
"Kenapa kamu nggak bilang, kan bisa aku jemput."
Vina melotot karena denger omongan Guntur itu. Dia sama sekali nggak ngerti alesan kenapa Guntur tiba-tiba jadi sok baik begitu. Dia kerasukan apa ya? Emang sih tuh cowok jadi lebih baik sikapnua setelah mereka memutuskan buat temenan. Tapi kalau sebaik dan perhatian ini bisa bikin Vina baper dong! Dasar Guntur, nggak punya hati banget!
"Deket kok dari depan komplek ke sini. Aku cuman mau olahraga," kekeh Vina nggak jelas.
Bunyi klakson membahana karena rupanya mobil honda jazz warna merah menyala milik Awan sudah ada di depan rumah. Terlihat Awan dan Bu Nina yang duduk di dalam mobil.
"Woi, bukain pagernya!" titah Awan.
Lintang akhirnya mendorong pagar sementara Roki masukin motornya juga. "Ini motor mau ditinggal di sini?" tanya Guntur. Dia ogah bukain pagar buar si nenek sihir jadi mending dia bantu Eoki nuntun motornya aja.
"Iya nih, boleh kan?" tanya Roki. "Di kosan sepi nggak ada orang dan nggak aman. Kalau di rumahmu kayaknya lebih aman."
Guntur mengangguk aja. Garasi rumah mereka segede lapangan sih. Nambah saru motor nggak masalah. Di kompleks perumahan ini emang aman karena ada satpam dan kamera CCTV ada di mana-mana. Maklumlah yah rumah orang borjuis.
__ADS_1
Bu Nina yang keluar dari mobil Awan bersalaman dengan Vina dan Lintang.
"Bu Nina kok mau sih diajakin Om Awan? Kalian sudah jadian?" tanya Lintang to the point banget. Bu Nina ketawa aja. Dia nggak bantah berarti bener mereka emang udah jadian.
"Ya ampun, Bu Nina! Bu Nina jangan tertipu sama penampilan luarnya Om!" seru Lintang. Awan langsung aja bekal mulut ponakannya itu dari belakang.
"Jangan didengerin, Nin," senyumnya manis.
Nina terkekeh aja. Keluarga Langit memang sepertinya sangat seru, makanya dia mau aja diajakin liburan.
"Ayah! Om, Ayah!" adu Lintang. Kesempatan kan dia bisa *****-***** Langit dan peluk dia dari belakang. Langit jadi risih gitu tapi dia diem aja.
"Tumben kamu manggilnya Om? Biasanya kan...."
Awan melotot dengan kejam sebelum Langit mengucapkan kalimat sumpah serapah itu. "Jangan berani sebut-sebut panggilan itu di depan Nina!" desis Awan.
__ADS_1
Langit kedip-kedip aja. Padahal Awan sendiri yang selama ini minta dipanggil Tante. Kok dia malah marah-marah sih. Kayaknya dia nggak mau ketahuan selama ini suka jadi cewek jadi-jadian di depan Nina.
"Kalau udah kumpul semua kita langsung berangkat aja." Ini usul kakek.
Langit mengangguk aja. Dia lepasin tangan Lintang yang meluk dia dari belakanh terus bantuin tiga tamunya masukin barang ke bagasi. Lintang mayun banget pas pelukannya di lepas tapi dia nggak bisa ngomong apa-apa dan masuk ke mobil.
Awan, Roki dan Guntur duduk di bangku belakang. Cewek-cewek, Bu Nina, Lintang dan Vina di tengah. Langit di kursi kemudi. Sementara Kakek mangku Chan-chan di sebelahnya.
"Ayo kira berangkat!" seru Langit riang. Mobil pun mulai berjalan keluar dari kompleks setelah Langit selesai mengunci seluruh rumah. Tak lupa dia berpesan pada satpam bahwa mereka mau berlibur selama tiga hari di Bali.
Pak satpam meminta Langit menuliskan namanya pada buku kontrol. Soalnya sesuai prosedur Pak Satpam akan berkeliling ke depan rumah-rumah kosong saat patroli untuk memastikan keadaan aman.
"Selamat liburan, Pak Langit," senyum bapak satpam itu setelah menerima kembali buku kontrol dari Langit.
***
__ADS_1