Fake Family (END)

Fake Family (END)
Episode 67


__ADS_3

"Gimana menurutmu filmya?" tanya Rian.


"Oh ya, bagus," kata Lintang. Padahal jujur saja dia sama sekali tidak menyimak isi film yang baru saja mereka tonton. Pikirannya begitu penuh.


Lintang berpura-pura mendengarkan Rian yang mengoceh tentang bagian-bagian yang dia suka dari film tadi. Sementara di dalam hatinya gadis itu merasa gamang. Mengapa dia malah ingin Langit tak mengijinkan di pergi nonton? Lintang bertanya-tanya tentang perasaan aneh macam apa yang sebenarnya sedang berada di hatinya sekarang. Baru pertama kali dia merasakan hal seperti ini dan dia tidak sanggup mendeskripsikannya.


Lintang dan Rian melangkah keluar dari gedung 21. Tepat di pintu keluar berdirilah seorang pria dengan stelan jas warna hitam. Lintang terpana menatap pria yang sangat dia kenali itu. Orang itu Langit, ayah angkatnya.


"Ayah?" sapanya tanpa sadar.


Rian yang berjalan di sebelah Lintang berhenti dan menatap Om-om yang ada di depannya itu. Pria itu masih begitu muda dan tampan. Apa dia tidak salah dengar? Lintang memanggil pria ini dengan sebutan apa barusan? Ayah?


Lintang terpaku. Dia sungguh tidak menyangka bahwa dia akan bertemu Langit di sini. Sebagian dari dirinya merasa senang, namun sebagian lainnya heran.

__ADS_1


"Kenapa ada di sini?" tanya Lintang.


"Menjeputmu," jawab Langit.


Rian ternganga lalu memandang pria itu dan Lintang bergantian. Seriusan mereka ini ayah dan anak?


"Kenapa?" tanya Lintang.


"Kita ada urusan keluarga yang penting, aku baru ingat," kata Langit.


"Eh, oh, iya, nggak apa-apa," jawab Rian terbata-bata. Dia menatap Langit sekali lagi. Ayah? Apa nggak terlalu muda?


"Ayo," ucap Langit sambil menarik tangan Lintang. Mereka pergi begitu saja meninggalkan Rian yang masih terbengong-bengong. Mereka langsung menuju mobil di tempat parkir. Begitu masuk ke dalam mobil Langit menghela napas panjang.

__ADS_1


"Itu tadi anak kuliahan, kan? Dia sudah pasti bukan temanmu dari mana kamu kenal dia?" tanya Langit penuh selidik.


"Dia kakaknya teman," aku Lintang.


Langit berdecak-decak. "Sudah jelas dia itu punya niat terselubung, bagaimana kalau kamu dilecehkan. Kamu itu sama sekali nggak punya kewaspadaan ya Lintang," cerocos Langit.


Lintang diam saja. Dia merasakan perasaan yang sangat aneh. Padahal sekarang dia sedang di marahi tapi kenapa rasanya dia malah senang?


"Ayah nggak bisa percaya sama kamu, pokoknya kamu nggak boleh jalan sama temen cowok lagi. Kalau kamu mau pacaran nanti kalau sudah lulus kuliah!" tegas Langit.


Lintang mengangguk saja. Sepertinya dia mulai memahami apa arti dari perasaan aneh yang memenuhi relung hatinya sejak kemarin.  Dia melirik  ayah angkatnya yang tampak uring-uringan. Dia sengaja menyebutkan soal kencan pada Langit hanya karena dia ingin melihat ayahnya cemburu. Sejak kapan dia punya perasaan seperti ini? Kenapa dia baru menyadarinya sekarang? Sejak kapan dia jatuh cinta pada ayah angkatnya itu?


"Ngomong-ngomong kita ada urusan keluarga apa?" tegur Lintang.

__ADS_1


Langit gelagapan. Dia bahkan tak sempat memikirkan alasan itu. Dia tadi asal ceplos saja. "Ng, foto keluarga! Aku baru ingat kita nggak punya foto keluarga yang bagus. Ayo kita foto keluarga!" seru Langit.


***


__ADS_2