
"Minggu depan semua agenda ditiadakan!" ucap Lintang. Dia duduk melingkar bersama dengan keluarganya di ruang tengah terkecuali Langit yang belum pulang kerja. Mereka tengah mengadakan rapat dalam rangka penyambut hari ulang tahu kepala keluarga mereka. Lintang mendapatkan mandat sebagai ketua pelaksana.
"Tante bertugas sebagai sie konsumsi, Kakek sie dokumentasi, Kak Guntur sie dekorasi, Chanchan si penggembira. Kita harus sukseskan event ini!" ucap Lintang mengkoordinasi keluarganya.
"Oke!" seru seluruh anggota keluarga kompak.
"Ada apa nih?" Orang-orang itu hampir melompat ketika mendengar suara Langit. Pria itu muncul dari ruang tamu sembari membawa sekotak pizza di tangannya.
"Tumben kumpul-kumpul begini, lagi bahas apa?" tanyanya penasaran.
"Nggak ada apa-apa kok," dalih Awan. Anggota keluarga yang lain langsung membubarkan diri. Langit memandangi mereka semua dengan curiga.
"Ini aku bawa pizza, kalian mau nggak?" tawarnya.
"Mau," jawab Guntur yang maju duluan dan mengambil pizza itu dari ayahnya. Awan tak mau kalah. Kedua pria itu dengan cepat menghabiskan setengah loyang pizza sementara yang lain hanya mendapatkan potongan kecil.
"Ayah," panggil Lintang.
"Iya, ada apa Sayangku?" tanya Langit dengan mata berbinar. Jarang-jarang Lintang memanggilnya dengan gelar kehormatan.
"Minggu depan pembagian raport tengah semester. Ini undangannya." Lintang menyerahkan selembar surat pada Langit. Pria itu membacanya sekilas lalu mengangguk.
"Guntur juga raportan dong?" tanya pria itu padanya.
__ADS_1
"Kayaknya sih iya, kita kan satu sekolah," jawab Guntur cuek sembari mengunyah pizza.
"Dasar! Seumur hidup sepertinya Ayah belum pernah ngambil raportmu," decak Langit.
"Alah, nggak udah diambil juga nggak apa, santuy aja," ucap Guntur meremehkan.
Lintang membuka kembali laptop dan mengerjakan tugasnya. Sementara Awan dan Guntut langsung kembali ke kamar setelah makanan habis. Kakek juga pamit untuk tidur lebih awal. Di ruang tengah itu hanya tersisa Lintang bersama Langit yang menemani Chandra menonton ulang CD Barney. Namun karena sudah cukup larut, Chandra sudah tidak bisa membuka mata setelah sepuluh menit. Bocah itu tertidur nyenyak dalam pangkuan Langit. Lintang diam-diam melirik ayah angkatnya itu. Kini dia harus mengakui bahwa Langit sangat kompeten sebagai seorang ayah. Sesibuk dan selelag apa pun Langit selalu menyempatkan waktu untuk menyapa keluarganya.
"Kamu ngerjain apa, Lin?" tegur Langut.
"Tugas laporan praktikum kimia tadi, dikumpulkan besok," terang Lintang.
"Kamu sudah benar-benar berhenti dari Kafe itu kan?"
"Sudah kok," kata Lintang.
"Baguslah," angguk Langit yang tampak lega. "Guntur katanya belum bisa berhenti sebelum dapat pengganti."
Lintang memandangi Langit penasaran. "Langit."
Mendengar panggilan itu, bibir Langit langsung monyong lima senti.
"Kenapa nggak manggil ayah lagi kayak tadi!" protesnya.
__ADS_1
"Kenapa kamu nggak nikah lagi?" tanya Lintang tanpa memedulikan ocehan ayah angkatnya.
Langit terdiam. Dia berpura-pura menimang Chandra. "Aku nggak mau ditinggalkan," jujur pria itu. "Hubungan suami-istri itu terlalu rapuh. Ketika cinta sudah menghilang, semuanya benar-benar seperti orang lain. Tapi hubungan ayah dan anak dan juga saudara tidak seperti itu. Tidak ada mantan anak dan mantan saudara."
Lintang tertegun. Dia jadi mengingat ucapan Awan di ruang cuci beberapa hari lalu. Sepertinya Langit trauma menjalin hubungan dengan wanita karena mantan istrinya.
"Kamu itu bodoh," olok Kakek yang tiba-tiba muncul. Pria itu mengambil satu botol soda besar dan membawanya ke ruang tengah. Pria itu duduk bersila di samping Langit dan Lintang. Dia menuangkan minuman karbonasi itu pada gelas dan mengulurkannyan pada Langit. Dengan bingung Langit menerima dan meneguknya sedikit-sedikit.
"Di dunia ini tidak ada kebersamaan yang selamanya. Suatu saat nanti kita juga pasti berpisah. Awan, Guntur, Lintang dan Chandra suatu saat nanti akan menikah dan membangun keluarganya sendiri. Lalu aku semakin tua dan mati."
"Tapi itu masih lama," dalih Langit.
"Oh ya? Siapa tahu saja, besok Lintang tiba-tiba hamil dan menikah," kekeh Kakek.
Netra Langit langsung membeliak dia menatap Lintang dengan garang. "Kamu hamil Lintang?" tuduhnya.
"Nggaklah!" elak Lintang emosi.
Kakek terbahak-bahak melihat anak dan cucunya itu berseteru. "Kamu itu jangan terlalu naif, Langit. Justru seorang isteri yang akan mendampingimu dan menua bersamamu. Kamu kan tahu itu," ucap Kakek sembari meneguk soda yang dituangnya ke dalam gelas.
"Kalau kamu menginginkan keluarga yang sebenarnya kamu harus menikah. Bukalah hatimu untuk belajar mencintai lagi," senyum Kakek.
Lintang mengamati Langit yang hanya terdiam sembari memeluk Chandra erat-erat. Dalam hatinya, Lintang berharap semoga pria itu bisa sembuh dari traumanya suatu saat nanti. Langit adalah orang yang baik, dan dia pantas untuk bahagia.
__ADS_1
***