
"Mau apa? Tentu saja melakukan hal yang biasa dilakukan pria dan wanita," kata Guntur dengan tatapan mata membara, tanpa rasa takut sedikit pun.
"Guntur! Jaga sikapmu! Dia ini adikmu! Keluargamu!" Surya ikut membentak dengan marah.
"Keluarga? Jangan konyol!"
Guntur melepaskan baju atasnya dan memperlihatkan seluruh tubuhnya yang penuh dengan bekas luka bakar. Kelima orang itu tertegun melihat tubuh Guntur yang dipenuhi luka itu. Surya langsung memeluk Chandra dan menutup mata anak berumur lima tahun itu.
"Ini yang dilakukan Ayahku padaku," kata Guntur.
"Keluarga kandungku melakukan hal seperti ini padaku! Kalian pikir apa yang bisa dilakukan keluarga palsu seperti kalian!" bentak Guntur.
Langit terdiam sambil melihat bekas luka bakar pada tubuh Guntur itu dengan iba. Hatinya terasa sakit bagai diiris. Langit tak pernah menyangka bahwa selama ini Guntur telah banyak menderita. Namun Awan yang dikuasai amarah tidak merasa kasihan sedikit pun.
"Kalau begitu kenapa kamu masih di sini? Kalau kamu pikir kami ini konyol? Kenapa kamu masih ikut dengan semua kekonyolan kami?! Kenapa kamu tidak pergi saja!" bentak Awan.
Guntur melengkungkam bibir lagi. "Terima kasih sudah mengingatkan. Baiklah, kalau begitu aku pergi sekarang."
__ADS_1
Guntur memakai kembali baju seragamnya kemudian mengambil tas ranselnya dan berjalan pergi. Guntur menabrak bahu Langit yang berdiri di tengah jalan dengan sengaja saat melewatinya dan keluar dari rumah. Langit langsung berlari menyusulnya.
"Tunggu, Guntur! Jangan pergi!" pinta Langit panik.
Guntur tidak menggubris kata-kata Langit. Dia terus bejalan keluar dari rumah sementara Langit memanggil-manggil namanya. Awan yang tak tahan melihat adegan itu membentak Langit dengan keras.
"Sudah hentikan, Langit! Untuk apa kamu terus mempertahankan anak brengsek tidak tahu aturan seperti dia? Dia hanya membuat masalah di rumah ini!"
Guntur menghentikan langkahnya sebentar. Dia menoleh ke belakang dan memandang Langit dan Awan dengan tatapan tajam dan penuh amarah.
"Dengarkan nasehat Kakakmu yang cantik itu!" kata Guntur.
***
Langit duduk di sofa di ruang keluarga dengan frustasi. Dia terus mengutak-atik ponselnya, berusaha menghubungi Guntur namun yang terdengar hanya suara operator yang mengatakan bahwa nomernya tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Namun Langit tidak menyerah, dia tetap menghubungi nomer ponsel Guntur berkali-kali.
Surya duduk berhadapan dengannya tampak turut cemas. Awan duduk di meja makan sambil memakan pizza jatah makannya dengan santai. Lintang duduk di depan TV bersama Chandra, menemani Chandra melihat DVD Super Hero Boboi Boy asal Malaysia kesukaannya.
__ADS_1
"Bagaimana?" tanya Surya setelah Langit menghubungi nomer ponsel Guntur untuk yang ke dua puluh kalinya. Langit menggeleng pelan dengan wajah sedih.
"Ponselnya tidak aktif, bagaimana ini? Dia tidak bawa uang, dia tidur di mana? Dia juga belum makan," kata Langit cemas.
"Sudahlah!" keluh Awan dengan mulut belepotan saus pizza.
"Nanti juga kalau lapar dia pulang," lanjutnya.
"Bagaimana kalau tidak?" tanya Langit.
"Malah bagus, kan? Dia itu cuma jadi biang kerok keributan di rumah ini. Sekarang suasana jadi tenang kalau dia tidak ada. Angkat saja anak yang baru," kata Awan sambil tersenyum sinis.
"Tidak bisa begitu, Awan, kita ini keluarga," tegas Langit.
"Keluarga itu berarti tidak ada satu pun orang yang dilupakan dan ditinggalkan."
Mata Langit menatap lurus ke arah Awan saat mengatakan hal itu. Awan terdiam. Dia sama sekali tak mengerti mengapa Langit bisa mengangkat anak kurang ajar semacam Guntur. Pria itu mengangkat bahu dengan malas.
__ADS_1
"Ya sudah deh. Terserah saja. Aku ngantuk. Aku mau tidur duluan." Awan memutuskan naik ke kamarnya dan meninggalkan empat orang anggota keluarga lainnya.