Fake Family (END)

Fake Family (END)
Episode 56


__ADS_3

"Assalamualaikum."


Terdengar suara dari pintu depan dan Guntur pun muncul masih dengan seragam sekolahnya padahal jam sudah menunjukan jam sebelas malam. Awan langsung menyipitkan mata.


"Dari mana saja kamu bocah tengik! Baru pulang jam segini?" tegur Awan.


Guntur tidak menjawab. Dia hanya diam sambil menatap Awan. Lintang merasa perang dunia akan segera dimulai. Dia pun mengambil inisiatif untuk mencegah perang itu.


"Baru pulang dari kerja sambilan, Kak?" tanya Lintang sambil tersenyum.


Awan, Surya dan Langit melongo. Guntur mengangguk singkat dan menjawab "Ya."


"He? Kamu kerja sambilan?" tanya Langit.


Guntur melenggut lagi.


"Di mana?"


"Di Kafe C."


"Kenapa?" Langit lagi jadi antusias.


"Ada barang yang ingin kubeli."


"He? Kenapa nggak bilang sama Ayah, barang apa yang ingin kamu beli? Tidak usah kerja sambilan nanti Ayah belikan," tutur Langit.


"Nggak usah," tolak Guntur.


Langit terdiam. Hatinya tampak terluka mendengar jawaban Guntur itu. Dia merundukan kepalanya dengan sedih.


"Oh begitu...."


Awan melirik dengan sinis ke arah Guntur. Lintang mengerjapkan matanya berkali-kali. Tidak! Sepertinya dia sudah mengatakan hal yang tidak boleh dikatakan. Lagi-lagi dia menjadi sumber pertengkaran di keluarga ini. Guntur akhirnya menarik napas panjang kemudian berkata.

__ADS_1


"Aku ingin membeli benda itu dengan uangku sendiri."


Langit menengadah dan memandang Guntur, menunggu Guntur meneruskan kalimatnya.


"Itu adalah benda yang ingin kuberikan pada seseorang. Aku ingin membelinya sendiri," imbuh Guntur.


Wajah Langit langsung berubah jadi semringah. Dia berdiri dan melompat menghampiri Guntur.


"Benda macam apa itu? Apa itu hadiah untuk pacarmu?"


"Bukan."


"Kalau begitu untuk siapa?"


"Kamu akan tahu nanti."


"Ayolah beritahu Ayah, seperti apa orangnya?"


"Sudah jangan Kepo! Alay!" olok Guntur dengan nada kasar, tapi Langit hanya cengar-cengir menanggapi amarah Guntur itu.


***


Guntur duduk di Gazebo halaman belakang rumah sambil memetik gitarnya. Malam sudah larut namun dia masih belum mengantuk. Dia pun memilih menghabiskan waktunya sendiri di Gazebo. Lintang menghampirinya sambil membawakannya segelas coklat panas. Guntur berhenti memetik gitarnya dan memandang Lintang. Lintang tersenyum agak canggung.


"Kakak suka coklat?" tanya Lintang.


Guntur tidak menjawab, dia hanya mengulurkan tangannya, Lintang pun menyerahkan coklat itu pada Guntur. Guntur menerima gelas itu dan meneguk isinya.


"Enak," komentar Guntur.


"Baguslah kalau Kakak suka," senyum Lintang.


Guntur kembali menikmati coklat panas pemberian Lintang sementara Lintang tetap berdiri sambil mengamati ekspresinya. Guntur tersadar Lintang terus berdiri di tempatnya selama hampir semenit dan akhirnya bertanya.

__ADS_1


"Nggak duduk?"


"Boleh?" tanya Lintang senang. Dia kemudian duduk di samping Guntur.


Dua remaja itu pun duduk dalam diam. Guntur memimum coklat panasnya sementara Lintang bingung harus berkata apa.


"Maaf, Kak ... tadi aku keceplosan bilang Kakak kerja sambilan," lirih Lintang.


"Nggak apa, toh cepat lambat mereka juga pasti tahu sendiri," kata Guntur.


Guntur dan Lintang kembali diam. Lintang menarik napas kemudian memberanikan diri bicara lagi.


"Aku pernah bilang kan kalau aku sangat ingin punya seorang Kakak."


Guntur melirik Lintang. Gadis itu berdeham kecil sebelum melanjutkan kalimatnya. "Bolehkah aku menganggap Kakak sebagai Kakakku?"


"Kenyataannya begitu kan," jawab Guntur singkat sambil membuang muka.


Lintang tertegun mendengar jawaban tak acuh itu. Lintang berdeham-deham lagi kemudian berkata.


"Apa Kakak membenciku?"


Guntur terdiam mendengar pertanyaan Lintang itu. Lintang menatap Guntur menunggu cowok itu menjawab. Guntur tidak menatap Lintang, pandangannya tetap lurus ke depan. Perlahan Guntur membuka mulutnya kemudian berkata.


"Aku nggak punya alasan untuk itu."


Lintang tersenyum senang mendengar jawaban Guntur itu. Dadanya pun terasa lega dan lebih lapang.


"Syukurlah," kata Lintang Lega.


"Syukurlah kakak nggak benci aku."


Guntur tidak tersenyum, dia hanya diam dan melirik Lintang yang terus tersenyum tanpa henti. Dari balik tembok Langit tersenyum, dari tadi Langit berdiri di sana dan mendengarkan pembicaraan kedua anak angkatnya itu. Langit bersyukur, Guntur sudah menerima kedatangan Lintang. Guntur juga sudah tidak memicu konfrontasi dengan Awan. Padahal biasanya kalau Awan bertanya dengan kasar seperti tadi, Guntur pasti juga akan menjawabnya dengan ketus. Dan terlebih lagi Guntur sekarang mulai jujur dan membuka dirinya. Guntur bahkan menceritakan alasan mengapa dia bekerja sambilan. Hal yang dulu tidak pernah dilakukannya. Guntur sudah banyak berubah.

__ADS_1


***


__ADS_2