
Seluruh keluarga sedang berkumpul di rumah sore hari itu. Guntur dan Chandra sedang bermain PS di depan TV. Sudah sekitar sepuluh kali mereka bermain dan Guntur selalu kalah. Guntur jadi kesal dan uring-uringan sendiri karena dia tidak bisa mengalahkan anak umur lima tahun itu.
Awan seperti biasa duduk diatas karpet sambil menggambar berbagai macam desain sambil bersiul-siul lagu cinta. Surya duduk di atas sofa sambil membaca koran. Langit sibuk di dapur, cowok itu sedang memasak untuk makan malam sementara Lintang menyapu di ruangan yang sama. Lintang melirik Langit yang sibuk memasak, dengan ragu-ragu Lintang pun bersuara.
"Langit, malem minggu besok aku boleh keluar?" tanya Lintang.
Langit yang sedang memotong-motong wortel menghentikan aktivitasnya dan memandang Lintang.
"Ke mana?"
"Nonton di 21, lagi ada film bagus."
"Sama siapa?"
"Sama temen."
"Cewek?"
"Cowok."
Sing!
Waktu tertasa terhenti setelah kalimat terakhir Lintang semua anggota keluarga menghentikan aktivitasnya dan menoleh ke arah Lintang dengan tatapan ingin tahu. Lintang jadi keder karena ditatap seperti itu oleh kelima laki-laki di hadapannya itu. Awan langsung histeris dan berlari mendekati Lintang.
"Liiintaaang! Kamu mau kencan ya?!" kata Awan histeris.
"Bu-bukan kencan kok! Cuma nonton film bareng!" elak Lintang.
__ADS_1
Awan memutar bola matanya. "Ya Ampun Lintang, Cewek-cowok jalan berduaan itu namanya kencan!"
"Wah, Lintang udah gedhe ya! Sudah memulai kisah cinta di SMA." Surya ikut menimpali.
Surya dan Awan sudah seperti ibu-ibu arisan yang histeris menggodai Lintang bikin Lintang jadi jengah dan malu. Lintang menoleh ke arah Langit. Cowok itu tidak bereaksi masih diam sambil menggenggam pisau dapur di tangannya.
Surya dan Awan ikut-ikutan menoleh ke arah Langit. Keduanya lalu tersenyum jahil dan mendekati Langit.
"Gimana, Ayah? Apa kamu akan mengijinkan putrimu pergi berkencan?" tanya Awan.
"Atau kamu adalah tipe ayah kolot yang tidak mengijinkan putrinya bergaul dengan lelaki?" tanya Surya.
Langit menggenggam erat pisau yang dibawanya kemudian tersenyum.
"Boleh, pergilah, aku bukan ayah yang kolot kok, tapi pulang sebelum jam delapan malam ya," kata Langit dengan senyuman penuh di bibirnya.
Lintang hanya tersenyum mendengar jawaban Langit walau sebenarnya hatinya merasa sakit. Entah mengapa dia tidak merasa senang Langit mengijinkannya pergi. Lintang justru berharap agar Langit tidak mengijinkannya. Sementara itu Guntur yang sedari tadi hanya tercengang dikejutkan oleh suara Chandra yang berteriak riang.
"Menang lagi!"
"Hei curang! Aku lagi nggak konsen!"
***
"Ini desain untuk produk baru kita, apa sudah kamu lihat?" tanya Awan. Sejak jatuh cinta pada guru TK Chanra, si banci kaleng ini tidak pernah memakai cross dressing lagi. Hanya saja gaya berpakaiannya tetap unik. Hari saja dia pakai baju ala Black Butler.
"Iya," angguk Langit sembari membuka-buka berkas di tangannya.
__ADS_1
"Bulan depan Ramadhan ya, jadi kita bakal lauching hijab style," gumam Langit.
Awan mengamati adik angkatnya itu. Dia menyeringai sedikit. "Hari ini Lintang nonton sama pacarnya ya?" celetuk Awan.
Tangan Langit berhenti sejenak. "Katanya bukan pacar kok, cuman temen," elaknya.
"Kita kan nggak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, bisa aja nanti pulang kencan langsung jadian," kekeh Awan.
"Di gedung bioskop yang gelap itu ... apa ya yang kira-kira bakal terjadi? Pegangan tangan? Kalau film horor bisa pelukan. Mungkinkah ciuman? Oh... indahnya masa muda...."
Langit membanting berkas ke atas meja dengan emosi. "Yang ini haromonisasi warnanya bagaimana sih? Perbaikiki yang ini!" amuk Langit tiba-tiba.
Awan tertawa kecil dan mengangguk dengan patuh. "Baik, Bos."
Langit melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul lima sore. Lintang nonton film dari jam dua siang, kan? Harusnya filmnya sekarang sudah selesai. Dia jadi memikirkan apa yang baru saja di ucapkan si brengsek Awan. Bagaimana kalau Lintang mendapatkan pelecehan di gedung bioskop itu? Langit mengetuk-ngetukan tangannya di meja dengan perasaan was-was. Punya anak perempuan itu ternyata bikin khawatir begini. Kalau dia tiba-tiba datang dan menjemput Lintang apa anak itu bakal kesal karena ayahnya menganggu kencannya? Apa dia bakal kelihatan seperti ayah yang kolot? Padahal Langit sudah sangat berupaya untuk bersikap terbuka. Langit akhirnya bangkit dari kursinya. Dia tidak tahan lagi. dia harus menemui Lintang untuk mengenyahkan segala pikiran buruk ini.
"Mau ke mana, Bos?" tanya Awan.
"Boker!" jawab Langit ngasal. Kalau dia mengaku dia mau menjemput Lintang, Awan pasti menertawakannya.
"Kontakmu ketinggalan." Awan melemparkan kontak mobil di atas meja kepada adik angkatnya itu.
Langit menerima kontak dengan tertegun. Padahal dia sudah jelas-jelas bilang mau boker doang kok malah dikasih kontak. Kayaknya si Awan sudah tahu tujuan dia mau ke mana. Masa bodohlah!
"Makasih!" jawabnya cepat kemudian bergegas keluar dari ruang kerja. Meninggalkan Awan yang terpingkal-pingkal di paling punggungnya.
***
__ADS_1