Fake Family (END)

Fake Family (END)
Episode 50


__ADS_3

Lintang keluar dari kamar dan turun ke dapur di lantai dua. Bertepatan dengan itu, munculah Awan yang baru pulang dengan celana jeans, kaos dan jaket bulu-bulunya. Dandanan cowok itu agak normal daripada biasanya.


"Loh, Tante kok pulang, katanya lembur," tegur Lintang.


"Gara-gara baca WhatsAppmu itu jiwa keibuanku tidak tenang," umpat Awan.


"Mana si Anak durhaka? Demamnya sudah turun? Dia sudah makan?" tanya Awan, wajahnya terlihat agak cemas.


"Tidur di kamarnya. Demamnya sudah turun kok. Dia juga sudah makan," jawab Lintang.


Awan menghela napas. "Bikin kaget saja. Nggak nyangka orang kayak dia bisa sakit juga," kata Awan tampak lega.


Lintang mengamati ekspresi Awan kemudian tersenyum.


"Tante khawatir?"


"Yah, dulu pernah ada orang yang sangat kubenci. Tiba-tiba orang itu meninggal dan aku nggak sempat minta maaf padanya. Aku hanya ... nggak mau kejadian seperti itu terulang lagi," lirih Awan lirih sambil buang muka.


"Makanya jangan membenci orang!" tutur Lintang.


Awan mendesis kesal lalu mencubir pipi keponakannya itu dengan penuh emosi. "Anak kecil tahu apa sih, jangan sok menasehati orang tua!" ucap Awan jengkel.


"Aduh sakit, Tante! Aduh!" Lintang meronta-ronta sambil berusaha balas mencubit Awan tapi tidak bisa karena tinggi badan mereka yang berbeda tiga puluh sentimeter.


Saat dua sejoli itu sedang asyik cubit-cubitan, munculah Surya dan Chandra dari pintu depan. Surya menggendong Chandra yang tampak terisak-isak.


"Lhoh Kakek? Kok sudah pulang? Katanya besok?" tanya Lintang, kaget karena melihat kehadiran dua orang itu.

__ADS_1


"Iya, tadi Chandra merengeng terus minta pulang saat mendengar Guntur sakit. Akhirnya aku langsung pulang naik taksi, mana Guntur?" tanya Surya.


"Oh, ada di kamarnya masih istirahat, tapi demamnya sudah turun kok," terang Lintang.


"Ayo, ayo ke kamal Guntul!" pinta Chandra dengan suaranya yang tidak jelas karena masih senggukan.


"Iya-iya."


Surya pun menggendong Chandra ke lantai atas untuk menemui Guntur. Lintang dan Awan hanya diam dan memandangi kedua orang itu.


"Chan-chan hatinya benar-benar baik ya," kata Lintang.


"Yah ... dia itu memang malaikat kecil." Awan mengangguk setuju.


Terdengar suara langkah kaki yang panik masuk dari pintu depan. Awan dan Lintang terperangah saat melihat Langit muncul tiba-tiba dengan tubuh berkeringat dan napas ngos-ngosan.


"Guntur mana?" tanya pria itu.


"Kubatalkan, aku langsung putar balik setelah baca WhatsApp Lintang. Mana dia?"


"Di atas, di kamarnya," jawab Lintang.


Langit langsung menaiki tangga dan masuk ke kamar Guntur. Lintang dan Awan jadi ikut menyusulnya. Di dalam kamar Guntur kebingungan karena semua anggota keluarga berkumpul tiba-tiba.


"Kok kalian pulang semua?" tanya cowok itu.


"Kamu nggak papa kan, Guntur? Kamu masih demam? Ayo kita ke dokter," ajak Langit.

__ADS_1


Guntur mengerutkan kening. "Aku sudah nggak apa kok. Demamku sudah turun, tapi kok kalian semua ada di sini?"


"Guntul, Guntul nggak apa, kan? Mana yang sakit? Nanti Chan-chan elus," kata Chandra penuh perhatian.


"Chandra menangis terus waktu dengar kamu sakit, makanya aku langsung putar balik naik taksi," terang Surya.


Guntur menoleh pada Awan. Musuh bebuyutannya itu langsung buang muka dengan air muka sok tidak peduli. "Aku hanya mau memastikan apa kamu benar-benar sakit atau pura-pura," dalihnya. Lintang tersenyum kecil melihat tingkah Awan itu. Reaksinya berbeda dengan yang tadi.


"Sudah, tidak usah banya bicara, kita ke dokter saja sekarang ya," kata Langit.


"Tidak usah, demamku sudah turun," tolak Guntur.


Langit menempelkan tangan kanannya di dahi Guntur dan tangan kirinya di dahinya sendiri. Dia bernapas lega karena suhu tubuh mereka ternyata hampir sama.


"Alhamdulillah."


Langit memeluk Guntur dengan erat. Guntur tentu saja terkejut karena tindakan pria itu..


"Hei, apa-apaan! Lepas!" Guntur meronta.


"Syukurlah kamu tidak apa. Ayah benar-benar cemas," ucap Langit.


Guntur terdiam. Apa lagi saat dia merasakan debaran jantung Langit yang kencang. Baru pertama kali dalam hidupnya ada seseorang yang mengkhawatirkannya seperti ini. Ayah kandungnya saja bahkan tidak pernah peduli. Chandra ikut-ikutan memeluk Guntur dan Langit.


"Teletubies belpelukan," kata Chandra dengan imutnya. Semua orang di dalam ruangan itu pun tertawa mendengar celoteh Chandra.


Lintang merasakan gemuruh yang hangat di dadanya. Perasaan hangat yang sama saat dia bersama ibunya dulu. Mereka mungkin mereka adalah keluarga yang aneh. Mereka adalah keluarga paling konyol yang pernah ada. Anggap saja mereka hanya bermain rumah-rumahan. Namun, Lintang merasa mereka telah menjadi keluarga yang sebenarnya.

__ADS_1


Berapa banyak keluarga di luar sana yang bisa berkumpul seperti mereka? Berapa banyak keluarga di luar sana yang meski tinggal dalam satu rumah tapi asyik dengan kesibukan dan dunianya sendiri? Keluarga Langit memang berbeda. Meski mereka hanya keluarga palsu tapi kasih sayang diantara mereka tidaklah palsu.


***


__ADS_2