Fake Family (END)

Fake Family (END)
Episode 31


__ADS_3

Lintang telah mengganti seragam sekolah dengan kaos oblong dan celana pendek. Dia lalu turun ke lantai satu, di ruang keluarga Langit dan Chandra sedang sibuk mengutak-atik kaset-kaset DVD.


"Lintang, ayo nonton film, ada film bagus kesukaan ayah nih," ajak Langit sambil menunjukan sebuah DVD pada Lintang.


"Hm apa?" tanya Lintang penasaran. Dia menuruni tangga dan duduk di atas karpet di depan TV layar datar yang ada di ruang keluarga.


"Film Korea yang bagus, judulnya Speed Scandal," jawab Langit.


"Kamu suka film Korea?" kata Lintang terkejut. Film Korea kan terkenal dengan romantismenya, Lintang tak percaya ada cowok yang tertarik nonton film Korea.


"Sebenarnya aku lebih suka film action, tapi film ini bagus banget. Aku sudah nonton berkali-kali dan nggak pernah bosen, rugi deh kalau nggak nonton," kata Langit semangat.


Karena nggak ada kerjaan, akhirnya Lintang setuju menonton film Korea itu bersama Langit dan Chan-chan. Lintang awalnya tak begitu tertarik karena pemeran utama cowoknya tak tampan, namun karena ceritanya lucu Lintang pun lama-lama jadi suka.


Film itu menceritakan tentang seorang penyiar radio terkenal berusia tiga puluh tahun yang tiba-tiba didatangi oleh seorang anak perempuan berusia enam belas tahun yang mengaku sebagai anaknya. Dan lagi anaknya itu juga sudah punya anak umur enam tahun yang juga hamil di luar nikah. Film tentang keluarga yang seru, lucu dan sama sekali nggak masuk akal tapi tetap menarik untuk ditonton.


Lintang sempat terharu pada adegan terakhir film di mana sayang tokoh utama akhirnya mengaku di depan public bahwa dia sebenarnya sudah memiliki seorang anak dan juga seorang cucu.


Dengan malu-malu karena menangis Lintang menghapus air matanya sambil melirik Langit. Di luar dugaan Langit ternyata menangis Bombay lebih parah dari pada dirinya.

__ADS_1


"Bagus sekali kan ceritanya," kata Langit sambil menghapus air matanya setelah film itu berakhir.


"Hm ... Jangan-jangan kamu mengadopsiku karena meniru film ini ya?" kata Lintang.


"Tahu saja," kata Langit tertawa.


"Dasar orang aneh!" olok Lintang.


"Terima kasih atas pujiannya."


"Assalamualaikum."


"Tante!"


"Hai Sayang."


Awan mengacak-ngacak rambut Chandra dengan tangan kanannya. Awan lalu menyapa Langit dan Lintang. Lintang menggeram dan memalingkan muka.


"Kenapa kamu masih pakai pakaian begitu! Menyebalkan!" protes Lintang kesal.

__ADS_1


"Lho, memangnya kenapa? Kamu jangan iri dong Lintang kalau Tante lebih cantik darimu." Awan mengejek.


Hati Lintang merasa terhina, tapi mau bagaimana lagi karena itu kenyataannya. Lintang tak bisa berkomentar apa-apa. Setelah Awan menghilang masuk ke kamarnya untuk mengganti baju, Lintang pun memberanikan diri mengoloknya di depan Langit.


"Dia itu metroseksual ya?" tanya Lintang.


"Dia cowok normal kok, itu hanya cross dressing cosplay. Wajar kan rata-rata designer memang begitu," jawab Langit sambil tertawa.


Lintang diam dan berpikir. Memang sih, dia sering melihat designer-designer cowok di TV yang pakai baju cewek begitu.


"Kamu jangan membenci Awan ya, Lintang? Dia sebenarnya sama sekali nggak bermaksud menipumu. Dia memang suka berpakaian seperti itu semenjak kematian adiknya," jelas Langit.


Lintang tertegun mendengar ucapan Langit. Dia teringat pada foto seorang gadis cantik yang dipajang di atas mesin jahit di kamar Awan.


"Berdandan dan cosplay, semua itu sebenarnya bukan hobinya. Dia itu dulu orang yang sangat dan serius. Semua hobi yang dilakukannya sekarang itu adalah hobi adik perempuannya. Bisa dibilang dia sedang melakukan meniru apa yang dilakukan adiknya dulu, mungkin untuk memahami jalan pikiran adiknya," kata Langit.


"Kenapa adik perempuannya bisa meninggal?" tanya Lintang.


"Over dosis narkoba."

__ADS_1


__ADS_2