Fake Family (END)

Fake Family (END)
Episode 41


__ADS_3

"Ini aku."


Langit diam sebentar. Tampaknya dia mengenali suara yang terdenga dari ponselnya itu. Itu adalah suara yang telah menghilang dan terus dicarinya selama satu bulan terakhir.


"Gu-Guntur?" tanya Langit tak percaya. Surya, Awan dan Lintang ikut terkesiap. Guntur menelepon? Setelah sekian lama?


"Jangan banyak tanya! Cepat kemari dan bawa polisi!"


Setelah itu telepon kembali terputus dan yang terdengar hanya nada sambung. Surya Awan dan Lintang memandang Langit dengan penasaran.


"Ada apa? Siapa yang menelepon? Apa Guntur?" Ketiga orang itu mendera Langit denga berbagai pertanyaan namun Langit tak menjawab pertanyaan mereka. Dia hanya mengucapkan satu kalimat dengan cepat sebagai jawaban.


"Tidak perlu menelepon kantor, telepon polisi saja, ayo kita pergi sekarang!"


***

__ADS_1


Guntur mengintip ke dalam rumah kaca jendel. Ada empat orang pria berbadan kekar yang duduk sambil minum-minum bir sambil bermain judi di dalam rumah. Chandra terus menangis dengan suara keras di pojok ruangan.


Guntur diam dan berpikir. Bagaimana caranya dia bisa menyelamatkan Chandra? Sementara dia tidak mungkin menang melawan empat orang pria itu sendirian.


Karena Chandra terus menangis. Salah seorang dari pria itu pun mulai merasa terganggu. Dia mendekati anak itu dan memukulnya dengan keras hingga bocah utu terjembab.


"Dasar Anak berisik! Diam kamu!" bentak pria itu dengan marah.


Chandra tidak berani menangis lagi saking takutnya. Dia hanya senggukan sambil memandang pria itu dengan tubuh yang bergetar.


Guntur terkesiap. Trauma masa lalunya saat dia dipukuli oleh ayah kandungnya bangkit kembali. Seluruh tubuh Guntur bergetar dengan hebat karena rasa takut dan marah yang bercampur menjadi satu. Dia harus menyelamatkan Chandra dari orang-orang itu! Bagaimana pun caranya!


"Ide bagus."


Pria itu kemudian mengikat tangan, kaki dan mulut Chandra lalu memasukannya ke dalam kamar. Guntur melihat pohon mangga yang tumbuh subur di samping rumah. Pohon itu cukup tinggi dan salah satu dahannya menjalar di atap rumah.

__ADS_1


Dengan mengendap-endap Guntur memanjat pohon itu, dia berusaha agar tidak menghasilkan suara. Setelah sampai di atas pohon, Guntur mendarat di atas genting. Dia lalu mengambil salah satu genting rumah itu. lalu melompat masuk ke dalam fondasi atap rumah.


Guntur mendarat di atas kayu yang cukup kuat, dia berjalan menyusuri kayu itu dan berhenti di atap yang kira-kira berada di dalam kamar tempat Chandra di sekap. Guntur memukulkan gitarnya sedikit demi sedikit ke asbes di atas kamar itu, hingga akhirnya membuat lubang cukup besar untuk dilewatinya.


Di bawah asbes, Chandra duduk di bawah ruangan dengan tangan, kaki dan mulut yang terikat. Chandra tampak terkejut saat melihatnya berada di atas atap. Guntur menempelkan jari telunjuk di bibirnya memberi isyarat pada Chandra untuk tetap diam. Pemuda itu melompat ke dalam kamar dengan suara berdebum pelan.


"Suara apa itu?"


Guntur kaget. Tiba-tiba pintu terbuka dan lima orang pria itu berdiri di ambang pintu. Mereka menatap Guntur dengan tatapan tajam.


"Siapa kamu?!"


Buru-buru Guntur menggendong Chandra kemudian melompat dari jendel untuk melarikan diri. Para pria kekar itu kalah kabut dan berhamburan mengejarnya.


Guntur berlari sekuat tenaga sambil mendekap Chandra yang masih dalam keadaan terikat, tidak ada waktu untuk melepaskan ikatannya. Guntur berhenti berlari saat tiba-tiba salah seorang pria kekar berdiri di hadapannya.

__ADS_1


Guntur hendak berbelok ke kanan dan ke kiri namun ternyata para pria kekar itu juga ada di sana. Saat dia hendak mundur ke belakang, ternyata pria lain sudah berdiri di belakangnya. Guntur terjepit, dia sudah tidak bisa lari lagi.


"Anak Brengsek! Mau lari ke mana kamu sekarang?!" Oorang-orang itu dengan senyum beringas mereka.


__ADS_2