Fake Family (END)

Fake Family (END)
Episode 97


__ADS_3

Lintang menoleh ke belakang dengan was-was. Dia tadi sempat melihat sosok ayahnya yang bersembunyi di balik rak. Pria itu mengikutinya yang sedang berbelanja bersama keluarga Langit. Mau apa sih dia sebenarnya?


"Guntur, bisa gendong kan Chandra, sebentar? Aku mau kebelet pipis," kata Langit sembari menunjuk Chan-chan tertidur pulas dalam gendongannya.


"Ya," jawab Guntur sembari mengambil alih bocah umur lima tahu itu dari ayahnya.


Langit pun segera pergi. Lintang tertegun melihat arah Langit yang berlawanan arah dengan toilet. Pria itu justru menuju ke rak tempat ayahnya bersembunyi tadi. Apa dia mengajak ayah kandungnya bicara? Lintang jadi penasaran.


"Aku juga mau ke toilet," kata Lintang berpamitan pada keluarganya.


"Kalian ini kenapa sih beser semua!" olok Awan. Tapi Lintang tak menggubrisnya dan segera pergi menyusul Langit.


"Kok mereka ke situ sih, toiletnya kan sebelah sana." Surya menunjuk papan di langit-langit yang menunjukkan arah toilet.


"Tadi aku lihat si brengsek itu di rak belakang kita," kata Guntur.


"Si brengsek siapa? Ayahnya Lintang?" tebak Awan. Sejujurnya dia juga melihatnya tapi tidak begitu yakin.


Guntu mengangguk. "Mungkin Langit mau bicara dengannya."

__ADS_1


***


"Pak Darmanto."


Panggilan Langit itu membuat Ayah Linta terkejut. Dia bergegas kabur, tapi Langit yang berlari lebih cepat bisa menghadangnya.


"Bisa kita bicara sebentar, Pak?" tanya Langit sembari merentangkan kedua tangan untuk menghalangi Darmanto.


Darmanto yang tidak bisa pergi ke mana-mana hanya bisa menghela napas, kemudian mengangguk.


Maka Langit dan Darmanto menuju sebuah kafe di lantai dua. Darmanto tampak bingung ketika melihat daftar menu yang ditunjukkan waitress. Netra Langit mengamati sosok ayah Lintang itu dari atas sampai bawah. Pria itu tampak lebih tua daripada kemarin. Dia masih memakai baju yang sama. Baju warna hitam dengan jaket hitam. Janggut dan kumisnya tumbuh dengan subur dan tidak dicukur.


Langit tertegun. Pria ini baru keluar dari penjara. Mungkin dia belum punya pekerjaan tetap dan uang. Bahkan untuk membeli kopi seharga lima puluh ribu saja dia tidak mampu. Langit tersenyum dan mengangguk. Dia memanggil pelayan lalu berkata, "Amerikano dua."


Pak Darmanto terperangah. Apakah Langit bermaksud mentraktirnya? Darmanto terdiam lalu menunduk dalam.


"Saya minta maaf Pak Darmanto atas sikap kasar Kakak dan anak saya kemarin," kata Langit.


"Anak? Yang memukuliku kemarin itu anak Anda?" tanya Pak Darmanto tidak percaya karena jarah usia mereka yang terlalu dekat.

__ADS_1


"Benar, dia anak angkat saya. Sama sepeti Lintang," senyum Langit.


"Keluarga saya, hanya emosi sesaat Pak, karena kami semua sangat menyayangi Lintang."


Darmanto menghela napas. "Ya, saya bisa melihatnya. Lintang sangat bahagia bersama keluarga Anda. Sudah lama saya tidak melihatnya tertawa seperti itu."


Langit terdiam. Waitress datang dan menyuguhkan kopi yang mereka pesan. Darmanto dan Langit pun menikmati minuman berwarna hitam itu sejenak.


"Kopi yang mahal memang beda rasanya ya," kekeh Darmanto. Tawa mirisnya membuat Langit merasa sakit.


"Saya sudah mendengar semua cerita tentang Anda dari Lintang," katanya.


"Begitu ya ... jadi Anda sudah tahu kan?" ucap Darmanto tenang sembari mengaduk-aduk kopinya.


"Saya tidak becus mengurusi binis dan juga keluarga. Saya juga kriminal. Meskipun begitu saya sudah banyak merenung selama saya di penjara. Ketika saya pulang, saya harap saya bisa memperbaiki semuanya, tapi ternyata...."


Pak Darmanto menarik napas untuk menahan air matanya yang hampir menetes. "Saya bahkan tidak tahu istri saya mengidap kanker. Dan selama ini saya menyakitinya. Sa-saya ... saya...."


Darmanto tak dapat menahan tangisnya lagi. Pria itu mengusap ingusnya. "Apakah saya tidak layak untuk mendapatkan kesempatan kedua?"

__ADS_1


***


__ADS_2