
Langit menepikan mobil dan mematikan mesinnya. Dia menunduk dan menghela napas.
"Dia mantan istriku," lirihnya.
"Kami tidak berpisah dengan baik-baik, makanya aku ingin melupakan semuanya."
Lintang tercengung. Tidak berpisah dengan baik-baik. Dia jadi ingat obrolan Langit dengan Chef Sarah dan Bosnya tadi. Anak mereka meninggal dan mereka tidak menikah. Mungkinkah dua orang itu berselingkuh sehingga Chef Sarah bercerai dengan Langit. Lintang ingin mengkonfirmasi spekulasi dalam benaknya namun tidak berani. Sepertinya dia menaburkan garam pada luka lama Langit jika mengatakan hal itu.
"Berpisah dengan tidak baik-baik? Dia selingkuh?"
Netra Lintang membelalak mendengar pertanyaan santai dari saudaranya itu. Guntur ini ceplas-ceplos banget sih! Dasar nggak peka!
Langit menghela napas. "Aku yang salah," keluhnya. "Sepuluh tahun lalu perusahaanku bangkrut. Aku kehilangan semua aset dan hutang yang menumpuk. Aku sangat takut, lalu aku kabur dari rumah."
Lintang ternganga. Dia tidak pernah menyangka Langit punya pengalaman hidup seperti itu.
"Sebulan bulan aku hidup seperti gelandangan. Sampai akhirnya aku mendapatkan keberanianku kembali. Begitu aku pulang, Sarah hamil."
"Dia ... hamil dengan Bos Dennis?"
__ADS_1
Lintang sungguh takjub pada Guntur yang bisa menanyakan hal sensitif seperti itu dengan santai. Dasar manusia kejam! Lintang melirik ayahnya. Pria itu menutup mata dan menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi.
"Aku yang salah. Akulah yang meninggalkan dia. Aku terlalu percaya diri bahwa dia tidak akan mengkhianatiku."
"Kamu itu bodoh ya!" umpat Guntur emosi. "Jelas mereka yang selingkuh kenapa kamu malah menyalahkan dirimu sendiri!"
"Nggak, aku yang salah. Aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku dan tidak memedulikan dia. Saat bisnisku bangkrut aku malah melarikan diri. Sementara Dennis selalu ada untuknya."
Langit membuka matanya perlahan. "Karena itu kulepaskan dia, agar dia bisa bersama Dennis dan bahagia."
Langit menoleh pada Guntur dengan tatapan sendu. "Guntur, bisakah kamu berhenti bekerja? Aku mohon."
"Terima kasih," senyum Langit. Dia menyalakan mesin mobil. Benda itu pun melaju lagi menuju rumah. Tidak ada satupun yang bicara lagi selama dalam perjalanan. Mereka semua tenggelam dalam kesunyian.
***
Lintang berdiri di ruang cuci sembari memilah-milah baju putih dan baju berwarna. Pikirannya masih berlari-lari tentang masa lalu Langit yang didengarnya kemarin. Dia masih tidak habis pikir Langit ternyata pernah mengalami kejadian seperti itu.
"Sweet heart!" sapa Awan yang muncul dari pintu sembari membawa sekeranjang penuh cucian.
__ADS_1
"Cucikan bajuku juga ya," pintanya.
Lintang berdecak tidak senang namun menerima linen itu dengan pipi yang menggelembung. Dasar para lelaki di rumah ini! Mereka tak pernah mau membantunya menyelesaikan pekerjaan.
"Tante, apa kamu tahu tentang mantan istri Langit?"
Netra Awan membelalak. Dia menatap Lintang dengan serius.
"Dia menceritakannya padamu?" Cowok itu malah balik bertanya.
"Kami hanya nggak sengaja ketemu," jelas Lintang.
Awan menghela napas. "Jangan kamu singgung soal itu sama Langit.
"Kenapa?" tanya Lintang pura-pura ****.
"Mereka berpisah dengan tidak baik-baik. Aku juga nggak berharap nggak bertemu lagi sama cewek lemah itu. Gara-gara dia, Langit sempat depresi berat. Memang benar Langit salah karena kabur dari rumah, tapi langit hanya pergi sebulan sementara kehamilan cewek itu sudah hampir dua bulan. Di saat suaminya kesusahan dia malah berselingkuh! Gara-gara dia juga Langit jadi trauma menjalin hubungan dengan lawan jenis. Yah meskipun main rumah-rumahan seperti ini cukup menyenangkan, tapi seharusnya Langit bisa membangun keluarga sendiri yang normal."
Lintang tak berkomentar apa pun. Dia memasukkan baju berwarna ke dalam mesin cuci lalu menyalakannya.
__ADS_1
***