Fake Family (END)

Fake Family (END)
Episode 82


__ADS_3

"Jadi kamu mau ngasih nomor hapemu ke Om-om tadi?"


Vina tertegun mendengar pertanyaan retoris dari Guntur. Setelah berkata demikian, Guntur kembali menuju kasir dan melayani pelanggan dengan raut wajahnya yang datar. Jadi cowok itu dengar pembicaraan dengan pelanggan tadi dan sengaja memanggilnya supaya bisa kabur? Sungguh Vina tak pernah Guntur punya perhatian dan inisiatif seperti itu.


"Orang itu kerasukan apa sih?" gumam Vina heran.


"Vina," panggilan Chef Sarah menyadarkannya.


"Iya, Chef," seru Vina rianh sembari menghampiri juru masak Kafe itu.


"Katanya kamu mau belajar bikin croissant keju?"


"Mau banget, Chef," angguk Vina antusias. Dia memang sangat tertarik dengan roti asal Perancis yang sangat cocok sebagai teman minum kopi itu. Mendengar nama makanan itu saja, air liur Vina sudah hampir menetes.


"Kita nggak ada waktu buat praktik di sini kalau pelanggannya ramai. Bagaimana kalau aku berikan resepnya saja dan kamu coba di rumah. Nanti kamu bisa whatsapp aku kalau ada hal yang kamu nggak paham."


Vina sebenarnya sedikit kecewa karena tidak bisa praktik langsung bersama Chef, tapi paling tidak wanita itu bersedia membagi resepnya. Setelah menerima catatan resep dari Chef Sarah, Via pun kembali bekerja dengan giat. Sampai tak terasa sudah waktunya Kafe tutup. Akhir-akhir ini waktu berjalan lebih cepat ketika dia bekerja. Mungkin karena Vina sangat menikmatinya. Setelah beres-beres dan Kafe ditutup, Vina bersama-sama dengan pekerja yang lain naik lift menuju basement.


"Sampak besok, Vina," sapa Pak Manajer yang pergi bersama Chef sarah.


"Sampai besok, Manajer, Chef."


Vina memandangi kedua makhluk itu yang masuk ke mobil yang sama. Dua orang itu memang terlihat serasi. Apa mereka pacaran ya? Atau jangan-jangan suami-istri?

__ADS_1


"See you, Vin," seru Pak Erlan yang menggandeng istrinya. Wanita itu tersenyum dan mengangguk pada Vina. Dia bekerja di bimbel yang ada di lantai lima dan biasanya pulang bersama suaminya.


"See you, Pak," jawab Vina. Dia berdiri di depan lift sembari menyandarkan punggungnya ke tembok. Vina membuka aplikasi ojek online. Biasanya, Vina ditemani Roki, namun hari itu, Roki tidak masuk. Dia ijin libur selama seminggu karena mau ujian.


"Kamu naik apa?" tanya Guntur tiba-tiba.


Vina mengerutkan kening. Tumben banget cowok ini berbasa-basi menegurnya. Biasanya dia sudah menyeret Lintang pulang begitu jam kerja selesai. Karena sekarang Lintang sudah resign, jadi cowok itu pulang sendiri.


"Goj*k," jawab Vina tanpa beralih dari ponselnya. Jujur saja dia tidak mau beramah-tamah dengan cowok yang menyebalkan ini.


Tanpa berkomentar lagi, Guntur pun pergi. Vina mengibaskan tangannya sambil berseru setelah Guntur sudah jau, "Hush! Hush!" usirnya. Tenang rasanya setelah makhluk itu pergi.


Vina mengutak-atik aplikasi gojeknya yang masih belum menemukan supir. Tak beberapa lama pintu terbuka dan seseorang yang dikenalinya keluar dari sana. Itu adalah om-om tadi yang sempat meminta nomor ponselnya.


"Halo, Vina," sapa pria itu ramah.


"Kamu mau pulang?" tanya pria itu.


"Iya."


"Mau bareng?" tawar pria itu.


Vina menelan ludahnya. Entah mengapa dia merasa tidak nyaman dengan pelanggan ini. Tapi bagaimana cara dia menolaknya?

__ADS_1


Bunyi klakson motor yang tiba-tiba menggema membuat Vian berjengit. Guntur dan motornya berada tak jauh dari mereka. Cowok itu membuka kaca helmnya dan memanggil namanya.


"Ayo, Vin!"


"Eh, iya, saya permisi dulu, Pak."


Vina buru-buru kabur. Dia menerima saja helm milik Lintang yang diserahkan oleh Guntur padanya. Cewek itu langsung naik ke motor kakak angkat sahabatnya itu. Guntur pun bergegas memacu motornya pergi.


"Ng ... anu ... makasih udah bantuin," lirih Vina setelah mereka melaju cukup jauh.


"Ya," angguk Guntur singkat.


Setelah itu suasana begitu sepi. Vina jadi canggung banget. Begitu mereka lewat di depan halte, Vina menepuk punggung Guntur.


"Turun di sini aja, Gun," kata Vina.


Guntur mengerutkan kening. Cewek ini bahkan sudah tidak memanggilnya Kakak lagi. Seenak jidat saja dia manggil Guntur dengan nama.


"Ini sudah malam, aku antar kamu sampai ke rumah."


Vina menggaruk tengkuknya. Makhluk ini aneh banget hari ini. "Okelah, makasih," ucapnya walaupun canggung.


***

__ADS_1


 


 


__ADS_2