
Sejenak Lintang terdiam dan membeku. Langit tiba-tiba pergi ke Yogja karena ada rapat. Kakek dan Chandra pesiar ke Batu. Si Banci lagi seneng-seneng sama teman-temannya. Itu berarti dia hanya berdua di rumah ini dengan Guntur! Oh My God!
Lintang hampir menjerit dalam hati. Bagaimana ini? Masih teringat jelas dalam ingatan Lintang apa yang terjadi saat dia dan Guntur ada di dalam rumah hanya berdua beberapa hari yang lalu. Guntur memaksa untuk menciumnya! Lalu apa yang akan terjadi lagi sekarang?
"Hei."
Suara ngebas Guntur membuat Lintang kaget sekaligus merinding. Cowok itu tiba-tiba saja berdiri di belakangnya dengan wajah tanpa ekspresi seperti biasa.
"Telepon dari siapa?" tanya Guntur.
"Dari Kakek dan Tante, hari ini katanya nggak pulang. Kakek sama Chan-chan liburan ke Batu bareng teman-teman mancingnya. Tante katanya mau lembur, Langit juga tadi whatsapp katanya ada rapat mendadak ke Yogja jadi hari ini nggak pulang," terang Lintang panjang kali lebar.
"Oh." Guntur hanya ber-oh saja.
"Apa kamu tidak bisa masak sesuatu? Aku lapar."
"Ng ... Eh ... Iya ... di Kulkas ada Kare Ayam sisa sarapan tadi pagi. Kakak mau? Tapi kuhangatkan dulu sebentar," tawar Lintang.
"Hm ... boleh," lirih Guntur. Suaranya terdengar sedikit serak. Cowok berjalan dengan menyeret kakinya. Dia lalu duduk di sofa dan menyalakan TV. Lintang mengerjapkan mata berkali-kali. Jantungnya berdegup melebihi frekuensi biasanya.
__ADS_1
Gadis itu melangkah ke dapur dan membuka lemari es. Dia mengeluarkan setengah panci kare ayam dan meletakannya di atas kompor. Lintang mencuri pandang ke arah Guntur. Cowok itu sedang memindah-mindah saluran TV dengan menggunakan remote. Pandangan matanya terlihat sayu.
"A-aku ke atas dulu ya, Kak, ganti baju," kata Lintang.
"Hm...."
Lintang berusaha untuk tidak berlari saat masuk ke dalam kamar. Dia langsung sibuk mencari ponsel dan mengirim whatsapp pada dua sahabatnya Alif dan Vina.
Lintang: Gila! Org rmh g ada semua!
Aq cuman ber2an sama patung batu itu!Gmn ini?
Alif: Wah hati-hati, Lin. Tutup rapat pintu kamarmu. Cowok-cewek ga sedarah tu bener2 bahaya!
Jawaban Alif itu membuat Lintang jadi panas dingin. Apa sebaiknya dia tetap di kamar saja ya? Tapi barusan kan Guntur mengajaknya makan! Lintang jadi heboh sendiri. Belum hilang kehebohan Lintang , pesan dari Vina masuk.
Vina: Hah! Bagus bgt tu, Lin! Ksempatan! Ayo rayu dy! Smangad!
Lintang melongo membaca whatsapp dari Vina. Cewek ini pasti sudah gila. Lintang tertunduk lemas di lantai. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Setelah mengganti bajunya, dia memberanikan diri keluar dari kamar. Lintang mematikan kompor yang masih menyala karena kari ayam yang dipanaskannya sudah cukup hangat.
__ADS_1
"Kak, Karenya sudah siap," kata Lintang.
"Hm."
Guntur bangkit dari kursi lalu mendekat. Cowok itu mengambil piring di rak, lalu mengambil nasi dan kare ayam dari kompor. Lintang melakukan hal yang sama. Dua remaja itu kemudian duduk di ruang makan sambil menyantap makanan masing-masing dalam diam.
Lintang berusaha menyantap kare ayamnya secepat mungkin,bagar dia punya alasan untuk segera kabur ke kamarnya. Makan terlalu cepat membuat Lintang jadi tersedak, dia sampai terbatuk-batuk. Guntur menuangkan air dari teko ke dalam gelas kemudian menggesernya ke dekat Lintang. Gadis itu tampak tertegun dengan sikap kakak angkatnya itu. Dia mengambil gelas itu dan meneguknya sehingga bisa kembali bernapas normal.
"Makasih, Kak," ucapnya.
"Hm."
Lintang yang sudah selesai makan dengan kecepatan cahaya segera menuju wastafel untuk mencuci piring. Cewek itu sudah tidak tahan terus berdua dalam satu ruangan dengan Guntur. Guntur selesai menghabiskan makanannya danmenghampiri Lintang dengan membawa piring kotor.
"Taruh di situ saja, Kak, biar kucuci." Lintang menunjuk samping wastafel.
Guntur meletakkan piringnya di samping wastafel dan tetap berdiri di belakang Lintang. Bulu kuduk Lintang meremang
Kenapa orang ini di sini terus sih. Batin Lintang tidak tenang.
__ADS_1
Tiba-tiba saja Lintang merasa sesuatu yang berat menimpuknya dari belakang. Guntur bersadar di punggungnya.