
Waktu berlalu dengan cepat, jam dinding sudah menunjukan pukul 23.30 malam. Namun sama sekali belum ada kabar dari Guntur. Surya menguap dengan lebar karena rasa kantuk yang tidak disembunyikannya. Langit melihat jam dinding. Rupanya sudah lebih dari empat jam dia terus berusaha menghubungi Guntur dan tetap tidak ada hasil.
"Sudah jam segini. Kalau Ayah mau tidur, duluan saja," kata Langit.
"Eh ... eng ... nggak apa nih?" tanya Surya merasa tidak enak.
"Iya, Ayah tidur saja. Ayah pasti lelah," kata Langit mengerti.
Surya pun berpamitan masuk ke kamarnya. Langit baru teringat pada Lintang dan Chandra. Kedua anak angkatnya itu sudah tertidur di depan TV yang masih menyala. Chandra tertidur pulas di pangkuan Lintang. Langit mengguncang-guncangkan bahu Lintang untuk membangunkan gadis itu.
"Lintang, bangun Lintang, tidur di kamar jangan tidur di sini."
Lintang mengerjap-ngerjapkan matanya yang merah. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri dengan terkejut.
"Mana Kak Guntur?" tanyanyq.
"Dia belum pulang, pindah tidur di kamar sana."
Langit menggendong Chandra dengan perlahan dari pangkuan Lintang dan membawanya menuju kamar. Lintang mengucek-ucek mata. Sebelum pergi ke kamar, Lintang merapikan kaset DVD yang berserakan kembali ke tempatnya terlebih dahulu.
Langit keluar dari kamar Chandra dan duduk kembali di Sofa. Dia kembali mengutak-atik ponselnya berusaha menghubungi Guntur lagi. Lintang memandang Langit dengan prihatin. Dia merasa bersalah. Guntur pergi karena dirinya.
__ADS_1
"Kamu tidak tidur?" tanya Lintang.
"Aku mau menunggu Guntur dulu. Mungkin nanti dia pulang," kata Langit sambil tersenyum.
Lintang makin merasa nggak enak. "Maaf... Ini semua... gara-gara aku," lirihnya.
Lintang menunduk dengan sedih. Langit tersenyum dan mengelus-elus puncak kepala Lintang.
"Bukan, ini bukan salahmu," kata Langit.
"Ini semua salahku karena aku tidak pernah mau mendengarkan dan mengerti perasaan Guntur. Aku bahkan tidak pernah tahu kalau dia dulu sering mengalami KDRT. Aku Ayah yang gagal," lanjut Langit. Lintang menggelengkan kepala kuat-kuat.
Langit melengkungkan bibir. Dia kembali mengusap puncak kepala Lintang penuh kasih.
"Terima kasih ya, Lintang. Sekarang tidurlah, sudah malam. Besok kamu harus sekolah."
Lintang mengangguk. Dia kemudian naik ke lantai dua. Sebelum masuk kamar dia masih sempat melihat Langit yang mondar-mandir di ruang keluarga dengan menggenggam ponsel di tangannya. Wajah Langit terlihat sangat cemas.
***
Sebulan sudah Guntur pergi dari rumah. Langit hampir stress. Setiap malam setelah Chandra tidur, dia selalu menyempatkan berkeliling kota dengan naik mobil. Siapa tahu saja dia tiba-tiba bertemu dengan Guntur di pinggir jalan. Cowok itu bahkan melaporkan hilangnya Guntur pada polisi.
__ADS_1
Hal yang sama juga dirasakan oleh Lintang yang merasa bersalah. Awalnya Lintang menemani Langit mencari Guntur setiap malam, tapi lama-lama Langit kasihan karena Lintang jadi kurang tidur dan tidak mengajaknya pergi lagi. Belum lagi di sekolah, semua orang juga bingung karena Guntur tiba-tiba menghilang. Terutama di kelas seni musik, karena Guntur termasuk pentolan di ekskul tersebut.
Vina dan Alif juga menanyakan di mana keberadaan Guntur pada Lintang. Lintang menjawab dengan jujur bahwa Guntur pergi dari rumah, tetapi saat sahabatnya bertanya alasannya, gadis itu hanya berkata bahwa itu adalah masalah keluarga yang tidak bisa diceritakannya. Untungnya Vina dan Alif mau mengerti dan tidak bertanya lebih jauh.
Tidak hanya Langit dan Lintang, kepergian Guntur juga dirasakan oleh anggota keluarga Langit yang lain. Surya turut membantu mencari dengan memberi info pada rekan-rekannya sesama pemulung dulu untuk menghubunginya jika melihat Guntur.
Si kecil Chandra yang tidak bisa membantu apa-apa selalu bertanya tentang keberadaan Guntur setiap hari pada anggota keluarga lainnya dan mengatakan bahwa dia sangat merindukan Guntur.
Awan sebenarnya tidak terlalu tertarik dengan pencarian Guntur. Tapi karena semua anggota keluarga mencemaskannya, mau-tak mau Awan jadi merasa bertanggung jawab untuk turun tangan juga. Dia pun ikut membantu mencari Guntur.
Suatu hari Lintang memberi usul untuk membuat poster pencarian Guntur. Semua orang setuju dengan ide itu. Akhir pekan itu pun dihabiskan keluarga Langit dengan menempelkan poster pencarian Guntur di tepi-tepi jalan.
Surya dan Chandra menempelkan poster pencarian Guntur di taman kota. Tiba-tiba Surya merasakan HIV alias Hasrat Ingin Vivis. Karena Surya sudah sepuh, maka Surya tidak bisa memendam rasa itu terlalu lama. Dia berpamintan pada Chandra untuk menyalurkan hasratnya itu.
"Chan-chan, Kakek mau pipis dulu ya. Kamu tunggu di sini sebentar," pinta Surya. Chandra mengangguk .
Surya lalu berlari ke semak-semak, sementara Chandra duduk di salah satu bangku taman dan menunggunya.
Tiba-tiba di kejauhan Chandra melihat Guntur yang berjalan sambil membawa gitar. Chandra terkesiap saat menyadari kehadiran saudaranya itu.
"Guntul!!!"
__ADS_1