
"A-ada apa ini? Lift-nya macet?" Guntur meraba-raba tombol panel di lift dan menekannya dengan asal-asalan namun lift tidak menyala. Lintang menggedor-gedor pintu lift dengan panik.
"Tolong! Tolong keluarkan kami! Kami terjebak di dalam!" seru Lintang.
"Percuma, lift ini kedap suara," keluh Guntur.
"Lalu kita harus bagaimana?" tanya Lintang panik.
"Tenanglah, nanti pasti menyala lagi, ayo kita duduk saja dan menunggu."
Guntur duduk di pojok lift, Lintang mengikutinya dan duduk di sebelahnya. Lintang mengutak-atik ponselnya di dalam gelap. Dia berusaha menghubungi Langit dan keluarganya namun ponselnya tak berfungsi karena tidak ada sinyal.
"Kakak ... aku takut...." Lintang mulai menangis.
"Jangan takut, nanti pasti ada yang datang menolong kita," ucap Guntur lirih.
Lintang berhenti menangis dan hanya senggukan. Waktu berlalu dengan cepat, sudah dua jam lamanya mereka terkurung di dalam lift. Tak ada tanda-tanda akan ada orang yang datang untuk menyelamatkan mereka.
Mata Lintang mulai terbiasa dengan kegelapan. Dia menoleh pada Guntur yang duduk di sampingnya. Pemuda hanya diam.
"Kakak, jangan diam saja, coba ceritakan sesuatu," pinta Lintang.
Guntur tidak menjawab.
__ADS_1
"Kakak?"
Guntur bergeming, malah napasnya terdengar semakin memburu seperti orang kena asma. Lintang menyadari keanehan pada kakaknya itu. Dia mendekatkan badannya dan memegang tangan Guntur. Lintang terkejut menyadari tangan cowok itu sedingin.
"Kakak! Kakak tidak apa! Kakak!!!"
Guntur tidak merespon. Tubuhnya terjatuh di pangkuan Lintang. Lintang panik dan menguncangkan tubuh cowok itu. Guntur tetap tidak bereaksi. Lintang melepaskan jaket bisbol yang dipakainya dan memakaikannya ke tubuh Guntur yang mulai dingin dan kaku.
"Bertahanlah, Kak, bertahanlah, sebentar lagi kita keluar." Lintang mulai menangis lagi.
Tak lama kemudian lampu menyala dan pintu lift terbuka, beberapa orang berdiri di depan pintu dengan panik.
"Kalian tidak apa-apa?"
***
"Kenapa Lintang belum pulang ya jam segini, ponselnya juga dari tadi tidak aktif, apa terjadi sesuatu?" yanya Langit cemas.
"Mungkin dia pergi dengan pacarnya ke suatu tempat," kata Awan.
Langit tertegun mendengar ucapan Awan itu.
"Pacar?"
__ADS_1
"Iya, pacar yang nganterin dia pulang kemarin itu lho. Aku saat aku menjemputnya di sekolah beberapa hari lalu aku melihatnya melompat-lompat girang sambil berteriak 'Dia mulai menyukaiku! Aku tahu dia mulai menyukaiku!' Kayaknya dia cinta banget sama pacarnya ini. Duh, gairah muda bikin iri ya," ucap Awan sembari menirukan gaya Lintang yang kelewat centil.
Satu alis Langit terangkat mendengar cerita dari Awan itu. Perasaan yang tidak enak bergemuruh di dadanya, entah apa namanya. Awan mengamati ekspresi kesal Langit itu dan seringaian lebar. Rupanya Langit cemburu.
Ponsel Langit bergetar. Cowok buru-buru melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Sesuai harapannya, yang menelepon adalah Lintang. Pria itu langsung menekan tombol answer dan marah-marah.
"Kenapa jam segini belum pulang? Kamu pergi dengan siapa dan ke mana? Apa pantas seorang gadis remaja melakukan hal seperti ini? Cepat pulang sekarang!" Langit langsung mendera Lintang dengan berbagai pertanyaan yang mengandung nada emosi. Awan senyam-senyum sendiri menyaksikan tingkah adik angkatnya itu.
Namun ekspresi wajah Langit berubah setelah mendengarkan suara Lintang dari dalam ponselnya.
"Apa ... rumah sakit?" lirih Langit. Suaranya melunak. Sinyal kecemasan langsung menyala di diri Awan saat mendengar kata 'Rumah sakit' dari mulut Langit. Apa lagi melihat ekspresi wajah adik angkatnya itu.
"Iya, baiklah, Ayah segera ke sana."
Langit menekan tombol end call dan meraih kunci mobil dan jaketnya.
"Kamu mau ke mana?" tegur Awan.
"Ke rumah sakit, Guntur pingsan."
"Apa?"
***
__ADS_1