
Lintang berbaring nyaman di pangkuan ibunya. Ibu Lintang membelai wajah putrinya itu dengan lembut.
"Lintang, bangun sayang, sudah Ashar," terdengar suara merdu ibunya yang membangunkannya.
"Lima menit lagi, Bu."
"Bangun dong, kakiku linu semua nih."
Lintang tertegun saat suara merdu ibunya itu berubah menjadi suara yang ngebas. Lintang membuka matanya dan tersadar. Rupanya dia masih tertidur di pangkuan Langit. Lintang langsung bangkit dengan panik.
"Aduh kamu ngiler di sini, najis semua nih," keluh Langit.
Lintang terbelalak dan menghapus bekas air liur di sekitar pipinya dengan malu. Dia tidur di pangkuan seorang cowok asing, pakai ngiler lagi, benar-benar memalukan.
"Cepat solat ashar sana. Aku mau mandi dulu, pakai tanah terus dibilas tujuh kali," kata Langit.
"Memangnya aku ******!" Lintang memprotes dengan marah.
Langit terbahak lalu meninggalkan anak perempuannya itu dan masuk ke dalam kamarnya. Lintang mendengus kesal. Pipinya bersemu merah, malu sekali rasanya. Dia bangkit dan naik ke kamar mandi di lantai atas. Setelah selesai mandi, gadis itu turun ke lantai satu. Langit sedang memasak di dapur bersama dengan Chandra seperti biasanya.
__ADS_1
Lintang memulai pekerjaan rutinnya juga yaitu membersihkan rumah. Menyapu dan mengepel rumah dari lantai dua ke lantai satu lalu membersihkan kaca-kaca jendela rumahnya. Saat sedang mengelap kaca ruang tamu dari luar, kebetulan Guntur datang. Lintang menyapanya dengan sopan.
"Selamat datang Kak."
Guntur berhenti dan menatapnya tanpa ekspresi seperti biasanya. Lalu melewatinya begitu saja dan masuk ke dalam rumah. Lintang kesal banget rasanya. Sudah disapa baik-baik malah dijawab sinis begitu.
Saat acara makan malam bersama Langit tampaknya senang sekali kali Guntur pulang dan memasak udang goreng ukuran besar untuk Guntur. Guntur sama sekali tak berekspresi juga tak mengucapkan terima kasih.
Hanya diam dan makan. Lintang mengerti sekarang mengapa Awan sangat membenci Guntur dan Lintang sangat setuju sekali dengan Awan. Orang ini memang kurang ajar!
***
Lintang memberikan daftar pertanyaan tentang Guntur yang telah diisi lengkap oleh Langit pada Vina dan Alif saat istirahat siang di kantin. Kedua sahabat Lintang itu pun menerimanya dengan histeris.
"Makasih Lintang! Kamu memang sahabat paling baik deh!" kata Alif.
Vina mengenggam tangan Lintang kemudian berkata dengan serius.
"Lintang, mulai hari aku akan berjuang untuk menjadi kakak iparmu, restuilah aku."
__ADS_1
"Enak saja kamu! Jangan dengarkan dia Lintang, pilih aku saja! Aku berjanji akan menjadi kakak ipar yang terbaik," kata Alif tidak mau kalah. Lintang mencibir melihat tingkah kedua temannya itu.
"Kuberi tahu ya, lebih baik kalian berhenti saja deh ngefans sama dia! Nggak ada manfaatnya tahu!" kata Lintang dengan wajah mengkerut.
"Jahat banget kamu bilang begitu Lintang! Kamu mau memonopoli kakakmu yang keren itu sendirian ya!" tuduh Vina.
"Apa? Dengar ya! Aku sama sekali gak tertarik sama cowok kayak gitu! Guntur itu, sifatnya jelek, omongannya kasar, nggak tahu aturan, nggak pernah senyum. Patung batu tanpa ekspresi, yang bagus dari dia itu cuma wajahnya saja, selain itu nggak ada!" kata Lintang dengan menggebu-gebu.
Vina dan Alif terdiam sambil berkedip-kedip nggak jelas. Lintang merasa dua temannya itu aneh, dia lalu menoleh ke belakang dan terkejut saat melihat Guntur berdiri di belakangnya dengan tanpa ekspresi seperti biasanya. Lintang terbelalak, nyalinya pun jadi ciut.
"Ha-hai, Kak...." Lintang terbata sambil melambaikan tangannya pada Guntur. Guntur tidak menjawab sapaan Lintang dan langsungĀ to the point.
"Langit minta whatsappnya di jawab." Setelah berkata begitu dia langsung cabut. Lintang masih terdiam sambil memegangi dadanya yang berdebar kencang saking takutnya.
"Kayaknya di marah banget tuh, Lin," kata Vina
"Kayak kamu bakal dibunuh," ucap Alif.
"Kalian jangan nakut-nakutin gitu dong," keluh Lintang jadi makin gemetar.
__ADS_1