Fake Family (END)

Fake Family (END)
Episode 95


__ADS_3

"Dulunya Ayahku adalah seorang pria yang baik dan menyayangi keluarganya. Namun suatu hari ditipu oleh rekan bisnisnya sehingga bangkrut. Setelah itu, ayah kecanduan alkohol dan dia sering memukuli kami."


Guntur tertegun mendengar cerita dari Lintang itu. Kisah itu tak jauh berbeda dengan hidupnya sendiri. Ketika menoleh ke belakang, Guntur menyadari bahwa di masa lalu dia juga punya kenangan indah bersama sang ayah. Itu jauh sebelum ayahnya kena PHK. Himpitan ekonomi yang menjadi stresor, membuat almarhum ayahnya juga melarikan diri pada alkohol. Lalu dia berubah menjadi sangat pemarah.


"Lalu kenapa dia bisa masuk penjara?" tanya Langit.


"Karena kasus penipuan. Ayah terlibat dalam kasus penipuan MLM. Dia dijatuhi vonis penjara empat tahun. Begitu beliau ditahan, aku dan ibuku bisa hidup dengan tentram. Namun ibuku akhirnya meninggal karena jatuh sakit. Hutang puluhan juta yang membuat aku bertemu denganmu, kemungkinan itu juga adalah warisan dari ayahku."


"Dalam data base perusahaan, ibumu menyebutkan bahwa suaminya telah meninggal," kata Awan.


Lintang mengangguk. "Benar, kami mengalami banyak tekanan dari tetangga setelah ayah ditangkap. Ejekan dan olokan menjadi makanan sehari-hari. Aku juga sempat mengalami perundungan di sekolah. Ibu akhirnya memutuskan pindah dari Malang Ke Surabaya. Di sini kami memulai hidup baru dengan menyembunyikan masa lalu kami."


Lintang berhenti bicara sambil menatap lantai. "Aku pikir ayah tidak akan bisa mencariku sampai ke sini. Ternyata aku salah. Sebenarnya aku juga tidak tahu kenapa dia mencariku."

__ADS_1


Langit mengelus puncak kepala Lintang dengan penuh kasih. "Hari ini cukup melelahkan, bagaimana kalau kita istirahat lebih awal?"


Lintang mengangguk dan tersenyum.


***


Lintang dan Guntur sudah kembali ke kamar mereka. Chan-chan juga sudah dibaringkan di ranjangnya. Sementara para tetua keluarga, Langit, Awan dan Surya masih duduk bersama di ruang tengah.


"Mungkin dia butuh uang? Bagaimana kalau dia kita beri uang saja?" usul Awan.


"Tapi dia bahkan rela menyakiti Lintang hanya untuk pelampiasan amarahnya saja, kan?" tuduh Awan.


"Orang yang kecanduan alkohol tidak akan bisa berpikiran dengan jernih," kata Surya. "Bisa jadi dia melakukan hal itu secara tidak sadar."

__ADS_1


"Lalu bagaimana? Apa kita mau membiarkan begitu saja dia merebut Lintang? Kalian rela Lintang diasuh oleh ayah pemabuk yang suka memukuli putrinya?" amuk Awan.


Langit mengernyit. Membayangkannya Lintang terluka membuatnya dadanya seketika sesak. Tentu saja dia tidak mau hal semacam itu terjadi.


"Aku harap masalah ini bisa diselesaikan dengan kekeluargaan," kata Surya.


Langit mengangguk. "Aku akan mengusahakannya. Besok aku akan menemui Pak Darmanto lagi."


Di lantai dua, Guntur rupanya mendengarkan pembicaraan para tetua itu. Guntur meremas tangannya. Jika pria itu memang berniat menyakiti adiknya Guntur tidak akan tinggal diam. Dia tidak akan membiarkan keluarganya terluka.


Namun Guntur terdiam tatkala mengingat ekspresi Lintang yang berkali-kali mencegahnya ketika Guntur hendak menghajar ayahnya. Mata Lintang yang tulus itu tampak takut. Ya, walau bagaimanapun pria itu adalah ayahnya. Mungkin Lintang masih menyimpan rasa simpatik pada pria itu. Guntur memandangi langit-langit. Dia membayangkan apa yang terjadi seandainya ayahnya masih hidup. Dulu ketika melihat mayat ayahnya yang tewas akibat overdosis miras, hanya satu hal yang dia rasakan, yaitu lega. Jika ayahnya masih hidup, mungkin saja, Gunturlah yang sudah tidak ada di dunia ini.


Guntur menghela napas. Orang tua, mengapa mereka melahirkan kita jika akhirnya menyakiti kita? Sampai hari ini pun Guntur belum bisa memaafkan almarhum ayahnya.

__ADS_1


***


__ADS_2