
"Ke kantin yuk, aku laper berat nih, soalnya tadi nggak sempat sarapan." Alif mengajak Vina ke kantin.
"Ayo, kebetulan aku juga lagi ngidam es cendolnya bu kantin nih. Lintang ikut nggak?" tanya Vina.
"Iya," kata Lintang setuju.
Tiga gadis remaja itu sepakat untuk menghabiskan waktu istirahat siang di kantin. Tepat sebelum mereka keluar dari kelas, terjadilah sebuah kejadian tak terduga yang membuat tiga cewek itu terkejut. Guntur muncul di depan pintu kelas mereka. Tanpa ekspresi cowok itu berkata, "Hei, Langit bilang nanti kamu dijemput jam dua. Ponselmu jangan dimatikan dia mengomel terus."
Lintang tertegun. Dengan berkeringat dingin dia melirik kedua temannya yang tampak syok dan menatapnya tak percaya.
"Oh ... iya Kak, terima kasih," kata Lintang dengan tergagap.
Guntur langsung cabut begitu mendengar jawaban adik angkatnya itu. Lintang diam seribu bahasa sementara Vina dan Alif memandangnya dengan tatapan mengintimidasi.
"Lintang! Apa hubunganmu dengan Kak Guntur?"
Vina mengucapkan kalimat pertanyaan yang nadanya lebih terlihat seperti kalimat interogasi. Lintang menyeringai, dia tidak bisa mengelak lagi.
"Dia ... Kakakku."
Vina dan Alif tercengang.
"Hah Serius? Kakak kandung?"
"Kok kamu nggak cerita sih!"
Lintang menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal bingung mesti menjawab apa.
"Maaf, bukannya aku bermaksud menyembunyikan sih, tapi gak ada kesempatan buat cerita juga." Lintang beralasan.
Vina memonyongkan bibirnya sambil berkacak pingang. "Nggak dimaafkan! Kamu sudah membohongi kami!" tegasnya
__ADS_1
"Iya! Kamu pasti tertawa dalam hati kan melihat kami pontang-panting mengejar-ngejar kakakmu!" Alif setuju.
Lintang panik mendengar kata-kata dua sahabatnya itu. Dia tak menyangka mereka akan semarah itu karena dia menyembunyikan hubungannya dengan idola mereka.
"Maaf dong, aku benar-benar nggak bermaksud bohong kok!" Lintang berusaha membela diri.
"Kalau kamu mau dimaafkan sebagai gantinya kamu harus membocorkan segala informasi tentang kakakmu pada kami," kata Vina sambil tersenyum licik.
"Benar, begitu baru impas." Alif ngikut aja.
Lintang terbelalak. Jadi dia harus mengorek informasi tentang Guntur?
"Pertama-tama kapan hari ulang tahunnya?" tanya Vina antusias.
Mampus! Mana tahu Lintang kapan hari ulang tahun makhluk astral itu.
"Aduh kapan ya... aku lupa," dalihnya.
"Dasar adik durhaka!" tuduh Alif.
Vina dan Alif menanyakan berbagai pertanyaan tentang Guntur yang tak satu pun dapat dijawab oleh Lintang. Gadis itu berdalih waktu kecil mereka tidak dibesarkan bersama jadi mereka nggak terlalu akrab.
Untungnya Vian dan Alif mempercayai kebohongan Lintang itu. Memang konyol kalau adik sendiri sama sekali nggak tahu apa-apa tentang kakaknya. Namun nggak mungkin juga kan bilang yang sebenarnya kalau dia baru bertemu dengan kakaknya itu dua hari yang lalu.
Sepulang sekolah Alif dan Vina memberikan draft pada Lintang yang berisi daftar pertanyaan seputar Guntur yang sampai tiga halaman. Lintang melongo membaca daftar itu.
"Ini PR mu, besok sudah harus terisi semuanya ya!" ancam Vina.
Dengan pasrah Lintang menerima daftar pertanyaan itu. Di pintu gerbang sekolah Lintang berpisah dengan Alif dan Vina karena dia harus menunggu dijemput oleh Langit. Tak terlalu lama menunggu, mobil Langit muncul di depan sekolah. Lintang langsung masuk ke dalam mobil itu.
"Gimana sekolahnya, Lintang?" tanya Langit perhatian.
__ADS_1
Lintang tak menjawab. Dia hanya diam dan cemberut. Langit jadi bingung mau ngomong apa.
"Kamu masih marah soal yang kemarin itu ya?" tanya Langit.
"Jelas saja dong! Kalian membodohiku begitu!" kata cewek itu sambil manyun.
"Aduh, maafkan dong," kata Langit memelas.
"Nggak cukup hanya dengan maaf saja!" kata Lintang masih tetap marah.
"Kalau begitu Ayah harus gimana supaya kamu memaafkan?"
Lintang meletakkan tangan kanannya di dagu dan berpikir.
"Em ... Kamu harus mengabulkan satu permintaanku!" katanya.
"Oke, kamu mau apa?"
Lintang berpikir lagi lalu tersenyum sendiri dengan tampang agak mesum dan air liur yang menetes. Langit jadi takut melihatnya.
"Lintang, kamu jangan minta sesuatu yang mencurigakan ya. Kita ini ayah dan anak. Ayah tidak bisa mengabulkan permintaanmu kalau terlalu vulgar," kata Langit takut.
"Siapa yang mau minta hal-hal vulgar! Dasar kurang ajar!" teriak Lintang marah.
"Habis tampangmu mesum begitu."
"Enak saja! Kamu nggak ngaca? Tampangmu sendiri lebih mesum!" Lintang tidak terima dibilang tampangnya mesum.
Langit tertawa dengan riang dan membuat wajahnya yang mirip dengan Lee Dook Wook itu jadi terlihat semakin tampan. Debaran aneh terasa di dada Lintang. Gadus itu membuang muka ke jendela. Gawat juga kalau berdebar-debar pada ayah sendiri.
***
__ADS_1