
Karena merasa terlalu mahal kalau naik taksi, Lintang pulang ke rumah dengan naik bus. Setelah oper bus dua kali, bertanya pada semua orang yang ditemuinya di jalan, memanfaatkan fasilitas GPS di ponselnya dan juga sempet nyasar dua kali akhirnya Lintang pun sampai di rumah jam tujuh malam.
Sekarang Lintang sadar sepenuhnya mengapa Langit selalu meluangkan waktu untuk menjemputnya setiap hari. Rumah mereka memang letaknya sangat jauh dari peradaban. Rumah dalam kondisi gelap gulita saat Lintang sampai di rumah.
"Kok gelap, belum ada yang pulang ya?" Lintang bertanya-tanya dalam hati. Gadis itu membuka kunci pintu kemudian masuk ke dalam rumah. Setelah menyalakan lampu ruang tamu, lintang terkejut dan hampir melompat karena melihat Guntur terbaring di sofa. Sinar lampu yang cukup terang membuat Guntur tersadar dan segera bangun.
"Kakak ... bikin kaget saja, kok gelap-gelapan?" tanya Lintang.
"Aku ketiduran," jawab Guntur singkat.
Dia meninggalkan Lintang lalu masuk ke dalam kamarnya di lantai dua. Lintang mengelus dadanya yang masih merasa kaget. Cewek itu melepas sepatunya, meletakannya di dalam rak dan menggantinya dengan sandal selop.
Tepat saat Lintang lewat di ruang tengah, telepon rumah berdering. Lintang menghampirinya dan mengangkat gagang telepon.
"Hallo."
__ADS_1
"Hallo, Lintang." Suara Kakek yang mendayu-dayu terdengar dari gagang telepon diiringi suara celoteh Chandra sebagai backsound.
"Kakek?" tanya Lintang.
"Iya, hari ini Kakek nggak pulang ya. Kakek mau ke Cangar bareng-bareng temen-temen mancing Kakek. Kita mau menginap di Batu, Chandra maksa ikut juga nih. Kebetulan besok minggu, kan, jadi kakek bawa aja dia sekalian. Tolong bilang ke Langit ya."
"Iya Kek, tapi hari ini Langit juga nggak pulang. Katanya ada rapat mendadak di Yogja," terang Lintang.
"Oh gitu ... ya udah, kakek telepon ke Langit aja. Chan-chan mau ngomong?" Surya menawari Chandra, namun tampaknya tak mendapat respon dari anak kecil itu.
"Bye, Kek, selamat bersenang-senang."
Lintang meletakan kembali gagang telepon ke tempatnya. Belum ada dua meter gadis itu melangkah, benda itu kembali berbunyi. Kali ini terdengar suara Awan dengan alunan musk disko sebagai latar.
"Hallo."
__ADS_1
"Hai, Lintang, Tante hari ini nggak pulang yah. Bilang sama orang rumah Tante lembur," ucap Awan.
"Lembur di mana ada musik disko begitu?" tanya Lintang.
"Oh ... Hei, kecilkan! Kecilkan!" Terdengar suara Awan yang panik minta musik untuk dikecilkan sehingga suara musik disko pun tidak terdengar lagi. Awan berdeham-deham dulu sebelum bicara kemudian tertawa renyah.
"Hehehe ... ini di kantor kok Lintang, kita cuman dengerin musik aja biar nggak stress." Awan berusaha meyakinkan, tapi tawanya yang canggung malah makin menegaskan kebohongannya.
"Hm ... iya deh, percaya aja. Langit nggak ada nih katanya rapat mendadak ke Yogja. Kakek juga ke Batu bareng teman-teman mancingnya," jelas Lintang.
"Oh gitu ya, Hohohohohoho... Ya sudah kalau begitu, selamat jaga rumah ya Lintang, bye Sayang, muach!"
Lintang meletakan gagang telepon di tempatnya sambil geleng-geleng kepala. "Dasar kalau mau nipu yang pinter dikit kek," oloknya.
Sejenak Lintang terdiam dan membeku. Langit tiba-tiba pergi ke Yogja karena ada rapat. Kakek dan Chandra pesiar ke Batu. Si Banci lagi seneng-seneng sama teman-temannya. Itu berarti dia hanya berdua di rumah ini dengan Guntur! Oh My God!
__ADS_1