
Langit menggendong Chandra yang tertidur di sofa. Sekelilingnya penuh mayat-mayat yang bergelimpangan. Ada Guntur yang tidur tengkurap di samping kanannya. Awan tidur dengan kepala di bawah dan kakinya di atas sofa. Surya telentang dengan mulut terbuka lebar di sisinya. Lintang tertidur dengan kepala yang bersandar pada meja.
Langit tersenyum melihat keluarganya yang terlelap itu. Dengan hati-hati dia melewati mereka dan masuk ke kamar Chan-chan. Setelah membaringkan Chandra di kasur, Langit kembali ke ruang tengah. Kini yang digendongnya adalah Lintang. Gadis itu begitu ringan sehingga Langit khawatir apa dia makan dengan benar.
Saat menaiki tangga. Kepala Lintang terantuk pegangan tangga. Netra gadis itu membelalak karena nyeri pada kepalanya. Dia lebih terkejut lagi karena kini berada dalam gendongan Langit bagaikan tuang putri.
"Aduh, maaf. Aku membangunkanmu ya." Langit meringis.
"Tu-turunkan aku!" seru Lintang panik.
"Nggak apa, Lintang. Kamu tidur aja lagi."
"Nggak mau! Turunkan!"
Karena Lintang bersikeras akhir Langit terpaksa menuruti perintah gadis itu. Lintang menutupi wajahnya yang merona.
"Aku berat, kan?" tanyanya.
"Nggak kok, justru kamu enteng banget. Kamu makan dengan benar, kan?" Langit balik menegur.
"Nggak mungkin! Aku pasti berat!"
Langit tak menjawab dia hanya terkekeh. "Ya sudah, kamu tidur di kamar ya."
__ADS_1
Baru saja Langit mau berbalik tapi kemejanya ditarik oleh Lintang. Gadis itu tampak gamang.
"Buatkan aku coklat panas," pintanya.
"Oke," angguk Langit sembari tersenyum.
Merek menuruni tangga lagi dan sampai di dapur. Langit membuka lemari dan mengambil kardus coklat yang diminta putrinya. Lintang duduk di meja makan sembari mengawasi punggung lelaki itu. Masih terbayang bagaiman Langit saat mengalami hiperventilasi tadi. Separah itulah fobia yang dia miliki? Bagaimana Langit bisa memiliki fobia semacam itu?
"Ini coklatnya, Tuan putri." Langit menyodorkan segelas coklat pada Lintang. Dia lalu duduk di samping putrinya itu dan mengamati Lintang yang sedang minum.
"Enak?" tanya Langit.
Lintang mengangguk kecil. Dia memandangi ayah angkatnya itu sejenak dengan ragu, namun akhirnya bertanya, "Sejak kapan kamu menderita autophobia?"
"Apa itu rahasia? Aku nggak boleh tahu?" tanya Lintang.
Langit tersenyum dan menggeleng. "Nggak, hanya saja aku bingung karena baru pertama cerita kelemahanku ini pada orang lain."
Langit memandangi meja cukup lama sebelum akhirnya mulai bicara. "Setelah orang tuaku meninggal, aku tinggal sendirian di rumah cukup lama. Saat itu aku sakit sampai tidak kuat berjalan untuk menyalakan lampu rumah saat malam. Di tengah kegelapan yang pekat aku tertidur lalu aku membayangkan, apakah aku akan mati seperti sendirian seperti ini? Kenapa tidak ada orang yang datang dan menolongku? Aku benar-benar takut."
Hati Lintang mencelus mendengarkan cerita Langit itu. Ternyata Langit yang terlihat kuat, pernah mengalami kejadian seperti itu.
"Setelah itu, aku tidur di kolong jembatan bersama para tunawisma. Meskipun dingin, tapi rasanya lebih baik daripada aku harus tidur di rumah sendirian," lanjut Langit.
__ADS_1
"Berarti itu sudah lama sekali," komentar Lintang.
Langit mengangguk. "Fobiaku memburuk setelah aku bercerai. Ketika aku pulang ke rumah dan melihat semua lampu mati aku sadar bahwa aku sendirian lagi. Akhirnya aku memilih tidur di kantor. Di sana ada beberapa satpam yang berjaga jadi aku masih merasa sedikit tenang. Hingga suatu pagi saat aku pulang ke rumah untuk mengambil baju, aku melihat keranjang berisi bayi yang diletakkan di depan rumah."
"Itu Chan-chan?" tanya Lintang.
Langit mengangguk dan tersenyum. "Chandra adalah malaikat kecilku. Berkat dia fobiaku tidak pernah kambuh. Sekarang aku lebih bersyukur karena kalian ada di sini. Walaupun hanya sementara saja. Aku bahagia."
"Kenapa sementara?" tanya Lintang. Wajah gadis itu terlihat geram.
"Suatu saat nanti kamu akan menikah. Begitu juga Awan, Guntur, dan Chanchan. Kakek juga mungkin akan pergi. Kalian tidak akan selamanya tinggal di sini."
"Aku nggak akan pergi!" seru Lintang. Dia menggenggam tangan Langit dengan erat.
"Aku nggak akan meninggalkanmu."
Langit tertegun sejenak kemudian tersenyum. Dia meletakkan tangan kanannya di puncak kepala Lintang dan mengelus rambut gadis itu.
"Terima kasih, Lintang."
***
__ADS_1