
"Kak," sapa Guntur pada Roki ketika mereka bertemu di tempat parkir.
"Hei," sapa Roki sembari tersenyum. Bersama kedua lelaki itu kemudian masuk ke dalam lift. Ada Vina di sana. Gadis itu tampak semringah ketika melihat Roki.
"Kak Roki, lama nggak kelihatan," ucapnya.
"Iya nih, sibuk ngerjain skripsiku. Aku harus lulus tahun ini," keluh Roki.
"Sudah selesai skripsinya sekarang?"
"Belum sih, kurang dikit lagi."
Guntur terdiam melihat dua orang itu yang bicara dengan akrab. Sejak kapan sih mereka sedekat ini? Guntur melihat senyuman manis Vina yang terkembang setiap kali mendengar gurauan dari Roki. Kenapa ekspresinya berbeda sekali dengan ketika cewek itu bicara padanya? Entah kenapa Guntur jadi merasa kesal. Apalagi dua orang itu mengobrol sendiri tanpa melibatkannya seolah dia adalah manusia transparan.
"Oh ya, Guntur, aku dengar kamu katanya mau keluar ya?" tegur Roki.
"Ya," jawab Guntur singkat tanpa menoleh.
"Kenapa?" tanya Roki penasaran.
"Disuruh ayahku."
Guntur melirik Vina. Senyuman gadis itu bertambah lebar.
__ADS_1
"Wah, sayang sekali ya Guntur," ucapnya. Namun Guntur menyangsikan kalau Vina benar-benar kecewa. Senyumannya itu benar-benar lebar. Kayaknya dia justru bahagia banget. Dia bahkan sudah tidak memanggil Guntur dengan Kak lagi. Kurang ajar banget.
Pintu lift terbuka. Roki pun melangkah keluar bersama Vina diikuti oleh Guntur. Mereka masuk ke dalam kafe lewat pintu belakang dan menyapa Erlan yang sudah ada di sana. Vina mengganti bajunya di ruang loker. Cewek itu tertegun ketika melihat sebuah kotak makan di dalam tasnya.
"Aduh," keluahnya. Setelah selesai mengganti baju, Vina keluar sembari membawa kotak makan itu. Kebetulan sekali dia berpapasan dengan Guntur yang juga baru keluar dari ruang ganti dan loker pria.
"Anu," panggil Vina.
Guntur berhenti dan menoleh pada gadis itu dengan wajah datar. Dengan canggung Vina menyodorkan membuka kotak makan yang dia bawa dan menyodorkannya pada Guntur.
"Apa ini?" tanya cowok itu sembari memandangi beberapa buah croissant di dalam kotak makan yang disodorkan Vina padanya.
"Ucapan terima kasih karena kemarin udah nganterin aku pulang," ucap Vina sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Rasanya benar-benar canggung karena dia hampir tidak pernah mengajak Guntur bicara lagi sejak tragedi ditolaknya dirinya sebelum menembak beberapa minggu lalu. Karena Guntur sudah berbaik hati mengantarkan pulang, Vina merasa harus membalasnya. Dia tidak mau punya hutang budi pada Guntur. Namun sebenarnya Vina juga bimbang harus membalas dengan apa. Setahunya, Guntur tidak suka makanan manis. Cewek-cewek yang biasanya memberi kue buatan mereka pada Guntur di sekolah selalu ditolak dengan alasan itu. Karena kebetulan kemarin dia mendapatkan resep membuat croissant keju dari Chef Sandra, maka untung-untungan, Vina mencoba memberikannya pada Guntur.
"Gi-gimana? Enak nggak?" tanya Vina.
"Bisa dimakan," jawab cowok itu dengan wajah datar.
Vina tersenyum semringah walaupun dirinya masih agak bingung. Itu berarti enak bukan ya?
"Eh, apa itu?" tanya Roki yang baru muncul dari pantry sambil menunjuk kue yang dibawa oleh Vina.
__ADS_1
"Croissant keju, Kak, aku belajar bikin di rumah. Mau coba?" tawar Vina.
"Wah, boleh."
Roki hampir saja mengambil kue itu tapi buru-buru ditepis Guntur. Cowok itu merebut kotak makan berisi kue itu dari tangan Vina.
"Katamu tadi ini buat aku," protesnya.
Vina terbelalak tak percaya dengan ucapan Guntur. Iya sih, tadi dia emang bilang begitu. Tapi Guntur sudah ambil tiga biji kan. Dan masih ada tujuh biji di dalam kotak makan yang dibawanya itu.
"Hei, kamu mau habiskan itu semua sendiri! Bagi dong!" ketus Roki.
"Nggak, ini buat aku," tegas Guntur.
"Itu kan masih banyak! Dasar pelit!" geram Roki.
Vina hanya diam dan terbengong-bengong. Ada apa dengan sikap Guntur yang aneh itu. Apa kue buatannya enak banget? Rasa percaya diri Vina jadi meningkat.
"Vin! Gimana tuh, aku kan juga pengen cobain kuemu," rengek Roki karena tak berhasil mengkonfrontasi Guntur.
"Eh." Vina memandangi Roki dan Guntur kebingungan. Guntur memelototinya sehingga Vina merinding ketakutan.
"Aku memang buatkan itu buat dia. Maaf ya, Kak. Besok aja aku bawain lagi," ucap Vina akhirnya.
__ADS_1
Roki tampak kecewa sementara Guntur tersenyum puas.
***