
"Apakah saya tidak layak dapat kesempatan kedua?"
Langit terdiam melihat ayah Lintang yang menangis di hadapannya. Dia tidak tahu harus bagaimana. Karena Langit hanya diam saja, pria itu menghela napas lagi.
"Saya mencari-cari Lintang tapi tak ada yang tahu di mana keberadaannya. Hingga saya bertemu dengan renterir yang memberitahu bahwa Andalah yang memungut Lintang. Lintang adalah harapan saya satu-satunya. Saya pikir bersama dengannya saya pasti bisa bangkit lagi."
Darmanto terdiam sejenak dan memandangi lantai. "Tapi hari ini saya sadar bahwa saya sangat egois. Lintang sangat bahagia bersama keluarga Anda. Dia bisa mendapatkan apa yang selama ini tidak pernah saya berikan padanya."
Pria berjanggut itu mengangkat kepalanya dan menatap Langit. Perlahan sebuah senyuman terbit di wajah. "Saya titipkan, Lintang pada Anda, Pak Langit. Tolong jaga dia."
Langit tercengung melihat Darmanto yang bangkit. Pria tua itu menyodorkan selembar uang lima puluh ribu dan beberapa uang dua ribuan, lima ribuan dan sepuluh ribuan. Langit bisa melihat bahwa yang tersisa di sana hanya selembar uang lima ribu rupiah saja.
"Ini untuk kopinya. Dan sisanya tolong berikan pada Lintang. Tolong jangan bilang kalau ini dari saya. Saya malu hanya bisa memberinya sebanyak ini."
Langit menolak uang itu. "Pak ini tidak perlu," geleng Langit, tetapi Darmanto memaksanya.
__ADS_1
"Saya juga punya harga diri, Pak Langit. Tolong terimalah. Dan tolong jaga Lintang baik-baik."
Pak Darmanto mengangguk kemudian melangkah keluar dari kafe. Langit sempat bengong sebentar dengan banyaknya uang yang dia terima. Dia juga belum membayar uang kopi. Akhirnua Langit menyerahkan kartu kreditnya pada kasir lalu mengejar ayah Lintang yang sudah hampir menuruni ekskalator.
"A-anda mau ke mana, Pak?" tanya Langit .
Pria itu hanya menoleh dan tersenyum. Tanpa menjawab apa-apa dia menaiki eskalator turun. Langit masih kebingungan dengan membawa uang di tangannya. Tiba-tiba saja dia dikejutkan lagi oleh sosok Lintang yang berlari melewatinya.
"Ayah!" teriak Lintang. Air mata gadis itu mengalir. Dia menuruni ekskalator dengan tergesa-gesa. Pak Darmanto yang mendengar suara putrinya itu berhenti dan menoleh. Lintang turun dari ekskalator dan memeluknya. Pria tua itu terdiam sesaat. Air matanya yang sempat kering kembali mengalir. Dia balas merenguh Lintang yang terisak-isak.
"Maafkan, Ayah, Nak. Maafkan Ayah," lirih pria itu di tengah tangisnya.
Ayah Lintang mengecup puncak kepala Lintang lalu melepaskan pelukannya. Lintang menengadah, menatap sosok ayahnya yang sudah semakin tua.
"Ayah mau ke mana?" tanya Lintang.
__ADS_1
"Ayah akan pulang ke Malang, ada teman Ayah yang menawarkan pekerjaan."
Lintang mengawasi ayahnya dengan gamang. "Ayah ... aku...."
"Ayah saat ini sebenarnya saat ini belum mampu kalau harus merawatmu, tinggallah bersama keluarga Pak Langit," potong Pak Darmanto sembari membelai wajah putrinya.
"Ayah akan sering menelepon kamu. Kita ini keluarga. Meskipun berpisah, suatu saat kita akan bertemu lagi."
Lintang mengangguk dan memeluk ayahnya lagi. Suhu dan aroma tubuh ayahnya yang hangat membuatnya teringat dengan masa kecilnya ketika sang ayah menggendongnya. Ini ayahnya. Ayahnya, sudah kembali.
Langit yang berdiri di lantai dua mengusap air matanya. Dia terharu melihat adegan epik antara Lintang dengan ayah kandungnya. CEO itu terkesiap ketika keluarganya yang lain muncul dari belakang dengan mata yang berkaca-kaca.
"Yang palsu tidak bisa menggantikan yang asli, Langit," kata Awan sembari menepuk pundak adiknya.
"Ya," angguk Langit lalu tersenyum kecil.
__ADS_1
Guntur yang menggendong Chandra dalam pelukannya hanya terdiam. Seandainya ayahnya masih hidup, apakah dia juga bisa memaafkan ayahnya seperti Lintang? Guntur menerawang dan mengingat masa kecilnya. Jauh sebelum ayahnya di PHK. Guntur pernah berjalan-jalan bersama sang ayah ke kebun binatang. Ayahnya menggendongnya sembari tertawa, lalu mereka memberi makan jerapah. Guntur menutup matanya sejenak. Ya ... ternyata ada kenangan indah seperti itu dalam hidupnya.
***