
"Awas kamu ya berani begini lagi! Kupecat kamu!" ancam Langit benar-benar marah.
"Ampun Tuan, Saya berjanji tak akan melakukannya lagi," geleng Awan.
Lintang tak tahu harus prihatin atau tertawa melihat tingkah alaynya. Tapi rasanya Lintang juga akan ketakutan kalau dimarahi seperti itu oleh Langit. Padahal Langit jarang sekali marah.
"Sudah deh, ayo cepat turun dan makan," kata Langit akhirnya.
Langit meninggalkan kamar Awan sambil masih berusaha menghapus make up Chan-chan yang menor.
"Langit sampai semarah itu ya," kata Lintang.
"Dia itu jarang marah, tapi kalau sudah marah jangan harap bisa hidup. Pokoknya jangan sampai mengganggu Chan-chan deh, bisa habis dihajar," kata Awan sambil mengusap keringat dinginnya.
Lintang mengangguk mengerti. Setelah membersihkan make up karena merasa risih, Lintang turun ke ruang makan. Semua anggota keluarga sudah berkumpul kecuali Guntur yang sepertinya belum datang.
Lintang mengamati kebiasaan-kebiasaan kecil keluarga barunya di meja makan. Awan seperti bisa hanya makan sedikit dan lebih banyak minum kopi dan merokok. Surya lebih banyak membaca Koran dari pada makan. Sementara Langit, dia sepertinya tidak akan makan sebelum Chandra menghabiskan semua makanannya, padahal Chandra itu makannya sangat sulit dan lebih suka berlari-lari, benar-benar ayah yang perhatian.
__ADS_1
Setelah lama berkejar-kejaran akhirnya, Chandra mau makan juga, namun hanya sekitar empat sendok makan saja setelah itu dia sibuk berlarian lagi. Langit dengan sabar terus merayunya agar mau makan dengan berbagai rayuan seperti "Ayo makan yang banyak, biar cepat besar," atau "Ayo makan biar tambah tinggi, biar nggak sakit," dan lain sebagainya.
Namun dasar Chandra, sama sekali tidak tertarik dengan gombalan Langit. Dia malah asyik menyanyikan lagu Barney kesukaannya yang sudah hapal diluar kepala.
"I love you! You love me! We are happy family, with the grab big hug and a kiss for me to you, would you say you love me too....,"
Awan hanya geleng-geleng kepala mendengar suara nyanyoan Chandra yang ceria itu.
"Wah Chan-chan, kamu kecil-kecil sudah hapal lagu erotis begitu ya...," kata Awan sambil tertawa.
"Erotis itu apa?" tanya Chandra dengan wajah lugunya.
"Erotis adalah....."
"Awan! Kamu mau kuhajar ya! Jangan mengajari Chandra yang enggak-enggak!" bentak Langit. Awan hanya nyengir. Lintang dan Surya terbahak. Lintang baru pertama kali melihat adegan semacam ini. Lintang merasa bahwa peran Awan dan Langit sepertinya terbalik.
Setelah acara makan selesai dan mencuci piring. Lintang duduk-duduk gazebo yang ada di taman belakang sambil melihat kolam ikan dan bintang yang terlihat terang di langit malam yang cerah.
__ADS_1
"Mau coklat panas Lintang?" tawar Surya yang muncul dari dalam rumah sambil membawa dua buah mug di tangannya. Lintang menerimanya dengan senang hati.
"Terima kasih, Kek."
Lintang senang sekali saat coklat yang manis agak pahit itu lewat di mulutnya. Gadis itu merebahkan diri di lantai gazebo sementara Surya duduk di sampingnya.
"Bagaimana, Lintang? Apa kamu senang tinggal di sini?" tanya Surya.
Lintang tersenyum kecil "Aku hampir nggak menyangka. Baru kemarin aku kelabakan cari uang dan menggembel karena diusir dari kosku, tapi hari ini aku bisa berbaring dengan nyaman di gazebo ini," akunya.
Surya melengkungkan bibir dan meminum coklat panasnya. "Dunia memang berputar dengan cepat. Dua tahun lalu aku juga sama. Hanya seorang gembel yang mengais rejeki di sampah dan sekarang duduk di sampingmu sambil minum coklat panas."
Lintang tertegun mendengar kata-kata Surya itu. Dia bangun dan menoleh ke arah Surya.
"Lho kakek bukan ayah kandung Langit?" tanya Lintang.
"Memangnya kami terlihat mirip?" Surya balik bertanya.
__ADS_1