Fake Family (END)

Fake Family (END)
Episode 100


__ADS_3

“Ayah, besok ambil rapor.” Lintang menyodorkan lembaran


undangan untuk wali murid pada Langit pada waktu makan malam hari itu. Langit menerima


benda itu dan membacanya.


“Besok? Berarti Guntur juga ya?” tegur pria itu pada anak


lelakinya. Pemuda yang duduk di sampingnya itu hanya mengangguk karena sedang


sibuk mengunyah udang goring kesukaannya.


“Chan-chan juga besok ambil lapol kata Bu Gulu!” seru


Chandra ceria.


“Aku! Aku saja yang ambil rapornya Chandra!” serobot Awan


penuh semangat.


Langit memicingkan mata menatap kakaknya yang kelewat


antusias. Beberapa hari terakhir pria itu sudah tidak pernah berdandan ala


cosplay lagi. Dia bahkan dengan senang hati mengantar-jemput Chan-chan setiap


hari. Apakah Awan sudah berhasil PDKT dengan Bu Nina ya?


“Baguslah, karena kebetulan besok aku agak sibuk. Aku akan


ke sekolah Lintang dan Guntur sebentar lalu langsung balik ke kantor,”


putusnya.


Langit terdiam sembari mengamati surat undangan pengambilan


rapor milik Lintang dengan saksama.


“Setelah ambil rapor berarti kalian libur?” tanyanya.


Lintang dan Guntur sama-sama mengangguk. Wajah Langit


berbinar. Dia menjentikkan jari dengan penuh semangat. “Kalau begitu bagaimana

__ADS_1


kalau kita liburan? Bagaimana kalau travelling?” tawarnya semangat.


“Memangnya kamu bisa? Bukannya setiap hari sibuk?” Guntur


malah balas bertanya.


“Aku sibuk karena urusan Surabaya Fashion Week. Besok


acaranya sudah selesai jadi aku bisa ambil cuti satu minggu.”


“Wah, asyik tuh liburan,” sahut Kakek Surya semangat.


“Enaknya ke mana? Ke gunung? Atau ke pantai?” usul Langit.


“Pantai dong, bisa cuci mata lihat cewek seksi!” seru Awan.


“Asyik juga bisa mancing di pantai,” angguk Kakek Surya.


“Uh, tapi nanti kulitku jadi hitam,” keluh Lintang.


“Aku nggak ikut ya, aku mau kerja sambilan,” ucap Guntur.


Langit menatap Guntur dengan kening yang berkerut. “Kamu


masih kerja di situ? Katanya mau keluar?”


senang. “Aku sudah mengajukan resign, tapi bos memintaku jangan keluar sebelum


ada pengganti. Aku nggak enak kalau keluar begitu saja. Selama ini mereka


menerimaku yang tanpa kualifikasi. Aku juga mendapat banyak ilmu tentang


barista di sana.”


Langit memicingkan matanya. “Kalau begitu minta libur saja


dulu. Pokoknya kita mau liburan dan kamu harus ikut!”


“Ta-tapi—“


“Nggak ada tapi-tapian! Aku telepon bosmu sekarang.


Seenaknya saja mengeksploitasi anak orang!”

__ADS_1


Guntur melongo melihat Langit yang sudah meraih ponselnya. Dia


benar-benar menghubungi Bos Denis. Cowok itu menghela napas. Bekerja itu


sebenarnya hanya salah satu alasannya saja. Kalau tidak di Kafe bagaimana dia


bisa mencari alasan bertemu dengan Vina selama liburan.


“Hallo, Denis. Ini aku Langit. Aku minta anakku Guntur


diberi cuti seminggu. Kami sekeluarga mau liburan,” ujar Langit setelah


ponselnya terhubung dengan mantan teman lamanya itu. Pria tampak sedang menyimak


jawaban dari dalam ponselnya. Setelah beberapa detik dia memonyongkan bibirnya


dengan jengkel.


“Kenapa aku haru kasih tahu kamu kami mau liburan ke mana!”


ketusnya.


“Pokoknya kami mau liburan. Kalau kamu pecat ya pecat saja


sekalian!”


Guntur mau menyela, tapi Lintang menarik lengan bajunya.


Guntur melirik adiknya itu yang menggeleng kuat-kuat. Uh! Bos Denis dan Langit


memang berseteru. Kalau sekarang dia melawan ayahnya maka dia akan tampak


seperti berpihak pada bosnya itu. Guntur tidak ingin menyakiti perasaan


ayahnya. Cowok itu akhirnya hanya bisa menghela napas. Nanti dia akan menelepon


lagi Bos Denis dan bicara baik-baik. Semoga saja Bos Denis bisa mengerti.


“Sudah, katanya kamu dapat izin,” senyum Langit setelah menutup


telepon secara sepihak.


Guntur menatap ayahnya itu dengan wajah datar. Apanya yang

__ADS_1


dapat izin…


***


__ADS_2