
Lintang segera mengganti seragamnya lalu mulai melakukan operasi kebersihan. Saking kotornya rumah itu, Lintang bingung harus mulai membersihkan dari mana.
Akhirnya Lintang mulai membersihkan dari lantai satu, yaitu dapur, ruang makan dan ruang keluarga yang tidak disekat. Lalu saat membersihkan ruang tamu, pintu terbuka dan Chandra masuk ke dalam rumah.
"Kak Lintang sedang apa?" tanya Chandra dengan tatapan polos.
"Membersihkan rumah," jawab Lintang sambil tersenyum.
Chandra melangkah dengan riang menghampiri Lintang dengan antusias.
"Aku membantu ya?" pinta Chan-chan.
Lintang mengangguk dan tersenyum. Bagi anak umur lima tahun bekerja itu sepertinya adalah hal yang menyenangkan. Chandra pun membantu Lintang membersihkan rumah. Lintang menemukan sebuah kotak dari plastik yang besar dan tidak dipakai. Lintang memanfaatkannya menjadi tempat mainan Chandra.
"Chan-chan kalau habis main, mainannya di masukan di kotak harta ini ya," kata Lintang sambil memberi contoh pada Chandra dengan memasukan salah satu mainan Chandra ke dalam kotak plastik besar itu.
"Di masukan di sini? Untuk apa?" tanya Chandra polos.
"Supaya rumahnya bersih dan mainannya nggak hilang," terang Lintang.
__ADS_1
"Di masukan sini, ya?" Chandra memasukan sebuah mainannya ke dalam kotak plastik.
"Iya! Wah Chan-chan pintar!" puji Lintang.
Karena dipuji, Chandra semakin bersemangat memasukan mainannya ke kotak plastik. Lintang pun senang karena pekerjaannya menjadi ringan.
***
Langit dan Awan sampai di rumah sore menjelang magrib dengan mobil mereka masing-masing. Mereka berpapasan dengan Surya yang sedang merumput seperti biasanya. Pria tua itu memang sangat hobi berkebun, sehingga Langit tak perlu repot-repot menyewa tukang kebun untuk merawat tamannya yang cukup luas. Setelah say hello ke Surya, keduanya menuju pintu rumah mereka.
"Aduh, badanku kenapa sakit semua ya?" keluh Langit sambil memiring kanan dan miring kiri kan kepalanya dan merenggangkan otot punggungnya.
"Sudah tua sih," komentar Awan sambil menyengih.
Kedua sahabat itu lalu membuka pintu rumah. Mereka terpaa saat melihat kondisi rumah yang sangat rapi, bersih dan bersinar.
"Hei, kita gak salah rumah, kan?" kata Awan tak percaya rumah itu adalah rumah mereka saking bersihnya.
"Sepertinya sih begitu. Tadi di depan ada Ayah, kan?" Langit juga tak yakin.
__ADS_1
Keduanya lalu masuk ke ruang keluarga dan melihat Lintang dan Chandra yang sedang menata mainan Chandra ke dalam kotak plastik besar sambil bernyanyi riang mirip lagu Are you sleeping yang liriknya diganti.
"Beles beles, beles beles yang lapi, yang lapi, ayo beles beles, ayo beles beles, yang lapi, yang lapi."
"Lagu apa itu?" kata Langit takjub.
Lintang dan Chandra baru menyadari kehadiran Langit dan Awan. Chandra seperti biasa langsung menghampiri Langit dengan riang gembira. Langit mencium dan menggendongnya.
"Aku membantu Kak Lintang beles-beles, lho!" kata Chandra pamer.
"Wah, pintar sekali!" puji Langit.
Chandra tersenyum senang.
"Kak Lintang pintar menyanyi, Ayah. Aku diajali lagu balu, ayo Ayah sama Tante ikut menyanyi!" kata Chandra semangat.
"Tante ganti baju dulu, ya," kata Awan malas. Dia lalu naik ke lantai atas untuk mengganti bajunya. Tinggalah Langit, Lintang dan Chandra di ruang keluarga itu.
"Rupanya kamu cukup suka anak kecil juga," kata Langit.
__ADS_1
"Iya, apalagi Chan-chan pintar dan super imut." Lintang mencubit gemas pipi Chandra.
"Bagus deh, sebenarnya aku agak kewalahan nih, soalnya yang lain pada malas menemani Chan-chan bermain, kalau aku pulang mereka langsung kabur dan lepas tanggung jawab merawat Chan-chan," kata Langit senang.