Fake Family (END)

Fake Family (END)
Episode 22


__ADS_3

"Bagus deh, sebenarnya aku agak kewalahan nih, soalnya yang lain pada malas menemani Chan-chan bermain, kalau aku pulang mereka langsung kabur dan lepas tanggung jawab merawat Chan-chan," kata Langit senang.


Lintang tercengung. Kasihan juga Langit, sudah kerja capek-capek di rumah masih harus merawat Chan-chan dan memasak, pantas saja kalau nggak sempat bersih-bersih.


"Lumayan juga nih, punya anak perempuan. Rumah jadi bersih begini. Lanjutkan ya, Lintang," kata Langit sambil memandang sekeliling rumah yang bersih dengan senang.


"Enak saja, aku bukan pembantu! Apa lagi rumah ini luas banget!" Lintang menggerutu. Jujur Lintang capek sekali membersihkan Istana Langit yang sangat luas itu.


"Nanti kuberi uang saku tambahan, deh," rayu Langit.


Mata Lintang langsung hijau mendengar kata uang. Dengan wajah berbinar-binar dia menatap Langit antusias. "Benar ya! Sehari lima pulu ribu!"


"Oke, oke," kata Langit sambil tertawa.


"Tapi, memangnya Tante nggak pernah bersih-bersih ya? Sebagai wanita apa dia nggak merasa risih melihat rumah yang kotor?" tanya Lintang agak bingung dengan kelakuan tantenya itu. Dari luar da terlihat cantik dan anggun tapi ternyata tak suka bersih-bersih dan anak kecil, apa lagi juga merokok.


Langit tertawa. "Dia sih nggak bisa diharapkan, kamu sudah lihat sendirikan semalam, kan? Dia itu sama sekali nggak feminim, marah sedikit langsung main tonjok. Dulu dia mantan ketua geng motor, lho! Dia bahkan lebih pandai berkelahi dari aku."


Lintang terbelalak. Ketua geng motor? Untuk wanita secantik dan seanggung Awan? Lintang sama sekali tak percaya.

__ADS_1


Langit menurunkan Chandra dari gendongannya ke lantai. "Ayah ganti baju dulu ya, Sayang. Habis itu bantu ayah memasak," kata Langit pada Chandra.


"Ayo masak! Ayo masak!" seru Chandra riang gembira.


"Nggak apa-apa tuh, anak sekecil itu diajak masak?" Lintang memprotes.


"Begini-begini dia lebih jago masak darimu," ejek Langit sambil menyeringai.


Lintang mencebik. Harga dirinya sebagai wanita runtuh seketika. Sambil mendengus karena merasa terhina Lintang naik ke atas. "Ya sudah, aku mau ke kamarku, kalau sudah matang panggil aku," kata Lintang sambil melangkah lebar-lebar karena kesal. Langit hanya tertawa melihatnya.


Lintang merasa lelah sekali setelah membersihkan seluruh penjuru rumah. Lintang mengutak-atik ponsel barunya. Ada beberapa pesan dari teman-teman barunya yang segera di jawabnya.


"Iya, sebentar."


Awan membuka pintu. Dilihat dari sudut manapun Awan memang cantik meski hanya memakai kaos oblong dan celana pendek. Walau bagaimana pun Lintang tetap mengagumi kecantikannya. "Ada apa Lintang?" tanya Awan sambil tersenyum ramah yang membuatnya terlihat semakin memesona.


"Anu Tante, aku mau minta charger HP-ku sekalian headset-nya," kata Lintang.


"Oh iya, masuklah."

__ADS_1


Awan membuka pintu lebar-lebar dan membiarkan Lintang masuk ke dalam kamarnya. Lintang memandangi kamar Awan dengan luar biasa takjub karena luar biasa kotornya, segala macam benda berserakan di segala penjuru. Banyak design-design baju berceceran di lantai kamar. Sama sekali tak bisa di bilang kamar perempuan.


"Duduklah, Lintang," kata Awan.


Lintang tersenyum, dia bingung mau duduk di mana. Saking banyaknya barang sampai tak ada space untuk duduk. Lintang akhirnya merapikan beberapa design di lantai agar dia bisa duduk di sana. Lintang memandangi gambar design itu dengan kagum.


"Ini gambar Tante?" tanya Lintang.


"Benar, kamu tahu, kan, perusahaan ayahmu konveksi Sekar Langit? Aku sekretaris merangkap designer di sana," jawab Awan sambil tersenyum.


Lintang menyengih. Dia merasa parah juga, karena tidak mengetahui pekerjaan ayahnya dan tantenya. Lintang memandangi sekeliling kamar Awan, kamar itu cuku luas, ukurannya kira-kira sama dengan kamar Lintang. Yang membuat kamar ini tampak penuh adalah karena banyak sekali kertas dan kain yang bertebaran di mana-mana. Lintang melihat sebuah mesin jahit di pojok ruangan dan sebuah foto digantung di dinding di atas mesin jahit itu. Foto seorang gadis yang wajahnya sangat mirip dengan Awan tapi jauh lebih muda mungkin sekitar dua puluh tahun. Gadis itu tersenyum sangat cantik pada kamera sambil membawa bunga di tangannya. Lintang bangkit agar bisa mengamati foto itu dari jarak yang lebih dekat.


"Ini foto Tante waktu masih muda?" tebak Lintang.


Awan melihat ke arah foto yang yang ditunjuk oleh Lintang, seketika wajahnya berubah menjadi sendu. "Bukan, itu adiku," jawab Awan.


"Oh begitu, kalian mirip sekali, di mana dia sekarang?" tanya Lintang.


"Sudah meninggal."

__ADS_1


__ADS_2