Fake Family (END)

Fake Family (END)
Episode 86


__ADS_3

Vina: Kakakmu aneh!


Lintang: Aneh gimana?


Vina: Tiba-tiba jadi baik. Terus minta maaf.


Lintang: Oh ya? 😃


Vina: Aneh, kan?


Lintang: Sama sekali nggak aneh.


Aslinya Kak Guntur emang kayak gitu.


😁😁😁


Vina: Pokoknya aneh!


Lintang: Itu berarti ...


Kak Guntur mulai suka sama kamu.


🤭🤭🤭

__ADS_1


Vina menampar pipinya agar bangkit ke kenyataan begitu selesai membaca pesan balasan dari Lintang itu. Pasti yang dimaksud Lintang bukan suka yang seperti itu. Mungkin maksudnya Guntur hanya sudah mengakui Vina sebagai rekan kerja saja. Tapi kenapa Vina tak bisa berhenti berharap ya? Sepertinya dia lebih baik diperlakukan kasar saja daripada seperti ini.


Panjang umur sekali, Guntur tiba-tiba muncul di ruang istirahat. Vina buru-buru memalingkan muka Sepertinya air matanya bakal keluar lagi kalau dia melihat wajah cowok itu.


Melihat reaksi Vi, Guntur berhenti sebentar. Dia setelah itu dia menerjang masuk dan meletakkan segelas kopi di atas meja di depan Vina. Vina melirik kopi itu. Itu buat dia? Tunggu dulu, jangan kegeeran. Barang kali Guntur mau minum sendiri. Vina memunggungi kopi itu dan berpura-pura mengecek ponselnya. Guntur jadi gamang.


"Itu kopi karamel," kata cowok itu akhirnya.


Vina terdiam sejenak lalu bertanya tanpa menoleh. "Terus?"


"Minum, biar kamu nggak nangis lagi."


"Aku nggak nangis!" seru Vina ngegas. "Mataku kemasukan debu aja!"


Wajar saja kalau Vina marah. Guntur sadar kata-katanya waktu itu memang keterlaluan. Tapi kini dia benar-benar menyesal. Tak bisakah Vina memberinya kesempatan untuk memperbaiki sikapnya?


"Kamu masih marah?" tanya Guntur.


"Kalau segampang itu minta maaf nggak bakal ada polisi," ketus Vina meskipun dalam hatinya dia kaget. Ternyata Guntur sungguh-sungguh.


"Jadi aku harus gimana?" tanya Guntur. "Aku harus gimana supaya kamu maafin aku?"


Vina tertegun. Dia diam-diam melirik pada Guntur yang berdiri di belakangnya. Baru pertama kali dia melihat ekspresi wajah Guntur yang seperti itu.

__ADS_1


***


Lintang tersenyum kecil. Dia senang sekali setelah membaca pesan dari Vina. Sepertinya sahabat dan kakaknya itu sudah berdamai.


Lintang memandangi sekeliling. Halaman sekolahnya sudah sepi. Dia baru pulang dari sekolah karena sempat mengikuti ekskul mading lebih dulu. Langit bilang dia akan menjemput tapi sudah hampir setengah jam belum muncul juga batang hidung laki-laki itu. Apa sebaiknya Lintang naik kendaraan umum saja ya?


Saat hendak menuju halte, Lintang terkejut melihat sosok seorang pria yang berdiri di sana. Pria dengan kumis dan janggut yang lebat itu pun sama kagetnya. Dia menatap Lintang dengan nanar.


"Lintang?" sapanya.


Lintang mundur selangkah. Dia berbalik kemudian berlari kembali ke gerbang sekolahnya. Sesekali dia menoleh ke belakang. Pria itu mengejarnya dan meneriakkan namanya.


"Salah orang! Anda salah orang!" seru Lintang sembari mempercepat langkah.


Di depan gerbang sekolah. Lintang melihat mobil Langit berhenti. Buru-buru Lintang membuka pintu depannya dan masuk ke dalam mobil. Dia melirik dengan cemas ke belakang. Syukurlah pria itu tampak bingung dan henti mengejar.


"Kamu kenapa? Kayak habis dikejar setan?" tanya Langit.


"Olahraga sore," kekeh Lintang sembari mengibaskan tangan untuk mengusir rasa gerah sehabis maraton.


Langit tak berkomentar. Namun, dia melirik pria yang mengejar Lintang tadi dari kaca spion. Siapa orang itu?


***

__ADS_1


__ADS_2