
"Kenapa Lintang, kok ngelihatin serius begitu? Kamu mau dibersihkan juga telinganya?" tanya Langit karena menyadari Lintang sedari mengamatinya dengan serius.
Lintang langsung tersadar dan menggeleng kuat-kuat. "Eh, enggak, nggak usah."
"Nggak usah malu, ayo sini!"
Langit menarik Lintang dan memaksa Lintang meletakan kepala di pangkuannya. Lintang terkejut karena perbuatan Langit yang tiba-tiba itu dan nggak sempat melawan.
"A-apa-apaan sih!"
Lintang mau berontak dan bangkit tapi Langit menekan kepalanya kuat-kuat. Langit mengintip ke lubang telinga Lintang dengan senter di tangannya dan terbelalak.
"Astaga! Ada museum lilin di dalam sana!" seru Langit.
"Eh? Kotor banget ya?" kata Lintang kaget.
"Wah, cantik-cantik jorok ya," olok Awan. Lintang mencibir mendengarnya.
"Sebentar ya, jangan gerak dulu."
Langit memasukan logam panjang itu ke telinga Lintang dan mulai membersihkan telinga Lintang. Lintang merasa jantungnya seakan ingin meloncat keluar. Dia tidur di pangkuan Langit dan wajah cowok itu sangat dekat dengan telinganya.
"Lihat ini!" kata Langit setelah berhasil mengeluarkan kotoran dari telinga Lintang dan meletakannya di atas kassa Steril. Kotoran itu sebesar biji jagung. Lintang dan Awan melongo melihatnya.
__ADS_1
"Astaga Lintang, selama ini kamu denger nggak sih kalau di ajak ngomong?" tanya Awan tak percaya.
"Ya ... agak gak dengar sih."
"Dasar, kapan terakhir telingamu dibersihkan?"
"Kayaknya seumur hidup belum pernah dibersihkan deh, aduh plong banget rasanya."
Lintang memegangi telinga kirinya dengan lega. Langit memandangi kotoran telinga Lintang itu dengan terkagum-kagum.
"Dibiarkan setahun lagi sudah jadi berlian nih, coba lihat telinga satunya."
Langit lagi-lagi memaksa Lintang tidur di pangkuannya. Kali ini Lintang menghadap ke perut Langit. Kaos yang dipakai Langit sedikit nyingkap dan memperlihatkan pusarnya.
"Yang ini lebih parah!" kata Langit nggak percaya setelah mengintip ke lubang telinga Lintang dengan menggunakan senter.
"Mana-mana?" kata Awan penasaran, dia lalu ikut mengintip ke lubang telinga Lintang.
"Wah, kalau seperti itu sih, dibawa ke THT saja," kata Awan sambil berdecak-decak.
"Coba kubersihkan dulu," kata Langit antusias.
Langit pun membersihkan kotoran telinga Lintang dengan seksama dan menghabiskan waktu yang lumayan lama saking banyaknya kotoran di telinga kanan Lintang.
__ADS_1
"Aku takjub kamu masih bisa dengar kalau diajak ngomong Lintang," kata Langit setelah di selesai mengeluarkan semua kotoran dari telinga Lintang dan meletakannya di atas kassa steril dan memandanginya dengan kagum.
"Gimana rasanya?" tanya Langit pada Lintang. Tapi gadis itu tidak menjawab. Rupanya dia tertidur pulas saking lamanya menunggu telinganya selesai dibersihkan oleh Langit.
"Wah dia malah tidur," kata Langit sambil tertawa.
Langit memandangi wajah tidur Lintang yang damai di atas pangkuannya. Langit pun jadi tak tega membangunkannya.
"Dia manis banget ya kalau tidur begini," kata Langit.
Awan yang sedang menari-nari lagu Barney dengan Chandra pun terkesiap mendengar kalimat Langit. Awan menoleh dan melihat Langit yang memandangi Lintang yang tidur dipangkuannya dengan antusias.
"Hayo Langit ... Dia itu anakmu lho! Jangan inces ya!" tuduh Awan.
"Enak saja, siapa yang inces! Aku cuma bilang kalau dia manis," Langit berdalih.
"Tante! Ayo menali lagi!" pinta Chandra sambil menggeret-geret Awan.
Awan terpaksa mengikuti Chandra menari mengikuti video Barney. Langit hanya duduk diam di atas karpet sambil memandangi wajah tidur Lintang yang damai di pangkuannya.
"Biar deh, dia tidur sebentar lagi."
***
__ADS_1