
"Lagi lomba nahan kedip. Yang kedip duluan kalah," jelas Awan. Lintang melongo mendengar penjelasan Awan itu. Ada-ada saja tingkah keluarganya ini.
"Aneh-aneh saja, kurang kerjaan ya," Komentar Lintang.
Lintang mengamati ekspresi serius Langit dan Surya. Kedua pria itu saling bertatapan dengan ekspresi yang sangat serius. Lintang melihat ke arah ponsel Awan yang dijadikan Stopwatch.
"Sudah berapa lama?" tanya Lintang
"Hampir dua menit," jawab Awan.
Lintang melongo. Hebat sekali kedua orang itu bisa menahan kedip selama hampir dua menit. Tiba-tiba Surya terlihat tidak kuat. Matanya makin merah dan akhirnya dia berkedip. Langit bersorak gembira.
"I'm the winner!" seru Langit sambil mengacungkan dua tinjunya ke udara.
"Ayah kalah ... kamu memang tiada tandingannya," aku Surya sambil menghapus air mata yang ini membasahi pelupuk matanya.
Langit tersenyum sambil berkacak pinggang dengan bangga.
"Hohoho ... memang tidak ada yang bisa mengalahkanku."
Langit kemudian menoleh pada Lintang yang baru datang. Ekspresi wajahnya seperti menantang.
__ADS_1
"Kamu mau coba, Lintang? Kalau kamu menang akan kukabulkan apa pun keinginanmu," tantang Langit.
"Sungguh?!" Lintang jadi antusias karena mendengar imbalan itu.
"Lelaki sejati tidak pernah menarik kembali ucapannya," kata Langit serius.
"Boleh deh," angguk Lintang setuju.
Lintang menggeser duduknya sehingga berhadap-hadapan dengan Langit. Awan tersenyum melihat kedua orang itu.
"Oke, saya akan menjadi juri dalam pertandingan ini." Awan mendadak bersemangat. "Peraturannya ada dua, peraturan pertama kalian harus saling bertatapan dan menahan kedip. Yang berkedip duluan dia yang kalah. Peraturan kedua, tidak boleh ada benih-benih cinta yang timbul diantara kalian."
Lintang tergelak mendengar ucapan Awan. "Itu peraturan apa sih? Nggak relevan banget!"
Lintang dan Langit saling bertatapan dan menahan kedip masing-masing. Lintang diam dan memandang lurus ke arah Langit. Baru kali ini dia menatap Langit dari jarak sedekat ini. Baru pertama kali juga dia melihat wajah Langit begitu berbeda. Lintang mengakui kalau Langit memang tampan, tapi hari ini dia terlihat lebih tampan dari biasanya. Kenapa ya?
Debaran aneh pun terasa di dada Lintang. Lintang bingung sendiri. Kenapa ini? Kenapa jantungnya tiba-tiba berdetak cepat begini? Lintang merasakan matanya semakin lama semakin panas, panas itu pun menjalar ke seluruh tubuhnya terutama ke wajah dan pipinya yang membuat pipinya jadi bersemu merah.
Tip! Mata Langit berkedip. Langit menutup matanya dengan telapak tangan kanannya dan merunduk.
"Ah tidak," keluh Langit.
__ADS_1
Lintang masih terpaku bingung, rasanya belum lama mereka bertatapan kok Langit sudah kalah, padahal tadi Langit bisa menahan kedip sampai dua menit.
"Lintanglah pemenangnya!!!" seru Awan sambil mengangkat tangan kanan Lintang ke udara.
"Cuman lima belas detik nih? Kok tumben-tumbenan? Biasanya kamu sampai tiga menit kuat." Surya ikut kaget.
"Aku kan sudah tiga ronde, mataku sakit juga." Langit beralasan.
"Ah, masak sih ... mungkin matamu masih kuat tapi hatimu yang tidak kuat," goda Awan sambil terkekeh. Surya pun ikut terkekeh.
"Oh aku tahu, aku tahu."
Kedua bujang lapuk itu pun tertawa sambil bisik-bisik. Lintang memandangi keduanya dengan bingung.
"Apa hubungannya mata sama hati?" tanya Lintang.
"Cinta itu dari mata turun ke hati, Lintang," jelas Surya sambil menepuk bahu cucunya. Lintang yang masih terlalu muda sama sekali tidak mengerti maksud pembicaraan Surya itu.
"Sudah, kalian jangan ngacoh!" potong Langit sebelum kedua orang itu memprovokasi Lintang lebih jauh.
"Assalamualaikum."
__ADS_1
Terdengar suara dari pintu depan dan Guntur pun muncul masih dengan seragam sekolahnya padahal jam sudah menunjukan jam sebelas malam. Awan langsung menyipitkan mata.
"Dari mana saja kamu bocah tengik! Baru pulang jam segini?" tegur Awan.