Fake Family (END)

Fake Family (END)
Episode 44


__ADS_3

Langit membuka matanya perlahan yang terasa berat. Wajah pertama yang dilihatnya adalah wajah Surya bergantian dengan wajah Awan, Lintang dan Chandra.


"Dia sudah sadar!" seru Surya.


Langit mengerjap-ngerjapkan mata dan memandang empat orang anggota keluarganya itu dengan bingung. Dia memegangi kepalanya yang terasa sakit. kepalanya sudah dibalut perban dengan rapi.


"Ini di mana?"


"Di rumah sakit, kamu pingsan karena pukulan para penculik Chan-chan. Dokter bilang hasil CT Scan-nya bagus. Tidak ada luka yang parah. Kamu bisa pulang dalam beberapa hari," jelas Awan panjang lebar.


Langit berusaha bangun dari tempat tidur, tapi seluruh keluarganya langsung melarang.


"Jangan bangun dulu, istirahat saja dulu," kata Lintang dengan nada memerintah.


"Mana Guntur?" tanya Langit.


Tiga orang itu hanya diam. Chandra yang lugu menjawab pertanyaan Langit dengan jujur.


"Dia ada di luar, dia tidak mau masuk waktu kuajak."


Langit bangkit dari ranjang dan berjalan keluar. Infus yang terpasang di tangan kirinya pun dicabutnya dengan paksa. Surya, Awan dan Lintang berusaha menghalanginya.


Tapi karena sifat keras kepalanya, Langit tetap ke luar dari paviliun tempatnya di rawat. Guntur yang berdiri di luar terkejut saat melihat Langit. Pria itu tersenyum puas saat melihat wajahnya.

__ADS_1


"Guntur, Kamu baik-baik saja?" tanya Langit.


"Bodoh, mestinya aku yang tanya begitu," lirih Guntur sambil menundukan kepala.


Langit menghampiri Guntur dan memeluk pemuda itu dengan erat. Guntur terkejut, tapi dia tidak sempat mengelak.


"Syukurlah ... Syukurlah kamu baik baik-baik saja. Ayah benar-benar khawatir. Pulanglah, jangan pergi lagi."


Guntur tertegun mendengar kata-kata Langit itu. Seumur hidupnya baru kali ini dia mendengar ada orang yang mengucapkan kata 'khawatir' padanya. Guntur pun tak bisa menahan air matanya lagi. Dia balas memeluk Langit dengan erat.


"Iya, maafkan aku ... maafkan aku Ayah...."


Surya dan Lintang pun tak bisa menahan air mata menyaksikan pertemuan ayah dan anak yang mengharukan itu. Awan hanya mendengus. Sementara si kecil Chandra iri, anak itu berusaha memisahkan Langit dan Guntur dengan marah.


Langit dan Guntur tertawa. Langit menggendong dan memeluk Chandra. Surya ikut mendekati mereka.


"Jangan lupakan Kakek! Kakek juga mau dipeluk!" ujar pria uzur itu ikut-ikutan.


"Baiklah, ayo kita berpelukan teletubies!" seru Awan.


Surya dan Awan ikut bergabung dan berpelukan dengan Guntur dan Langit. Kelima itu kemudian menoleh pada Lintang yang masih berdiri jauh dengan canggung.


"Ayo, Lintang, sini juga!" kata Langit.

__ADS_1


Lintang tersenyum kecil. Dia mendekat dengan ragu-ragu, lalu ditari paksa oleh Langit. Dia turut berpelukan dengan lima orang laki-laki yang bukan saudaranya itu. Lintang tertegun, merasakan sesuatu yang hangat menjalar di hatinya. Perasaan bahagia dan nyaman yang akhirnya dia rasakan setelah sekian lama. Ah, ini yang namanya keluarga.


"Oh iya, pulang dari sini ayo kita buat foto keluarga! Kita kan belum punya foto keluarga," usul Langit.


"Kenapa kamu mikirin itu, pikirin dulu kesehatanmu," kata Surya.


"Pak Langit!" Seorang perawat berbadan bongsor berdiri di ujung lorong sembari mendorong troli. Wanita itu tampak terkejut melihat Langit dan keluarganya yang ribut-tibut di depan paviliun terlebih tangan Langit ternyata kini berdarah-darah karena infus yang dia cabut paksa tadi.


"Astaga, apa-apaan ini? Kenapa infusnya dicabut? Silakan masuk ke kamar dulu, Pak, kita pasang lagi infusnya.


Wajah Langit langsung memucat. "Suster, bisa tidak saya tidak usah diinfus?"


"Mana bisa, obatnya harus dimasukkan lewat infus."


"To-tolonglah, Suster, ya please? Kalau dipasang lagi pasti sakit, kan?" pinta Langit memelas.


Lintang tertawa kecil melihat perilaku Langit itu. Ternyata pria itu bisa bertingkah kekanak-kanakan seperti ini.


"Mantan preman kok takut sama jarum!" ejek Awan.


"Tidak! Siapa suruh cabut infusnya!" tegas sang perawat.


***

__ADS_1


__ADS_2