
“Ayah, besok ambil rapor.” Lintang menyodorkan lembaran
undangan untuk wali murid pada Langit pada waktu makan malam hari itu. Langit menerima
benda itu dan membacanya.
“Besok? Berarti Guntur juga ya?” tegur pria itu pada anak
lelakinya. Pemuda yang duduk di sampingnya itu hanya mengangguk karena sedang
sibuk mengunyah udang goring kesukaannya.
“Chan-chan juga besok ambil lapol kata Bu Gulu!” seru
Chandra ceria.
“Aku! Aku saja yang ambil rapornya Chandra!” serobot Awan
penuh semangat.
Langit memicingkan mata menatap kakaknya yang kelewat
antusias. Beberapa hari terakhir pria itu sudah tidak pernah berdandan ala
cosplay lagi. Dia bahkan dengan senang hati mengantar-jemput Chan-chan setiap
hari. Apakah Awan sudah berhasil PDKT dengan Bu Nina ya?
“Baguslah, karena kebetulan besok aku agak sibuk. Aku akan
ke sekolah Lintang dan Guntur sebentar lalu langsung balik ke kantor,”
putusnya.
Langit terdiam sembari mengamati surat undangan pengambilan
rapor milik Lintang dengan saksama.
“Setelah ambil rapor berarti kalian libur?” tanyanya.
Lintang dan Guntur sama-sama mengangguk. Wajah Langit
berbinar. Dia menjentikkan jari dengan penuh semangat. “Kalau begitu bagaimana
__ADS_1
kalau kita liburan? Bagaimana kalau travelling?” tawarnya semangat.
“Memangnya kamu bisa? Bukannya setiap hari sibuk?” Guntur
malah balas bertanya.
“Aku sibuk karena urusan Surabaya Fashion Week. Besok
acaranya sudah selesai jadi aku bisa ambil cuti satu minggu.”
“Wah, asyik tuh liburan,” sahut Kakek Surya semangat.
“Enaknya ke mana? Ke gunung? Atau ke pantai?” usul Langit.
“Pantai dong, bisa cuci mata lihat cewek seksi!” seru Awan.
“Asyik juga bisa mancing di pantai,” angguk Kakek Surya.
“Uh, tapi nanti kulitku jadi hitam,” keluh Lintang.
“Aku nggak ikut ya, aku mau kerja sambilan,” ucap Guntur.
Langit menatap Guntur dengan kening yang berkerut. “Kamu
masih kerja di situ? Katanya mau keluar?”
senang. “Aku sudah mengajukan resign, tapi bos memintaku jangan keluar sebelum
ada pengganti. Aku nggak enak kalau keluar begitu saja. Selama ini mereka
menerimaku yang tanpa kualifikasi. Aku juga mendapat banyak ilmu tentang
barista di sana.”
Langit memicingkan matanya. “Kalau begitu minta libur saja
dulu. Pokoknya kita mau liburan dan kamu harus ikut!”
“Ta-tapi—“
“Nggak ada tapi-tapian! Aku telepon bosmu sekarang.
Seenaknya saja mengeksploitasi anak orang!”
__ADS_1
Guntur melongo melihat Langit yang sudah meraih ponselnya. Dia
benar-benar menghubungi Bos Denis. Cowok itu menghela napas. Bekerja itu
sebenarnya hanya salah satu alasannya saja. Kalau tidak di Kafe bagaimana dia
bisa mencari alasan bertemu dengan Vina selama liburan.
“Hallo, Denis. Ini aku Langit. Aku minta anakku Guntur
diberi cuti seminggu. Kami sekeluarga mau liburan,” ujar Langit setelah
ponselnya terhubung dengan mantan teman lamanya itu. Pria tampak sedang menyimak
jawaban dari dalam ponselnya. Setelah beberapa detik dia memonyongkan bibirnya
dengan jengkel.
“Kenapa aku haru kasih tahu kamu kami mau liburan ke mana!”
ketusnya.
“Pokoknya kami mau liburan. Kalau kamu pecat ya pecat saja
sekalian!”
Guntur mau menyela, tapi Lintang menarik lengan bajunya.
Guntur melirik adiknya itu yang menggeleng kuat-kuat. Uh! Bos Denis dan Langit
memang berseteru. Kalau sekarang dia melawan ayahnya maka dia akan tampak
seperti berpihak pada bosnya itu. Guntur tidak ingin menyakiti perasaan
ayahnya. Cowok itu akhirnya hanya bisa menghela napas. Nanti dia akan menelepon
lagi Bos Denis dan bicara baik-baik. Semoga saja Bos Denis bisa mengerti.
“Sudah, katanya kamu dapat izin,” senyum Langit setelah menutup
telepon secara sepihak.
Guntur menatap ayahnya itu dengan wajah datar. Apanya yang
__ADS_1
dapat izin…
***