Nggak ada alasan untuk membencimu. Kamu gadis yang cantik, baik dan ceria, kamu juga manis, semua orang pasti menyukaimu," kata Langit yakin.
Lintang akhirnya pun tersenyum mendengar kalimat pujian Langit yang agak gombal itu.
"Ini sudah malam cepat naik dan tidur. Besok kamu kan masih harus masuk sekolah." Langit mengingatkan.
"Hem ... aku ke atas dulu ya."
Lintang meninggalkan Langit sendirian di dapur dan naik ke kamarnya di lantai dua. Cewek itu baru mau masuk ke dalam kamar saat ingat kalau headset dan chargernya di kamar Awan lupa belum diambil. Dia tadi hanya membawa tas make up itu dan malah lupa dengan tujuan awalnya. Gadis itu mengurungkan niat masuk ke kamar dan membuka pintu kamar Awan tanpa mengetuk pintu terlebih dulu.
"Tante, Charger dan head set ku...."
Suara Lintang terhenti saat melihat pemandangan di hadapannya. Seorang cowok berambut panjang baru mau melorotkan celananya. Lintang buru-buru minta maaf dan menutup pintu.
Lintang memukul-mukul matanya, merasa berdosa karena sudah melihat hal tak senonoh. Lalu Lintang pun menyadari sesuatu hal yang aneh. Bukannya yang ada di depannya ini kamar Awan? Kok bisa ada cowok setengah telanjang? Apa ada orang mesum yang menyusup masuk?
__ADS_1
***