
"Sudahlah, aku sudah tidak nafsu makan. Ayo kita pulang saja, Ayah."
Lintang menggandeng tangan Langit dan mengajaknya keluar dari restoran. Bos gendut terus memanggil mereka tapi Lintang tidak memerdulikannya. Lintang mengajak Langit memasuki mobil. Begitu berada di dalam mobil tawa Lintang menggema.
"Kamu lihat bagaimana wajah orang itu tadi? Dia panik sekali, Dasar bodoh!" kata Lintang di sela tawanya.
Langit tak ikut tertawa. Sorot matanya menatap Lintang dengan nanar sehingga Lintang akhirnya menghentikan tawanya dan berdeham-deham.
"Aku tidak tahu di mana bagian yang lucu," kata Langit. "Apa kamu puas? Apa kamu senang melihatnya panik seperti itu?"
"Aku hanya ingin sedikit mengerjainya. Dia itu suka menindas orang yang lebih lemah. Sekali-kali biar dia merasakan hal seperti ini!" kata Lintang sambil tersenyum puas.
"Jadi kamu senang melihatnya panik seperti itu?" tuduh Lagit. Sorot matanya yang tajam serasa menghujam ke jantung hati Lintang. Lidah Lintang menjadi kelu, dia tak mampu berkata-kata.
"Kamu senang menindasnya karena sekarang dia lebih rendah darimu? Apa bedanya kau dengan dia? Apa pun alasannya, kita tidak boleh menyakiti hati orang lain, apa lagi dengan sengaja," tegas Langit.
__ADS_1
Lintang terdiam kemudian menundukan kepalanya dan mulai senggukan. Langit terperanjat karena gadis itu tiba-tiba menangis.
"A-apa salah kalau aku sedikit membalasnya? Dia memecatku saat aku sangat butuh pekerjaan hanya karena aku terlambat lima menit!" keluh Lintang.
"Seandainya... seandainya hari itu dia tidak memecatku. Seandainya aku bekerja seperti biasa. Aku akan dapat uang, aku tidak akan diusir dari kos, aku tidak akan makan sampah saking laparnya dan aku tidak akan dikejar rentenir sialan itu!" desah Lintang frustrasi. Lintang membenamkan wajahnya pada kedua tangannya.
"Apa aku salah? Apa aku tidak boleh membalasnya sedikit saja?" Lintang menangis tersedu-sedu sambil menggerutu.
Hati Langit terasa terkoyak medengar keluhan gadis itu. Langit meletakkan tangannya di atas kepala Lintang dan membelai lembut gadis itu. Lintang tertegun, sentuhan sederhana itu entah mengapa membuat dadanya jadi terasa hangat.
Lintang berhenti menangis dan memandang Langit tak mengerti mengapa Langit menyalahkan dirinya sendiri.
"Seharusnya hari itu aku membawamu pulang, bukan hanya memberimu kartu nama. Akulah yang salah, karena aku kamu jadi menderita, maafkan aku."
Lintang tertegun mendengar permintaan maaf Langit yang tampak tulus itu. Langit tersenyum manis padanya. "Ayo kita makan di tempat langgananku saja," kata Langit riang.
__ADS_1
Lintang mengangguk dan menghapus air matanya.
***
"Katanya nggak sibuk tapi ternyata balik kerja lagi," gerutu Lintang pada dirinya sendiri sambil memasuki pintu gerbang rumahnya. Setelah selesai makan siang Langit langsung mengantar Lintang ke rumah dan balik lagi ke kantor.
Surya dan Chandra sedang asyik berkebun di saat Lintang datang. Surya memotong rumput dengan alat pemotong rumput, sementara Chandra duduk di bangku taman dan mengamatinya.
"Oh, sudah pulang Lintang," sapa Surya saat menyadari kehadiran cucunya itu.
"Iya, Kek," sahut Lintang sambil tersenyum. Lintang merasa agak canggung dengan ayah Langit itu.
"Kalau begitu ganti bajulah dulu, kalau lapar ada kue di kulkas dapur," kata Surya.
"Iya, saya masuk dulu," pamit Lintang.
__ADS_1
Gadis itu memasuki rumah. Kepalanya serasa berdenyut-denyut begitu melihat ruang tamu. Segala macam barang yang berserakan di sana. Sebagai seorang wanita sejati, Lintang tak bisa tinggal diam melihat semua itu.