Fake Family (END)

Fake Family (END)
Episode 61


__ADS_3

Makanan yang dipesannya datang. Lintang pun sibuk melahap steak dan milkshake kesukaannya. Saat gadis itu sedang asyik makan, Guntur naik ke panggung musik yang ada di tengah Kafe.


Cowok itu sudah berganti baju dengan memakai jas yang lebih keren. Dia kemudian duduk di kursi di tengah panggung itu di depan piano yang ada di sana. Semua perhatian pengunjung Kafe pun teralihkan padanya.


"Lagu ini khusus dipersembahkan untuk Mbak Shinta di meja enam dari Mas Raka."


Guntur mulai menekan tuts-tuts piano di depannya dan mulai menyanyi.


Dengarkanlah wanita pujaanku


Malam ini akan kusampaikan


Hasrat suci kepadamu dewiku


Dengarkanlah kesungguhan ini


Aku ingin...mempersuntingmu...


Tuk yang pertama... dan terakhir...


Jangan kau tolak dan buatku hancur


Ku tak akan mengulang tuk meminta


Satu keyakinan hatiku ini


Akulah yang terbaik untukmu


Dengarkanlah, wanita impianku


Malam ini akan kusampaikan


Janji suci satu untuk selamanya

__ADS_1


Dengarkalah kesungguhan ini


Aku ingin...mempersuntingmu...


Tuk yang pertama... dan terakhir...


Jangan kau tolak dan buatku hancur


Ku tak akan mengulang tuk meminta


Satu keyakinan hatiku ini


Akulah yang terbaik untukmu


Akulah yang terbaik untukmu...


Seluruh pengunjung Kafe bertepuk tangan karena suara merdu Guntur dan permainan piano yang luar biasa indah. Mbak Shinta di meja nomer enam pun sampai menangis karena terharu dan langsung menerima lamaran dari pacarnya.


Karena suara Guntur yang merdu, beberapa pelanggan di meja lain pun mulai melakukan request padanya untuk menyanyikan lagu-lagu lain. Dengan sabar Guntur menuruti permintaan mereka dan menyanyikan lagu yang diinginkan para pelanggan itu satu persatu.


Setelah menyanyikan sekitar enam lagu dan tidak ada yang melakukan request lagi, Guntur pun turun dari panggung dan menghampiri meja Lintang.


"Aku nggak tahu kalau Kakak juga bisa main piano dan bernyanyi, suara Kakak merdu sekali!" puji Lintang.


"Cepat habiskan makananmu dan pulang, sekarang sudah jam delapan malam," kata Guntur sambil melihat jam tangannya.


"Eh? Tapi aku mau menunggu Kakak sampai pulang."


"Aku masih kerja sampai jam sepuluh, kalau sudah selesai WhatsApp, aku mau ke dapur dulu,"


Lintang memonyongkan bibir dengan kesal. Dia lalu melahap sisa makanannya. Setelah selesai makan, Lintang mengirim pesan pada kakaknya. Guntur mengatakan pada kasir bahwa dia yang akan membayar pesanan Lintang. Pemuda itu lalu ijin untuk menemani Lintang sampai mendapatkan taxi untuk pulang ke rumah.


"Aku bisa pulang sendiri kok," kata Lintang saat berdiri di depan pintu lift, dia menolak diantar sampai ke bawah.

__ADS_1


"Ini sudah malam, banyak orang-orang yang usil," kata Guntur.


Lintang tersenyum. Dia tidak pernah tahu sebelumnya bahwa Guntur adalah orang yang perhatian. Pintu lift terbuka, masuk masuk ke dalamnya. Lift itu dalam keadaan kosong, mereka hanya berdua di sana.


"Terima kasih karena waktu itu sudah menolongku," kata Guntur.


Lintang tertegun. Dia lalu memandang Guntur, cowok itu tidak tersenyum tapi memandangnya dengan gugup. Baru pertama kali itu Lintang melihatnya begitu.


"Waktu itu?"


"Kamu merawatku waktu aku sakit." Guntur mengingatkan.


Lintang ber-oh dan mengganggukan kepala. "Kita kan keluarga, itu sudah sewajarnya."


"Terima kasih, kamu sudah mengkhawatirkan aku," lirih Guntur, dia menundukan kepalanya.


"Dan ... maaf karena aku sudah melakukan hal yang tidak senonoh padamu."


Lintang tersenyum kecil. "Kita lupakan saja semua itu kak."


Guntur menerawang dan memandang ke langit-langit lift.


"Jujur saja, bagiku kata 'keluarga' itu sampai sekarang masih tetap saja terdengar konyol," akunya.,


"Tapi tidak buruk juga, kan?"


Guntur tersenyum mendengar pertanyaan Lintang itu dan mengangguk setuju. "Iya."


Tiba-tiba lift bergoncang dan lift berhenti, lampu lift pun mati. Lintang dan Guntur terkesiap.


"A-ada apa ini? Lift-nya macet?" Guntur meraba-raba tombol panel di lift dan menekannya dengan asal-asalan namun lift tidak menyala. Lintang menggedor-gedor pintu lift dengan panik.


"Tolong! Tolong keluarkan kami! Kami terjebak di dalam!" seru Lintang.

__ADS_1


__ADS_2