
Perjalanan menuju Bali tidaklah mudah. Dipenuhi halangan dan rintangan banget pokoknya. Kakek yang dikit-dikit minta berhenti di setiap pom bensin gara-gara pengen pipis. Maklumlah yah udah tua. Langit juga rada ngantuk dan kecapekan jadi nyetirnya gantian sama Awan. Chan-chan yang ribut banget kayak radio rusak. Nyanyi segala lagu anak-anak. Mana dia wara-wiri ke depan ke belakang, terus jatuh dan nangis. Lintang yang ternyata mabuk dan hampir muntah. Riko yang ngorok dan suaranya kenceng banget. Bikin kepala pusing pokoknya.
Guntur duduk di belakang aja mah sambil dengerin headset. Ini liburan macem apa sih kok kayaknya dia ga busa santuy malah menderita. Uh, tapi masih adalah satu hal yang bikin hatinya adem. Pas Guntur ngelihatin Vina yang ketawa-ketawi sama Bu Nina. Ternyata duo itu sama-sama penggemar K-Pop gitu jadinya cepet akrab. Guntur mayun ngelihatin Vina muji-muji Jungkook BTS apa sapa gitu. Emang seganteng apa sih dia sampai Vina kelihatan seneng banget gitu?
"Kak, lihat Kak! Yang ini roti sobeknya mantap!" Vina mengacungkan jempol pada Bu Nina yang mengangguk-angguk semangat.
"Huh, kalau roti sobek doang aku juga punya," kata Awan yang tiba-tiba nimbrung aja. Itu om-om udah balik duduk di sebelahnya Guntur lagi.
"Masa sih? Bukannya roti boy?" ejek Lintang yang udah bisa komentar setelah dia habis tengkuk dan kepalanya dia diurut tadi sama Langit pake minyak kayu putih.
"Punya dong! Lihat aja ntar klo berenang di pantai aku pamerkan!" seru Awan emosi.
__ADS_1
Roti sobek ... Jadi si Vina demen sama roti sobek? Guntur memikir kan itu di dalam hatinya. Dia punya sih, tapi Guntur tidak suka memamerkan tubuhnya yang penuh luka. Bekas penganiayaan dari ayah kandungnya yang diterima bertahun-tahun lalu itu ternyata tak menghilang sampai sekarang.
"Tapi kamu kan nggak bisa berenang, Wan," kata Langit yang buka kartu. Awan ngambil kacang pilus dan melemparkannya pada sopir itu.
"Apa? Ada orang tak bisa berenang?" ucap Lintang lebay. Seneng banget kayaknya dia. Awan jadi tambah kesel. Kenapa sih dua orang ini nggak mau dia kelihatan keren dikit aja gitu.
"Yang namanya manusia itu wajar kalau punya kelebihan dan kelemahan, kan? Kayak kamu tuh, Lin, kelebihan berat badan dan kekurangan tinggi badan." Awan balas mengejek lebih menyakitkan.
"Nanti aku ajari berenang, Kak," kata Bu Nina dengan senyuman manis bak malaikatnya. Awan tentu saja jadi tambah semringah.
"Beneran mau ngajarin aku?" tanyanya antusias. Ada untungnya juga dia ga bisa renang yak. Ah, seneng banget Awan sama Bu Nina, benar-benar wanita cantik yang menerima dirinya apa adanya. Tapi Awan belum berani cerita sih kalau dia suka cross dressing gitu, ntar dia dikira banci lagi sama Bu Nina.
__ADS_1
Vina diam-diam melirik Guntur. Cowok itu melek tapi diem aja nggak komentar di telinganya terpasang headset sih, mungkin dia lagi dengerin musik. Vina nggak nyangka dia bakal liburan sama Guntur begini. Kayaknya hal seperti ini tuh dulu cuman ada dalam mimpinya dia aja. Vina menghela napas dan menyandarkan punggungnya pada kursi. Kenapa sih dia jadi berharap lagi. Padahal hubungannya sekarang sudah cukup baik. Kalau Guntur tahu Vina masih menyimpan rasa suka, mungkin cowok itu akan bersikap dingin lagi.
Nggak boleh Vina! Kamu nggak boleh ketahuan! Vina memarahi dirinya sendiri.
"Pecel Lele Mbok Darmi, Bakso Malang, Soto Lamongan."
Vina mengernyit dahi mendengar ucapan Guntur itu yang tiba-tiba itu. Rupanya dia lagi baca nama-nama warung di pinggir jalan.
"Eh, udah waktunya makan siang yak. Kalau gitu ayo kita berhenti dan makan dulu." Ini kata Langit.
Vina tertawa kecil. Ternyata itu Guntur lagi ngode ke ayahnya kalau dia laper. Imut banget ga sih?
__ADS_1