
"Anak Brengsek! Mau lari ke mana kamu sekarang?!" Oorang-orang itu dengan senyum beringas mereka.
Guntur membulatkan tekad. Tidak ada hal lain yang bisa dilakukannya selain melawan orang-orang itu. Mereka mulai menghajar dan memukuli Guntur.
Guntur berusaha membalas pukulan mereka namun Chandra yang berada dalam dekapannya jadi kena sasaran, Akhirnya Guntur hanya merunduk dan melindungi Chandra. Dia menerima semua pukulan dari empat orang itu dengan pasrah. Chandra menangis, dia ingin membantu Guntur tapi tak ada yang bisa dilakukannya dengan tangan dan kaki yang terikat.
"HENTIKAN!!!" Tiba-tiba terdengar suara yang lantang dan menggelegar.
Empat pria itu berhenti dan menoleh ke asal suara. Rupanya Langit, Awan, dan Surya berdiri dalam jarak lima meter dari mereka dengan garang.
"Siapa kalian? Kalian mau ikut campur urusan kami?" tanya salah seorang preman itu sambil mencibir.
"Jangan berani menyentuh anakku lagi! Atau kubunuh kalian semua!" hardik Langit.
Langit dan Awan berjalan menghampiri empat orang itu tanpa rasa takut. Para preman itu juga mendekat. Mereka terlibat dalam perkelahian sengit, sementara Surya merapati Guntur dan Chandra yang sudah babak belur. Kakek igu melepaskan ikatan pada seluruh tubuh Chandra dan memeluk anak kecil itu.
__ADS_1
"Kamu tidak apa-apa kan, Sayang?" tanya Surya.
Chandra mengangguk sambil menahan air mata ketakutan. Surya menoleh pada Guntur.
"Kamu juga baik-baik saja, kan? Ayo kita pergi."
Surya bangkit dan menggendong Chandra. Guntur ikut bangkit dan mengikutinya. Guntur menoleh ke belakang dan melihat Langit dan Awan yang bertarung dengan empat orang itu. Wig yang biasa dipakai Awan sudah menghilang entah ke mana sementara wajah Langit juga sudah babak belur. Guntur tidak bisa meninggalkan dua orang itu sendirian.
"Ayo kita pergi, Guntur." Surya mengingatkan.
"Kakek pergi saja dengan Chandra, aku tidak bisa meninggalkan mereka."
Surya tidak bisa mencegahnya. Badannya sudah terlalu tua untuk ikut campur perkelahian anak muda, dan lagi dia juga harus segera membawa Chandra pergi dari tempat itu, akhirnya Surya berjalan pergi.
Awan dan Langit yang sedang sibuk bertarung terkejut saat melihat Guntur ikut bergabung dan berkelahi bersama mereka.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan di sini bocah tengik?!" bentak Awan.
"Cepat ikut Ayah pergi, Guntur," pinta Langit.
"Tidak akan!" tegas Guntur. Tanpa menggubris Awan dan Langit, cowok terus berkelahi dengan salah seorang preman dengan serius. Namun preman itu jauh lebih kuat darinya dan Guntur kalah.
Dia terkena pukulan preman itu yang tepat mengenai ulu hatinya. Rasa sakit luar biasa yang dirasakannya membuat Guntur mundur ke belakang. memanfaatkan kelengahan Guntur preman itu hendak memukulkan balok bayu yang dipegangnya. Guntur tak sempat menghindar.
"Guntur, awas!" teriak Langit.
Langit berlari secepat tenaga untuk melindungi Guntur. Pukulan preman itu mendarat tepat di bagian kepala Langit dengan keras. Rasa sakit yang luar biasa menjalar di tubuh Langit. Darah segar mengalir dari luka di belakang kepalanya. Langit pun tak jatuh tak sadarkan diri.
Awan yang melihat adegan itu mengamuk dan menghajar para preman itu dengan lebih buas. Sementara Guntur mengguncang-guncangkan tubuh Langit yang terkapar di tanah dengan panik.
"Langit! Langit bangun! Ayah! Bangun Ayah!"
__ADS_1
Guntur mengguncang-guncangkan tubuh Langit tapi Langit sama sekali tidak bergeming. Tak lama kemudian terdengar sirine mobil polisi yang membuat para preman itu kalang kabut.
***