
Lintang mondar-mandir di ruang keluarga dengan galau. Dia terus memandangi ponselnya yang tak juga berdering. Karena dia perempuan, Langit melarangnya ikut menolong Chandra.
Lintang mendengar suara pintu rumah terbuka, Lintang pun bergegas berlari ke ruang tamu. Lintang bernafas lega saat melihat Surya dan Chandra masuk ke dalam rumah.
"Chan-chan! Kamu baik-baik saja! Syukurlah." Lintang langsung berhambur dan memeluk Chandra. Chandra balas memeluknya dengan erat.
Setelah puas memeluk Chandra, Lintang baru menyadari kalau ada luka di sudut bibir Chandra.
"Ya ampun, Chan-chan, ini sakit?" tanya Lintang.
"Sakit sekali ... aku tadi dipukul," rengek Chandra.
"Sebentar ya kuambilkan obat."
Lintang membuka kotak P3K dan mengambil larutan antiseptik dan membersihkan luka Chandra. Chandra senggukan karena menahan rasa sakit. Surya membaringkan tubuhnya di kursi dengan menghela napas.
"Hah ... akhirnya hari ini selesai juga."
Setelah membersihkan luka Chandra, Lintang baru sadar kalau Langit dan Awan belum kembali. Dia lalu menanyakan hal itu pada Surya. Surya mengibas-ngibaskan tangannya dan menjawab.
"Tenang saja, mereka akan segera kembali."
__ADS_1
Tak lama kemudian telepon rumah keluarga Langit berdering. Surya yang berada paling dekat dengan telepon rumah itu pun langsung mengangkatnya.
"Iya, Hallo?"
Surya diam dan mendengarkan suara dari dalam telepon dengan seksama. Lintang mengamati perubahan ekspresi pada wajah Surya. Tanpa bertanya Lintang tahu bahwa hal buruk sedang terjadi lagi.
"Baiklah, aku segera ke sana," kata Surya. Dia langsung menutup telepon dan bangkit berdiri,
"Ada apa lagi, Kek?"
"Langit, sekarang dia dirawat di rumah sakit."
"Apa?"
***
"Di mana Langit sekarang?" tanya Surya.
"Di dalam," jawab Awan singkat.
"Bagaimana kejadiannya? Kenapa dia bisa terluka?"
__ADS_1
Awan melempar pandangan penuh amarah pada Guntur.
"Semua gara-gara si bodoh ini! Karena dia sok ikut berkelahi dan nggak mau pergi! Langit terluka karena melindunginya!" bentak Awan.
Guntur hanya diam. Surya dan Lintang puntak bisa berkomentar apa-apa. Pintu ICU terbuka, munculah sang dokter yang mengenakan pakaian steril dari dalam ruangan. Awan dan Guntur langsung bangkit dari kursi. Seluruh keluarga Langit menghampiri dokter dengan cemas.
"Ba-bagaimana kondisinya,Dok?" tanya Surya tergagap.
"Anda keluarganya?" Sang Dokter malah balik bertanya.
"Iya, kami semua keluarganya," jawab Awan.
"Dua orang boleh ikut Saya sebentar," kata Dokter itu
Surya dan Awan mengikuti dokter itu. Dengan canggung Lintang duduk di samping Guntur, sementara Chandra duduk pangkuannya. Ini adalah petemuan pertama Lintang dengan Guntur setelah cowok itu menghilang selama satu bulan.
"Guntul, kenapa menangis?"
Lintang tertegun mendengar pertanyaan Chandra yang lugu itu. Lintang menoleh dan lebih tertegun lagi saat melihat air mata yang mengalir deras dari mata cowok itu. Baru pertama kali Guntur terlihat manusiawi seperti ini. Lintang tidak menyangka bahwa Guntur juga bisa menunjukkan ekspresi seperti itu.
"Kok menangis sih? Kok nggak tersenyum lagi sih?" tanya Chandra dengan lugunya.
__ADS_1
Guntur tidak menjawab. Cowok itu hanya memeluk lutut untuk menyembunyikan wajahnya. Namun Lintang bisa melihat bahunya yang bergetar. Lintang hanya diam. Tak ada satu pun kata yang bisa diucapkannya untuk menghibur atau pun menenangkan kakak palsunya itu.
***