Fake Family (END)

Fake Family (END)
Episode 90


__ADS_3

"Stalker?" ucap Guntur.


Langit mengangguk. "Sebaiknya kamu jangan biarkan Lintang pulang sendirian. Kalau bisa antarkan dia pulang dulu sebelum dia pulang kerja."


Guntur termenung sejenak. Siapa sih yang usil menguntit adiknya itu? PadahalĀ  masih cantikan....


Guntur menepuk jidatnya dengan frustrasi. Tidak! Tidak! Barusan dia mikirin siapa sih. Sejak kapan juga dia peduli cewek itu cantik apa nggak.


"Apa kamu nggak paranoid aja?" tanyanya pada Langit. Ayahnya itu memang kadang-kadang lebay dan over protektif.


"Aku lihat sendiri Lintang dikejar-kejar," kukuh Langit.


"Tapi kenapa dia nggak cerita sama sekali tentang ini? Atau jangan-jangan orang yang mengejarnya itu mau nagih hutang?"


"Itu nggak mungkin. Semua hutangnya sudah kulunasi."


Guntur mengangkat bahu. "Barangkali ada hutang dia yang nggak kamu tahu? Mungkin dianya sungkan mau cerita karena kamu sudah banyak bantu dia?"

__ADS_1


Langit memegangi dagunya. Perkataan Guntur itu masuk akal. Jika memang, itu stalker, seharusnya Lintang menutupi hal itu. Kenapa dia justru menutupinya? Jika memang dia punya hutang lagi, dengan sifat Lintang yang seperti itu, bisa jadi dia sengaja menyembunyikannya karena tidak ingin merepotkan Langit. Meskipun begitu. Dia masih merasa cemas.


"Apa pun itu, tolong kamu antarkan dia pulang dulu sebelum kamu berangkat kerja untuk dua hari ini. Karena aku cukup sibuk, aku nggak bisa jemput dia."


"Okelah," angguk Guntur akhirnya. Meskipun dalam hati dia kesal. Mestinya dia bisa berangkat kerja bareng Vina. Kalau dia harus mengantar Lintang dulu, Vina pasti lebih memilih naik gojek saja. Tapi karena ini titah dari Langit dia tak dapat menolak.


Tunggu! Kenapa juga dia jadi pengen berangkat bareng dengan Vina? Guntur mengacak-acak rambutnya. Hari-hari ini dia sering sekali berpikiran aneh-aneh.


"Kak Guntur!" terdengar panggilan Lintang dari ruang tengah. Gadis itu muncul dengan senyuman manis di dapur tempat Guntur dan Langit sedang berdiskusi.


"Kenapa lama sekali? Ayo kita berangkat," ajaknya.


Guntur dan Lintang menyalami tangan Langit. Karena sudah menjadi sebuah kebiasaan, Lintang bahkan sudah tidak canggung lagi. Padahal Langit masih ingat bagaimana Lintang awalnya menolak untuk menjalankan tradisi itu.


Setelah itu, dua remaja itu menuju bagasi. Langit memandangi kepergian anak-anak angkatnya itu dengan cemas. Dia masih merasa tidak puas. Siapa orang itu sebenarnya? Kenapa dia menguntit Lintang? Langit meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Halo, Igo?"

__ADS_1


"Halo, Bos, ada kerjaan?" sapa seseorang di seberang telepon.


"Bisakah aku minta kamu menyelidiki seseorang?" tanya Langit


"Siapa?"


Langit terdiam sejenak. Dia baru sadar bahwa dia tidak tahu siapa orang itu. Kalau dia menyebutkan ciri-cirinya saja apa informannya ini akan tahu? Namun reputasi informannya ini sudah sangat terkenal di kalangan para pengusaha Kota Surabaya. Bahkan dia bisa menemukan kembali barang-barang yang telah hilang dan dicuri.


"Aku tidak tahu siapa namanya," aku Langit. "Tapi dia biasanya mengikuti putriku. Mungkin kalau kamu mengikuti putriku juga. Kamu akan bertemu dia. Rambutnya keriting agak gimbal, berkumis dan berjanggut. Ada tompel di pelipis kanannya. Umurnya sekifar empat puluh tahun."


"Hm, baiklah. DP ditransfer dulu yak!"


"Ck! Mata duitan!" olok Langit. Namun karena dia benar-benar khawatir maka dia pun terpaksa mengiyakan.


"Jika kamu sudah mendapatkan informasi tentang siapa orang itu segera beritahu aku," ucap Langit sembari mengirimkan foto resi mbanking-nya.


"Siap, Bos!" seru suara dalam ponselnya penuh semangat.

__ADS_1


***


__ADS_2