
"Lho kakek bukan ayah kandung Langit?" tanya Lintang.
"Memangnya kami terlihat mirip?" Surya balik bertanya.
Lintang nyengir. Memang sih, agak mustahil orang dengan tampang pas-pasan seperti Surya bisa punya anak seperti Langit yang wajahnya mirip Lee Dong Wook itu. Lintang lalu ingat kata-kata Langit tadi pagi yang mengatakan bahwa kedua orang tuanyanya meninggal saat dia masih SMA.
"Jadi Kakek...."
"Sama sepertimu, ayah palsu, dia memungutku dari jalan dan menjadikanku ayahnya."
Lintang melongo mendengar kata-kata Surya itu, meski sudah menduganya.
"Rasanya masih sulit percaya juga kalau mengingatnya. Dua tahun lalu aku hanya seorang pemulung. Aku biasa memulung di Sungai Brantas, lalu aku bertemu dengannya hari itu..." Surya bercerita sambil menerawang memandang langit.
__ADS_1
"Aku sering memulung di depan rumahnya yang dulu, bukan di sini. Dia pria yang baik dan sering memberiku barang-barang bekas yang masih berfungsi. Suatu hari aku tumbang karena sakit saat bekerja, dia memergokiku dan mengantarku ke Puskesmas. Setelah aku mendapat obat, dia lalu mengantarkan aku pulang ke rumah. Saat itulah dia baru tahu bahwa aku tinggal sendiri. Mungkin karena merasa iba pada orang tua sepertiku, yang sedang sakit tapi tinggal sendiri, dia menawarkan diri agar aku tinggal di rumahnya. Awalnya aku pikir dia bercanda, tapi setelah itu dia datang setiap hari. Akhirnya tahu-tahu aku sudah di bawa masuk ke dalam rumah yang nyaman ini."
Lintang terdiam dan mendengarkan cerita Surya dengan saksama. Dia tak menyangka ternyata pria di hadapannya itu punya kisah yang hampir sama dengan dirinya. Sebulir air mata mengalir dari pelupuk mata Surya membuat Lintang terkejut. Surya segera menghapus air matanya itu dengan malu.
"Maaf ya, aku sedikit melankolis," kata Surya.
"Ah ... tidak apa-apa, Kek," ucap Lintang tersenyum.
"Aku ... tak pernah berpikir bisa hidup nyaman seperti ini lagi. Jauh setelah istriku meninggal dan anaku yang merantau ke Jakarta tak pernah kembali. Bisa makan setiap hari saja aku sudah merasa cukup. Mungkin ini konyol tapi aku senang berada di sini. Enam orang asing tinggal dalam satu rumah dan berperan seperti keluarga. Meskipun hanya pura-pura, ini membuat laki-laki tua yang kesepian sepertiku sangat bahagia."
Lintang tertegun mendengar kata-kata Surya itu. Rasanya ada satu kalimat yang ganjal. "Tunggu dulu enam orang asing? Lalu Tante?"
"Sama, Lintang, Awan juga kakak palsunya Langit," jawab Surya.
__ADS_1
Lintang menatap Surya tak percaya. Jadi semua orang yang tinggal di dalam rumah ini sebenarnya tak ada yang memiliki hubungan darah? Mereka semua tinggal di sini karena dibawa oleh Langit? Lintang benar-benar tak percaya.
"Orang seperti apa Langit itu sebenarnya?" kata Lintang.
"Oh dia itu bukan orang, Lintang," kata Surya sambil tersenyum.
"Dia itu Malaikat."
Lintang termenung. Dia menyesap cokelat panasnya sembari memandangi Surya yang tampak tenang. Pria itu tampaknya serius dengan apa yang baru saja dia katakan. Seberapa besar jasa Langit sampai Kakek menyenbutnya sebagai malaikat?
Lintang sadar. Ketika Langit membantunya lolos dari rentenir hari itu, bahwa Langit adalah orang baik yang selalu peduli pada orang lain. Tapi kenapa? Kenapa dia membentuk keluarga palsu ini?
***
__ADS_1