
"Aku nggak mau!" sentak Lintang. Perhatian seluruh orang di dalam ruangan itu pun teralihkan padanya. Lintang yang sedari tadi diam saja mendadak meledak.
"Kenapa Ayah mau membawaku? Supaya bisa memukuliku lagi? Supaya bisa menjadikan aku sasaran atas pelampiasan kemarahanmu lagi?"
Netra Darmanto terbeliak. Dia tidak bisa berkata apa-apa karena Lintang tiba-tiba saja membongkar aibnya seperti itu. Tiba-tiba saja Guntur bangkit dan memegang kerah baju Darmanto dengan tatapan tajam. Kata-kata Lintang tadi seolah menyulut api di dalam dirinya. Dia geram. Ternyata pria yang mengaku-ngaku sebagai ayah ini, selama ini telah menyakiti Lintang. Sama seperti yang dilakukan almarhum ayahnya dulu.
"Guntur!" Langit segera menengahi, tetapi Guntur sudah melayangkan pukulannya terlebih dahulu sehingga pukulan itu menyasar di wajah Langit yang dengan sengaja menghalanginya. Langit terjungkal ke belakang dan terjatuh.
Guntur tercengang. Dia tanpa sadar melepaskan Darmanto dan mendekati ayahnya.
"Langit!" Awan, Surya, Lintang serta Chan-chan segera menghampiri kepala keluarga mereka itu dengan cemas.
"Aku tidak apa," kata Langit sambil tersenyum dan memegangi pipi kirinya yang menjadi memar karena pukulan Guntur tadi.
"A-ayah...." Chan-chan mulai terisak-isak karena ketakutan. Langit memeluk bocah kecil itu dan mengelus kepalanya.
"A-Akan aku laporkan kamu atas tindakan penganiayaan!" seru Darmanto sembari menunjuk Guntur meski dengan tubuh yang gemetar.
"Oh ya? Kalau begitu sekalian saja aku pukul lebih parah lagi," kata Guntur tanpa rasa takut.
"Baru kali ini aku setuju denganmu," ucap Awan. Dua orang itu mendekati Darmanto yang gemetar ketakutan. Mereka merenggangkan otot-otot di tangan sehingga mengeluarkan bunyi gemertak yang mengerikan.
__ADS_1
"Awan! Guntur!" Langit memanggil tetapi dua lelaki yang sedang kalap itu tidak menggubrisnya.
Lintang berlari lalu merentangan kedua tangannya di depan Guntur dan Awan. "Ja-jangan!" pintanya memelas.
"Minggir!" usir Guntur langsung
"Ayahmu itu harus diberi pelajaran dulu supaya sadar," kata Awan.
"Aku nggak mau kalian terlibat masalah," kata Lintang. "Tolong jangan emosi."
"Lintang benar. Kalau kalian bersikap babar, yang ada kita justru makin sulit mendapatkan hak asuh Lintang," kata Surya.
"Sebaiknya Ayah pergi," ucapnya datar.
Pak Darmanto memandang putrinya dengan tatapan terluka. Dia sungguh tak menyangka akan mendapatkan perlakukan seperti itu. "Lintang," panggilnya lemah.
"Apakah kamu tidak malu masih berani menyebut dirimu ayah setelah semua yang kamu lakukan? Aku sudah bahagia sekarang. Aku bahagia karena tidak ada kamu. Jika kamu benar Ayahku, jangan temui aku lagi."
***
Langit duduk di ruang tengah sembari termenung. Dia menahan nyeri sembari mengopres pipinya yang mulai bengkak dengan es batu. Sosok Lintang yang begitu tegas mengusir ayahnya, juga wajah sedih Darmanto ketika meninggalkan kediamannya tadi terus terbayang. Padahal selama ini Langit mengira dia telah mengetahui segala hal tentang Lintang. Dia sungguh tidak menduga bahwa gadis itu masih menyimpan banyak rahasia.
__ADS_1
"Kamu nggak apa?" Tanya Guntur yang bersila di sebelahnya kanannya. Bocah itu memandanginya dengan cemas. "Maaf, aku memukulmu," lirihnya. "Itu gara-gara kamu tiba-tiba menghalangi."
Langit tersenyum kecil. "Aku juga marah saat tahu ayah Lintang ternyata seperti itu, tapi kita harus berpikir dengan kepala dingin Guntur. Kita nggak tinggal di hutan rimba. Nggak semua hal bisa diselesaikan hanya dengan tinju. Tinju kadang justru menambah masalah."
"Sekarang apa rencana kita, apakah kira-kira orang itu berani ke sini lagi?" tanya Awan yang berselonjor di samping kiri Langit. Dia mengelus-elus rambut Chan-chan tidur dengan pulas di atas pahanya.
"Sudah pasti dia akan kembali,"angguk Surya.
Lintang muncul dari dapur dengan membawa teko teh dan gelas sejumlah keluarganya. Dia tertegun melihat para lelaki yang tampak terdiam sembari berpikir dengan serius. Lintang menghampiri mereka dan menuangkan teh dari teko ke dalam gelas. Dia memberikannya satu-persatu pada keluarganya.
"Maafkan aku karena sudah membuat keributan seperti ini," ucapnya.
"Apa yang kamu katakan, kita ini keluarga."
Lintang tersenyum dia sungguh tidak menyangka akan mendengar kalimat seperti itu dari mulut Guntur.
"Lintang, bisakah kamu ceritakan sedikit saja tentang ayahmu?" pinta Langit.
Lintang terdiam sejenak lalu mengangguk. "Baiklah."
***
__ADS_1