
"Guntul!!!" Chandra berteriak memanggil Guntur. Tapi karena jarak mereka cukup jauh darinya, pemuda itu sama sekali tak mendengar suara Chandra.
Chandra bangkit dan berlari mengejar Guntur. Karena hari ini adalah akhir pekan, taman kota itu cukup ramai dan penuh dengan orang. Chandra kecil kesulitan berlari dan menabrak-nabrak banyak orang hingga jatuh beberapa kali dan menangis.
Seorang pria paruh baya menghampiri Chandra. Dengan ramah pria itu bertanya, "Kamu nggak apa, Dik? Kenapa menangis?"
"Aku jatuh ... sakit," rengek Chandra.
"Oh, kasihan." Pria itu membantu Chandra berdiri. Chandra pun tersenyum senang.
"Telima kasih, Paman," katanya riang.
"Aku sedang mencali Guntul. Aku pelgi dulu." Chandra berpamitan pada pria paruh baya itu.
"Paman tahu di mana Guntur berada."
__ADS_1
Chandra memandang pria itu dengan senyuman lebar khas anak-anaknya.
"Benelan?" tanya Chandra.
"Iya dong, Ayo ikut Paman," kata Pria itu sambil tersenyum.
***
Guntur merasa tenggorokannya terasa sakit. Kakinya juga lelah. Seharian dia mengameb untuk mencari uang. Cowok itu duduk di salah satu bangku taman dan beristirahat. Guntur tertegun saat melihat poster pencarian dirinya yang ditempel di pohon tempatnya berteduh.
Guntur mencabut poster yang menempel di pohon itu dengan paksa kemudian merobeknya. Cowok itu menyandarkan kepalanya di pohon dan melamun. Selama sebulan ini dia telah kembali pada kehidupannya setahun yang lalu sebelum dia bertemu dengan Langit. Guntur mengingat pertemuan pertamanya dengan Langit yang membuatnya menjadi anak angkat Langit setahun lalu.
Saat itu dia benar-benar kelaparan dan tidak punya uang sepeser pun. Dia masuk ke sebuah mini market dengan niat mencuri sebungkus roti namun ternyata dia ketahuan oleh pegawai mini market dan hampir dipukul.
Saat itu entah dari mana Langit tiba-tiba muncul dan menolongnya. Langit tiba-tiba mengaku bahwa dia adalah Ayah Guntur. Dia meminta maaf pada pegawai mini market itu lalu belanja banyak barang di mini market itu sebagai permintaan maaf.
__ADS_1
Guntur benar-benar bingung saat itu. Dia bahkan tidak mengenal Langit, tapi Langit mau membantunya. Setelah mereka keluar dari mini market itu Guntur bertanya pada Langit.
"Siapa kamu? Kenapa kammu membantuku?"
Sambil tersenyum Langit menjawab. "Aku juga pernah melakukan hal yang sama denganmu dulu, tapi saat itu tidak ada yang menolongku. Aku dihajar habis-habisan. Untungnya penjaga toko itu cukup baik untuk tidak melaporkanku pada polisi. Aku hanya tidak ingin kamu mengalami hal yang sama denganku."
Setelah peristiwa itu, Langit menawarkan pada Guntur untuk ikut dalam permainan rumah-rumahan yang sedang dilakukannya bersama Surya, Awan dan Chandra. Entah atas dorongan apa, Guntur menerima tawaran itu, mungkin karena dia tidak punya uang atau karena dia merasa berhutang budi pada Langit.
Tiba-tiba di kejauhan Guntur melihat si kecil Chandra sedang mengobrol dengan seorang pria paruh baya yang tidak dikenalnya. Guntur memicingkan mata.
"Itu kan Si cebol, dia bicara dengan siapa?"
Guntur diam dan terus mengamati mereka dari kejauhan. Chandra tampak berbicara pada pria itu dengan gayanya yang ceria seperti biasa. Dia kemudian mengikuti pria paruh baya yang asing itu. Guntur menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kuat lalu membuang muka.
"Mungkin saja itu anggota keluarga baru Langit. Tidak perlu dihiraukan. Aku sudah bukan lagi bagian dari keluarga konyol itu!" tegas Guntur pada dirinya sendiri. Namun Guntur kembali melirik Chandra dan pria asing yang telah melangkah cukup jauh itu dengan cemas.
__ADS_1
***