
"Kenapa bawa barang banyak banget sih kayak mau pindahan aja!" keluh Guntur. Dia capek banget habis mengangkat saru persatu koper ke dalam bagasi.
Langit Mah apa aja dibawa, rice cooker, heater, termos, baju-bajunya yang seabrek, kompor, popok segunung. Harga dirinya malah ditinggal. Nggak tahu ke mana sih harga dirinya dia udah hilang dari lama kayaknya.
"Kalau berpergian sama anak kecil tuu bawaannya harus lengkap," senyum Langit. Masalahnya sekarang adalah masukin itu barang-barang yang bejubel banget ke dalam mobil mereka. Langit pusing tuh tuju keliling sampai berkali-kali nata ulang. Lintang cuman duduk di teras rumah aja sambil makan es krim bareng Chan-chan.
"Kenapa kalian santuy doang sih, nggak bantun!" omel Guntur.
"Kami masih kecil, Kakak," dalih Lintang. Pinter banget dia kalau disuruh bikin alesan.
"Awan belum datang?" tanya Kakek yang baru muncul sambil bawa peralatan mancingnya. Nggak tahu sih kenapa tuh kakek-kakek suka banget sama mancing. Kalau Guntur mah bisanya mancing kerusuhan aja.
"Belum, lagi jemput Bu Nina katanya," jelas Langit.
"Wow, Bu Nina juga ikut? Sejauh apa perkembangan hubungan dia sama Awan?" tanya Kakek Kepo.
"Nggak tahu sih. Kayaknya udah lumayan. Buktinya Bu Nina sampai mau ikut liburan bareng kita," sahut Langit lagi. Akhirnya karena bagasi ga cukup Langit mengeluarkan dua tas dia dari sana dan menyerah. Soalnya ini baru barang-baranh keluarga mereka aja. Belum barang-barangnya tiga tamu mereka yang mau ikut liburan. Ada Bu Nina, Riko dan temennya Lintang yang Langit lupa namanya siapa.
__ADS_1
"Gercep banget si Awan. Kamu gimana, Ngit? Jangan mau kalah dong," ucap Kakek sambil menyodok Langit dengan sikunya.
"Kalah apaan sih, Yah?" Langir ketawa aja pura-pura ****.
"Masa kamu nggak pengen nikah lagi toh? Eh, ayah punya kenalan temen-temen yang punya anak gadis jomblo loh. Kamu mau nggak dikenalin?" tawar Surya.
Langit meringis aja. Tiba-tiba dia merasakan tatapan tajam dari belakang tengkuknya. Di sana ada Lintang yang mengawasinya dengan penuh emosi. Langit dan Lintang sudah mengakui perasaan masing-masing tapi mereka masih menyembunyikan hal ini daei keluarga mereka.
"Ah, Ayah, mana ada cewek yang mau nikah sama duda beranak tiga kayak aku," dalih Langit.
"Aku belum mikir ke sana."
Suara bel yang dibunyikan di depan rumah mengalihkan perhatian mereka sejenak. Lintang membaca pesan bahwa Vina dan Kak Roki sudah sampai di depan rumah. Cewek itu segera bangkit dan bergegas menuju pagar untuk mempersilakan mereka masuk.
Guntur ngikut di belakang adiknya itu gara-gara penasaran. Kayaknya pasti Vina yang mau disambut sama Lintang nih. Bener aja emang beneran Vina yang ada di depan pagar, tapi sama Roki yang bawa motornya.
"Vina!" seru Lintang yang langsung cipika-cipiki sama Vina. Sementara Guntur menghampiri Roki, pura-pura nyapa.
__ADS_1
"Kak," sapanya basa-basi.
"Yoi, Bro," balas Roki.
"Kalian kok barengan datengnya?" selidik Guntur. Dia penasaran juga ngelihat Vina dan Rak Roki yang kelihatannya akrab.
"Tadi nggak sengaja ketemu di depan," kata Roki. "Dia jalan sambil geret koper sendirian gitu aku kan kasihan."
"Kamu jalan dari depan?" kata Lintang. Emang kelihatan banget sih Vina keringatan gitu kayak habis bekerja keras.
"Abang aku tuh kebiasaan, mau buru-buru kencan jadi aku ditinggal di depan kompleks," keluh Vina.
"Kok kamu nggak bilang sih, kan bisa aku jemput." Ini Guntur yang ngomong.
Vina melotot kaget. Begitu juga dengan Lintang dan Roki. Guntur kerasukan apa kok jadi baik begitu?
***
__ADS_1